BANYUMAS — Perkembangan teknologi informasi dan transformasi digital membawa perubahan besar terhadap kehidupan demokrasi, termasuk dunia jurnalistik. Wartawan dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi sekaligus tetap menjaga objektivitas dan profesionalitas dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Tengah bersama Ketua Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah, Bambang Haryanto Bachrudin, Kamis, 17 September 2026.
Kegiatan yang mengangkat tema “Demokrasi di Era Digital dan Tantangan bagi Pekerja Media” tersebut berlangsung di Aula Kelurahan Purwokerto Lor, Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas.
FGD diikuti wartawan dari berbagai platform media di wilayah Banyumas Raya, mulai dari media cetak, media online, radio hingga televisi. Para pekerja media tersebut berasal dari berbagai organisasi profesi, di antaranya PWI, AJI, IJTI dan PRRSNI.
Dalam kegiatan tersebut, Bambang Haryanto Bachrudin menekankan pentingnya membangun hubungan yang konstruktif antara media dan lembaga legislatif.
Ia berharap media dapat menjadi mitra kerja yang saling melengkapi dengan legislatif, khususnya dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai kebijakan dan proses pembangunan di Jawa Tengah.
Menurutnya, legislatif memiliki posisi penting sebagai lembaga yang bersama-sama dengan eksekutif menjalankan fungsi pemerintahan dan membuat kebijakan di tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Karena itu, komunikasi dan kolaborasi dengan media dinilai penting agar informasi mengenai kebijakan publik dapat tersampaikan secara objektif kepada masyarakat.
“Harapannya, kolaborasi dan objektivitas media dapat menjadi partner kerja yang saling melengkapi dengan legislatif sebagai lembaga yang membuat kebijakan bersama eksekutif di Provinsi Jawa Tengah,” kata Bambang dalam kegiatan tersebut.
Transformasi Teknologi Ubah Wajah Media
Ketua PWI Banyumas, Lilik Darmawan, yang menjadi salah satu narasumber, memaparkan sejumlah data mengenai perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi yang telah mengubah pola kerja wartawan dan industri media.
Perubahan teknologi tidak hanya mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, tetapi juga memengaruhi proses produksi, distribusi hingga konsumsi berita.
Dalam kondisi tersebut, wartawan dituntut tidak sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami perubahan perilaku audiens serta tetap berpegang pada prinsip-prinsip jurnalistik.
Sementara itu, pemerhati media massa Yon Daryono, yang juga mantan wartawan dan alumni IIJ Inwent Hamburg, Jerman, serta ICM Den Haag, menguraikan perjalanan transformasi media dari era konvensional menuju media digital dan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurut Yon, perkembangan media saat ini telah memasuki fase baru yang sangat dipengaruhi oleh teknologi, data, AI dan algoritma.
Perubahan tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi perusahaan media dan pekerja jurnalistik.
“Media tidak lagi hanya berhadapan dengan perubahan dari media konvensional menuju digital. Sekarang kita memasuki era AI dan algoritma. Perubahan ini harus diikuti oleh media massa jika ingin tetap memiliki peran dalam membangun demokrasi yang baik,” ujar Yon.
Ia menilai perkembangan algoritma turut menentukan bagaimana informasi ditemukan, dikonsumsi, dan dibagikan oleh masyarakat.
Di satu sisi, teknologi digital membuat informasi dapat disebarkan dengan cepat dan menjangkau masyarakat secara luas. Namun di sisi lain, kecepatan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa informasi yang belum terverifikasi, disinformasi, misinformasi, serta konten yang diproduksi secara otomatis menggunakan teknologi AI.
Karena itu, kemampuan wartawan melakukan verifikasi, menjaga akurasi, memahami konteks dan mempertahankan independensi menjadi semakin penting.
Wartawan dan Masa Depan Demokrasi Digital
Diskusi juga menyoroti posisi media dalam kehidupan demokrasi. Media tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki peran dalam menyediakan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi yang dapat menjadi dasar partisipasi publik.
Di tengah derasnya arus informasi digital, media profesional dituntut mampu membedakan antara informasi yang memiliki nilai jurnalistik dengan konten yang sekadar mengejar perhatian dan lalu lintas pembaca.
Perubahan teknologi, menurut para narasumber, pada akhirnya harus diimbangi dengan penguatan kualitas sumber daya manusia media.
Acara yang dimoderatori Saladin Ayubi, Ketua IJTI Korda Banyumas, berlangsung dalam suasana hangat dan lancar.
Saladin menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi momentum yang penting karena mampu mempertemukan wartawan dari berbagai platform media di Banyumas Raya dengan pimpinan legislatif Jawa Tengah.
Ia menilai forum tersebut menjadi ruang untuk bertukar pandangan, menyampaikan masukan, sekaligus memperkuat komunikasi antara pekerja media dan lembaga legislatif.
“Ini kegiatan yang sangat luar biasa karena Ketua Komisi C DPRD Jawa Tengah mampu mengumpulkan seluruh wartawan di Banyumas. Forum seperti ini penting untuk saling memberi masukan bagi pembangunan di Jawa Tengah,” ujar Saladin.
FGD tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi dapat memperkuat komunikasi dan kolaborasi antara media, legislatif dan masyarakat dalam menghadapi perubahan teknologi sekaligus menjaga kualitas demokrasi di era digital.
Tim Redaksi







