PURWOKERTO – Kabupaten Banyumas sampai sekarang sudah menerima lima sertifikasi warisan budaya tak benda (WBTB), dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Meliputi Getuk Goreng, Calung, Begalan, Lengger, dan Gubrak Lesung.
Kepala Seksi Pengelolaan dan Pelestarian Tradisi Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Mispan mengatakan, tahun ini mengajukan lagi beberapa kuliner dan kebudayaan khas Banyumas, untuk mendapat sertifikat WBTB. Salah satunya yaitu mendoan tempe.
“Tahun kemarin sudah mengajukan, tapi gagal karena kurang kajian akademis,” katanya.
Selain itu yang menjadi kendala saat ini juga dari data awal terciptanya mendoan tempe. Mispan menuturkan, pihaknya mencari referensi dari berbagai sumber. Namun belum dijumpai kapan pastinya.
Dari cerita-cerita berbagai Adipati, dan Kitab Centini ada penjelasan menyantap gorengan. Tapi tidak dijelaskan secara spesifik.
“Kita butuh kepastian hukum, dan Mendoan Tempe Banyumas juga diusulkan ke UNESCO,” imbuhnya.
Tim penilai untuk usulan ke UNESCO, sudah mendatangi Desa Pliken. Sebagai sentra perajin mendoan tempe di Banyumas.
Mispan menuturkan, di Desa Pliken pas untuk validitasi data. Sebab per hari total membutuhkan 15 ton kedelai. Di 50 RT dan sembilan RW, dengan perajin di 640 rumah.
“Kalau Bulan Sura bisa tambah lagi, karena banyak acara yang menghidangkan mendoan tempe,” tuturnya.
Selain mendoan tempe, tahun ini Kabupaten Banyumas juga mengusulkan beberapa kebudayaan dan kuliner, untuk sertifikat WBTB. Meliputi Wayang Bawor, Ebeg, Kentongan, Legenda Kamandaka, dan Jenang. (ely)







