INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Saat Sekitar Menemukan Bahasanya: Menyusuri Catatan Harian, Menafsirkan Pengalaman

Saat Sekitar Menemukan Bahasanya: Menyusuri Catatan Harian, Menafsirkan Pengalaman
Jumat, 16 Oktober 2026

Nur Aini Aulia Yasmin
(Program Studi Bimbingan Konseling Islam, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto)

Suasana di dalam kelas terasa tenang, sementara udara dingin dari AC tidak begitu saya hiraukan. Kamis pagi itu, perkuliahan Bahasa Indonesia di kelas 1 BKI A membahas penulisan puisi. Pikiran saya dan teman-teman masih tertuju pada satu hal: mendapatkan ACC puisi. Di tengah penjelasan dosen, saya mendengar sebuah kalimat yang terus terngiang di kepala: puisi merupakan “puncak perasaan”.

Ucapan dosen tersebut mengingatkan saya pada catatan-catatan tentang luapan perasaan yang telah saya tulis sejak SMP hingga sekarang. Catatan itu tersimpan dalam Dear Diary digital, berisi berbagai hal yang pernah saya rasakan, pikirkan, dan alami. Semuanya masih tersimpan rapi dan bersifat pribadi.

Jika dipikirkan kembali, catatan-catatan tersebut tidak pernah lahir tanpa alasan. Saya cenderung mengungkapkan pikiran dan perasaan secara gamblang. Ketika membacanya kembali, saya menyadari bahwa menulis puisi membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap pengalaman yang melatarbelakanginya. Karena itu, saya perlu belajar memahami pengalaman dan perasaan saya sendiri agar dapat menghidupkannya menjadi puisi.

Menyusuri Catatan Harian

Setelah mengikuti perkuliahan, saya membuka kembali catatan-catatan lama untuk mencari bahan puisi. Setiap kali perasaan muncul, saya segera mulai menyusun puisi. Namun, bahasa yang saya gunakan masih sederhana dan cenderung mengikuti ungkapan dalam catatan harian. Dari proses tersebut, lahirlah beberapa puisi, salah satunya berjudul “Malam Tanpa Rencana”.

Suatu malam, ketika berboncengan dengan seseorang, saya merasa gugup dan sempat memandang bulan. Di tengah perjalanan, saya melihat pedagang cakwe langganan yang masih berjualan hingga malam. Pengalaman sederhana itulah yang kemudian saya tuangkan dalam puisi “Malam Tanpa Rencana”.

Pada malam yang sama, saya membaca tulisan Abdul Wachid B.S. berjudul “Puisi: Bahasa Simbolik yang Menghidupkan Realitas”. Bacaan tersebut membuat saya menyadari bahwa puisi dapat membantu saya memahami kembali pengalaman yang sebelumnya luput dari perhatian.

Menafsirkan Pengalaman

Puisi yang saya buat memang sudah memiliki bentuk. Namun, menemukan bentuk melalui kata-kata ternyata belum berarti proses menulis puisi telah selesai. Saya kemudian memikirkan hal lain: bagaimana orang lain dapat memahami perasaan yang ingin saya sampaikan melalui bahasa yang saya gunakan?

Keraguan itu muncul ketika saya meninjau kembali puisi “Malam Tanpa Rencana” dan mempertanyakan ketepatan bahasa di dalamnya. Apakah saya perlu menggunakan bahasa sastra agar perasaan tersebut dapat tersampaikan dengan baik?

Puisi itu berawal dari catatan harian yang telah tersimpan selama dua tahun. Ketika membacanya kembali, saya menemukan dua larik awal yang pernah saya tulis:

Lelah menghiasi wajah pedagang kaki lima
Malam pun kian terbawa

Kedua larik tersebut ternyata belum sepenuhnya mewakili pengalaman saya. Saya tidak secara khusus mengamati kelelahan pedagang itu. Hal yang benar-benar saya ingat justru keberadaannya yang masih berjualan pada malam hari, padahal biasanya ia sudah tutup pada sore hari.

Saya kemudian bertanya-tanya, mengapa pedagang cakwe justru lebih membekas dalam ingatan saya daripada bulan? Bagi saya, bulan merupakan bagian dari suasana perjalanan bersama seseorang yang membuat saya gugup.

Sementara itu, kehadiran pedagang cakwe yang tidak terduga mengalihkan perhatian saya sehingga saya tidak terlalu larut dalam kegugupan tersebut. Keberadaannya pada waktu yang tidak biasa menjadi penanda konkret dalam ingatan saya. Bukan karena cakwe itu sendiri istimewa, melainkan karena kehadiran pedagang tersebut berkaitan erat dengan pengalaman malam itu.

Dalam tulisan Abdul Wachid B.S. berjudul “Puisi: Membaca Kehidupan dalam Nama Tuhan”, saya menemukan dorongan untuk menggali makna di balik sesuatu yang tampak.

Pemahaman tersebut mendorong saya untuk tidak sekadar mengingat kejadian malam itu, tetapi juga memeriksa kembali larik-larik puisi agar kata-katanya sesuai dengan pengalaman yang saya ingat. Karena itu, saya memilih kata “masih” untuk menegaskan keterkejutan saya ketika melihat pedagang cakwe tetap berjualan pada waktu yang tidak biasa.

Saya kemudian memperbaiki larik-larik tersebut menjadi:

Pedagang cakwe masih berjualan di trotoar
Sementara bulan seolah mengikuti kita berdua

Saya mempertahankan larik “Pedagang cakwe masih berjualan di trotoar” karena lebih sesuai dengan ingatan saya daripada larik sebelumnya, “Lelah menghiasi wajah pedagang kaki lima”.

Bagi saya, ketepatan larik dalam mewakili pengalaman lebih penting daripada sekadar membuatnya terdengar puitis. Sementara itu, larik tentang bulan saya ungkapkan kembali untuk mempertahankan suasana perjalanan bersama seseorang.

Dari proses tersebut, saya belajar bahwa ketepatan kata membantu saya mengungkapkan makna pengalaman yang sebelumnya belum sepenuhnya saya sadari. Menulis puisi bukan sekadar memilih kata-kata yang terdengar indah, melainkan juga menemukan ungkapan yang paling sesuai untuk mewakili apa yang benar-benar dialami dan dirasakan.

Melalui proses menulis puisi, saya belajar bahwa memahami pengalaman tidak cukup hanya dengan mengingat apa yang terjadi, tetapi juga dengan menelaah kembali hal-hal yang membekas di dalamnya.

Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa lingkungan sekitar sebenarnya tidak pernah benar-benar diam. Hal-hal yang semula luput dari perhatian dapat menemukan maknanya ketika pengalaman dibaca kembali dengan cermat melalui puisi.

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Kejurlat XXXVII Piala Ketua DPRD 2026 Resmi Dibuka, 457 Pesilat Berebut Trofi Bergengsi

Selanjutnya

Dari Nusakambangan ke Pasar Internasional, Mocaf Nirbaya Tampil di TEI 2026

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Unit Resmob Polresta Banyumas Ringkus Penjambret di Buntu-Banyumas

Unit Resmob Polresta Banyumas Ringkus Penjambret di Buntu-Banyumas

Jumat, 16 Oktober 2026

Dari Nusakambangan ke Pasar Internasional, Mocaf Nirbaya Tampil di TEI 2026

Dari Nusakambangan ke Pasar Internasional, Mocaf Nirbaya Tampil di TEI 2026

Jumat, 16 Oktober 2026

Saat Sekitar Menemukan Bahasanya: Menyusuri Catatan Harian, Menafsirkan Pengalaman

Saat Sekitar Menemukan Bahasanya: Menyusuri Catatan Harian, Menafsirkan Pengalaman

Jumat, 16 Oktober 2026

Selanjutnya
Dari Nusakambangan ke Pasar Internasional, Mocaf Nirbaya Tampil di TEI 2026

Dari Nusakambangan ke Pasar Internasional, Mocaf Nirbaya Tampil di TEI 2026

Unit Resmob Polresta Banyumas Ringkus Penjambret di Buntu-Banyumas

Unit Resmob Polresta Banyumas Ringkus Penjambret di Buntu-Banyumas

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI

© 2021 indiebanyumas.com