PURWOKERTO – Sebanyak 83.810 unit rumah tidak layak huni (RTLH) di Kabupaten Banyumas belum tertangani. Sejak tahun 2017 lalu, Pemkab Banyumas sementara ini baru menangani 33.187 unit RTLH atau sekitar 28,36 persen dari total 116.997 unit RTLH yang terdata.
Kepala Bidang Pengembangan Perumahan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Dinperkim) Kabupaten Banyumas, Wilopo Untung Handoyo mengakui masih ada PR sekitar 71 persen unit RTLH yang harus segera dituntaskan.
Namun demikian, keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendalanya. Bahkan tahun ini saja, Pemkab Banyumas baru bisa menangani 950 unit RTLH.
“Jumlah itu (950 unit) juga belum keseluruhan dari rencana penanganan RTLH tahun ini. Beberapa penanganan RTLH baru dilakukan di anggaran perubahan nanti,” katanya.
Disebutkan, alokasi penanganan RTLH di Banyumas berasal beberapa sumber. Yakni dari alokasi APBD Kabupaten Banyumas, yang ditarget menangani 350 unit. Namun sejauh ini baru berjalan untuk penanganan 320 unit.
Lalu ada alokasi dari bantuan keuangan provinsi sebanyak 468 unit, namun baru berjalan 297 unit. Dari dana alokasi khusus (DAK) 139 unit, baru berjalan 133 unit. Dan dari kementerian sudah selesai pengerjaan 200 unit, sedangkan 50 unit sedang berjalan.
Wilopo menuturkan, tahun depan akan mendata lagi dengan data primer. Dari 83.810 akan dicek langsung di lapangan. Apakah ada perubahan data seperti pengunduran diri, rumah sudah layak huni, rumah dijual, ganti nama, dan sebagainya.
“Bisa jadi dari total tersebut, separuhnya sudah layak huni,” tuturnya.
Dia pun menambahkan, tidak menutup kemungkinan ada tambahan atau bangunan rumah baru yang masuk RTLH. Namun pihaknya
mengutamakan yang sudah lama masuk antrian.
“Kita tidak membatasi target jumlah RTLH yang perlu ditangani, malah kita targetkan kalau bisa sebanyak-banyaknya,” imbuhnya.
Adapun penilaian RTLH dari lantai, dinding, dan atap. Di mana bangunannya belum permanen. Seperti lantai yang masih berupa tanah, dinding dari anyaman bambu, serta atapnya seng.
Wilopo menyampaikan, bantuan untuk RTLH memenuhi tiga sayrat. Keselamatan bangunan dari gempa, kecukupan ruang untuk anggota keluarga, dan faktor kesehatan dengan dibuat sirkulasi udara yang baik. (ely)







