BANYUMAS – Suasana semarak menyelimuti kawasan Klenteng Boen Tek Bio Banyumas pada Sabtu (16/5/2026). Ratusan peserta mengikuti kirab budaya dalam rangka peringatan 200 tahun kepemilikan tanah serta syukur atas hari jadi tempat ibadah Tri Dharma tersebut.
Kirab berkeliling di seputar jalan kompleks klenteng. Ribuan penonton dari Banyumas hingga luar daerah memadati sepanjang rute, menyaksikan atraksi Barongsai dan penampilan Grup Kentongan asal Desa Kedung Uter, Kecamatan Banyumas.
Bukan Hanya Ulang Tahun Klenteng, Tapi juga Syukur 200 Tahun Tanah
Humas Klenteng Boen Tek Bio Banyumas, Sobita Nanda, menjelaskan bahwa perayaan ini memiliki dua makna penting. Pertama, syukur atas 200 tahun tanah yang ditempati klenteng. Kedua, peringatan hari jadi bangunan klenteng yang telah berdiri 10 tahun setelah direnovasi pasca kebakaran.
“Sebetulnya kita memperingati hari jadi klenteng sekaligus mengucap syukur kepada Mbah Kuasa Bumi karena boleh menempati bangunan ini. Tanah ini usianya 200 tahun,” ujar Sobita.
Ia menuturkan, pada tahun 1990 pihak klenteng menemukan sertifikat tanah berbahasa Belanda yang mencantumkan tahun 1826. Hak atas tanah tersebut tercantum atas nama Cung Hua Cung Hui Gun Gyok Wek Wan, jauh sebelum organisasi Tionghoa seperti THHK lahir.
“Di tanah ini dulunya berdiri bangunan permanen yang digunakan untuk sekolah. Bukan hanya kalangan Tionghoa, tapi juga masyarakat Belanda dan pribumi,” kenangnya.

Sekolah “Dwitunggal” yang Setara untuk Semua Golongan
Sobita menambahkan, sekolah tersebut dijuluki warga Banyumas dengan sebutan Sekolah Dwitunggal. Pemerintah Hindia Belanda menyebutnya Chinese Holland School.
Keunikan sekolah ini adalah keterbukaannya. Murid pribumi diizinkan belajar sampai kelas 6, berbeda dengan sekolah-sekolah Belanda lain di masa kolonial yang hanya memperbolehkan anak pribumi sekolah sampai kelas 2.
“Beda halnya dengan sekolah-sekolah Belanda pada masa kolonial. Mereka hanya boleh sekolah sampai kelas dua, asal bisa baca tulis. Kalau sudah kelas dua ya sudah alumnus,” jelasnya.
Untuk bangunan klenteng yang sekarang, perayaan hari jadi memasuki usia 10 tahun. Klenteng Boen Tek Bio sempat mengalami kebakaran hebat pada 24 Oktober 2012 pukul 01.00 dini hari. Peletakan batu pertama pembangunan kembali dilakukan pada Januari 2013, dan bangunan resmi diresmikan pada 15 Mei 2016.
“2016 kita meresmikan, 2026 kita rayakan lagi. Untuk acara kirab, sebetulnya 2016 kita kirab, 2017 kirab, 2024 kemarin juga kirab, dan tahun ini kita kirab lagi,” kata Sobita.
Ia berharap ke depan pihak klenteng mendapat mandat untuk menggelar kirab setiap tahun.

Kirab Dongkrak Ekonomi: Warung Laku, Hotel Penuh
Selain sebagai bentuk pelestarian budaya dan akulturasi antara Tri Dharma dengan budaya Banyumasan, kirab ini juga berdampak signifikan terhadap ekonomi masyarakat sekitar.
“Kami sangat berharap ada petunjuk dari leluhur agar diizinkan mengadakan kirab seperti ini. Karena ikut membangkitkan ekonomi masyarakat di sekitar kami. Warung-warung laku, hotel-hotel penuh,” ungkap Sobita.
Ia memastikan seluruh hotel di kawasan klenteng sudah penuh sejak sehari sebelum acara. “Tukang parkir juga dapat rezeki,” tambahnya.
Libatkan Seni Lokal, Bukti Akulturasi Budaya
Yang menarik, perayaan ini tidak hanya menampilkan atraksi khas Tionghoa seperti Barongsai dan tandu leluhur bernama Fute Jensen atau Dudikung (malaikat bumi). Panitia juga melibatkan seni budaya Banyumasan, yaitu musik kentongan dari Kedung Uter.
“Kita bersyukur antusiasme penonton melihat barongsai maupun kentongan sama-sama tinggi. Ini membuktikan akulturasi budaya di klenteng ini sudah berlangsung lama,” pungkas Sobita.
Penulis : Tim Indiebanyumas







