14 Februari saya memilih untuk tidak berpesta. Tidak ada valentine, tidak pula demokrasi. Cukup mengingat bahwa hari itu, jatah usiaku berkurang.
Muak rasanya jika tiap kali berpesta, penuh aroma memabukkan, yang muncul adalah pertikaian sesama saudara. Pesta menjadi ajang peluapan dendam kesumat, kemarahan entah pada siapa. Lepas-liar, suka-suka. Pelanggaran hukum, perampasan hak, menjadi hal yang dianggap lumrah. Hujat dan fitnah seolah yang paling tahu kawan-lawan.
Pesta demokrasi terreduksi menjadi demos dan crazy. Rakyat yang menggila. Gerombolan liar meledek aparat. Lalu ketika aparat berbalik bertindak tegas, kalian bersembunyi, ada pelanggaran HAM. Tai kucing. Yang kalian lakukan, jauh lebih bar-bar dari yang dilakukan aparat. Menuduh keberpihakan aparat kepada musuh.
Ing ngarsa sung tuladha. Muncul wajah-wajah tanpa dosa, menawarkan angin surga penuh tipuan mesra. Maka ketika sosok panutan memberi contoh yang tidak elok, pengekornya akan menggila. Tidak ketika sendiri, tapi dalam koloni mereka kian menjadi.
Saya tidak ikut berpesta, karena itu hanya eforia semu. Seolah lepas semua beban. Kala sendiri, muncul aneka masalah hidup yang harus dihadapi. Usah bicara masa depan, esok-lusa pun kita bakal ditinggalkan. Kebersamaan pesta hanya sesaat, waktu ada kepentingan dan sarana bersama.
Dari pesta ke pesta, bukan lagi Vodka, ciu, atau ganja. Kali ini rujak biji kecubung dinikmati ramai-ramai. Riuh menggila. Tak beda lagi perahib, pelacur, pencopet, atau orang suci.
Siapa korbannya? Para pembuat mabuk menumpuk pundi. Dan yang mabuk hanya nasi bungkus, pun kalau kebagian.
__________
Rangga Sujali
Penulis adalah Pemerhati Sosial, Budayawan dan Jurnalis Senior







