![]()
Masih tentang Marhenisme, tetapi bukan ketika ideologi ini menjadi sebuah ajaran yang diciptakan Bung Karno itu lalu seperti apa dalam penerapan kehidupan masyarakat ketika negara ini belum terbebas dari kolonialisme. Meskipun, para pemikir kemudian hari begitu memahami akan Marhaenisme yang begitu relevan dengan kondisi bangsa Indonesia yang riil dipahami sendiri oleh sang Putra Fajar.
Dalam hitungan tak lebih dari 20 Tahun, Soekarno yang telah melalui banyak cerita dalam tiap nafas perjuangan membela bangsa dan negaranya, dilanda sebuah kekhawatiran. Kegalauan itu melanda jiwanya oleh sebab yang sama, tentang kondisi yang terjadi setelah 7 tahun dia sendiri memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 bersama Muhammad Hatta. Kegundahan Bung karno pun tersampaikan tepat pada tahun ke-7 proklamasi kemerdekaan, tepatnya saat peringatan HUT Kemerdekaan pada tahun 1952.
Biasa, dalam pidatonya yang dikenal mampu menyihir rakyat Indonesia dengan kalimat-kalimat yang penuh makna, sarat akan pesan filosofis akan arti kecintaan terhadap bangsa dan negara, Soekarno pada hari itu meluapkan kegundahan terkait situasi negeri berkaitan dengan ekonomi, keamanan dan politik. Ia sadar, sadar betul bahwa persoalan itu pastilah akan menerpa republik berusia amat muda yang baru saja merdeka sepenuhnya. Ya, bahwa proklamasi kemerdekaan sudah diakui dunia 7 tahun lalu ketika dia menyampaikan hal itu, tetapi sejatinya Indonesia baru benar-benar lepas dari belenggu penjajahan tatkala Belanda yang telah ratusan tahun bercokol di tanah airnya baru benar-benar beranjak pada tahun 1949. Selama waktu itulah tercipta perang revolusi yang kita kenal dari mulai agresi militer Belanda I dan II. Kita tentu mampu membayangkan bagaimana luka yang begitu berat akibat dari semua itu.
Belum cukup, bukan hanya dari luar, negara juga berkali-kali diguncang keras dari pemberontakan bersenjata dari dalam, dari mereka yang bahkan sebelumnya adalah pejuang yang ikut mempertaruhkan nyawanya untu mempertahankan kemerdekaan. Maka, siapapun yang sampai mengatakan jika Bung Karno telah gagal dalam membawa negara menuju pada kondisi bangsa yang makmur dan sejahtera maka tidaklah sedikitpun ada suatu kebenaran atas itu.
Kembali pada kegalauan Bung karno ketika berpidato pada 1952, sang Putra Fajar secara gamblang menyebutkan lima krisis yang sedang negara alami, bahkan persoalan itu baginya menjadi persoalan maha berat sebab berpotensi besar terhadap eksitensi negara Republik Indonesia. Kata Soekarno, krisis politik, krisis alat-alat kekuasaan Negara, krisis cara berpikir, krisis moril, dan krisis gezag itulah yang kala itu menjadi momok menakutkan.,
Dalam pidato berjudul Harapan dan Kenjataan, berkata Soekarno:
“Kita ini dihinggapi oleh empat macam crisis. Pertama, crisis politik, yang banyak orang tidak percaya lagi kepada demokrasi; kedua, crisis alat-alat-kekuasaan Negara; ketiga, crisis cara-berfikir dan cara-meninjau; keempat, crisis moril. Sebenarnya kita menderita crisis satu macam lagi, yaitu crisis Gezag”.
Krisis gezag atau turunnya wibawa Negara ditunjukkan pada ketidakpercayaan banyak warga terhadap penyelenggara Negara, lembaga-lembaga Negara, dan simbol-simbol Negara lainnya. Tak ada lagi kepatuhan secara sukarela terhadap otoritas dan hukum-hukumnya. Jika merujuk pada apa yang sedang terjadi dalam dekade belakangan, bukankah Gezag yang disampaikan sang proklamator bak sebuah ramalan yang baginya menakutkan karena hingga hari ini masih menjadi momok menakutkan bagi keutuhan negara ini.
Berbagai peristiwa yang seharusnya sudah tak lagi terdengar oleh rakyat, justru semakin hari kian ramai jadi perbincangan siapa saja seiring perkembangan teknologi yang berlaju secepat kilat. Soal kemunculan paham radikal yang masih saja belum mampu diberantas habis ketika aksi kekerasan oleh mereka tetap terjadi di tanah air, pertikaian antar suku dalam satu bangsa, dan barang tentu adalah tindakan kejam dari seorang anak bangsa yang memiliki kekuasaan atas negara lalu bertindak semena-mena, tentang korupsi, dan kejahatan besar lainnya.
Kegalauan Bung Karno yang terbukti hingga hari ini tetap menjadi persoalan negara republik Indonesia bukan kemudian hanya menjadi kegalauan tanpa upaya yang harus segera dijalankan. Bung Karno adalah penggerak, setiap kata demi kata yang terucap menjadi titah yang oleh segenap bangsa selalu ingin diwujudkan demi kemajuan negara yang baru saja lepas dari belenggu kolonialisme. Dalam pidatonya kala itu, Bung Karno pun menutup kalimat dengan mengutip kalimat bijak seorang filsuf Yunani sebagai sebuah jawaban.
“Seperti dikatakan Aristoteles: Kemerdekaan adalah kecakapan memerintah dan kecakapan diperintah,” demikian Bung Karno membakar semangat setiap jiwa bangsa Indonesia, bukan saja dengan suaranya yang khas menggetarkan, tetapi kalimat demi kalimat yang selalu tak pernah lepas dari makna bagi segenap bangsa Indonesia. (H Bambang Pudjiyanto)






