INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Media Massa, Harapan Kepercayaan dan Kekecewaan

Rabu, 11 Agustus 2021

Dia dijuluki Kekuatan Ke-4 (the fourth estate). Kurang lebih pengertian itu adalah, media massa hadir sebagai kekuatan sosial-politis, tentu saja setelah negara dikelola eksekutif (pemerintahan), legislatif (parlemen), dan yudikatif (lembaga hukum).

The Fourth Estate mengacu pada kapasitas media massa atau pers kala membingkai, belakangan saya sering mendengar kawan pegiat ormas menyebut istilah ‘Framing’. Apa yang media frame? Utamanya adalah isu politik, meski peran langsung dalam sistem jelas tidak ada, tetapi pengaruh sosial terhadap massa hingga saat ini masih cukup penting. Media massa yang berpedoman pada kaidah jurnalistik, masih menjadi harapan ketika dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, media sosial seperti lahir sebagai pengganti media mainstream. Soal media sosial dan konvergensi media massa konvensional sudah pernah saya bahas sebelumnya.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Harapan besar dari publik ketika media sosial yang jelas hadir sebagai wadah informasi dengan kemasan fresh melalui berbagai platform-nya, adalah ketika hoax (informasi bohong) menjadi bahasan di mana-mana. Saya sih maklum, kejenuhan publik terhadap media mainstream yang netralisnya sama sekali tidak dijaga, lebih banyak isi kontes rilis pejabat publik, dan saat itulah media sosial adalah pilihan seragam. Nah, tatkala pilihan itu pun memunculkan masalah, dengan hoax-hoax yang justru seperti dikelola atau ada yang sengaja mengelola, publik pun menaruh harapan lagi kepada media massa mainstream. Setidaknya, media massa tidak semuanya berlaku seperti yang tadi saya sebutkan. Selain itu, peran media sebagai The Fourth Estate wabil khusus di negara kita, telah terbukti dalam berbagai peristiwa besar.

Tetapi, pada era sekarang ketika publik akan kembali mengalihkan pilihannya pada media berbasis karya jurnalistik yang telah berubah dalam menyajikan konsen melalui jaringan internet (media digital), saya pastikan salah besar jika tak memilih dengan cermat.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca

Jumlah media online (siber) saat ini di Indonesia diperkirakan mencapai angka 43.300, tapi yang tercatat sebagai media profesional yang lolos verifikasi hanya 168 media online. Hingga akhir 2014 tercatat ada 674 media radio dan 523 media televisi. Meskipun, Dewan Pers akhirnya juga tidak mengharuskan adanya kewajiban bagi seluruh media telah terverifikasi. Hanya saja, apabila muncul sebuah masalah dengan publik, Dewan Pers tak akan mendampingi media tersebut semisal ketika mengambil langkah mediasi.

Kembali pada peran media massa di tengah kejayaan media sosial yang hingga detik ini pun masih tetap menjadi favorit publik dalam mencari tahu kebutuhan informasinya, sebagai pegiat jurnalistik, dan warga yang belajar akan ilmu itu, saya pribadi sudah semakin susah untuk menjadikan media-media arus utama di Indonesia sebagai tolak ukur bahwa pers yang hadir telah menjawab kebutuhan publik. Belakangan justru saya semakin jelas dalam memperhatikan sikap para jurnalis maupun kebijakan redaksi, mereka sedang sibuk melakukan cara-cara catenacio, bertahan ala gaya sepak bola Italia demi eksistensi.

Dari itulah, penghambaan terhadap publik justru kebalik menjadi penghambaan kepada pemangku kebijakan di setiap lini lembaga pemerintah. Karena dari cara itulah eksistensi yang tak lain soal urusan dapur media, ada harapan. Kita pun akhirnya tak perlu rumit tatkala media-media demen memuat rilis dari setiap instansi negara.

Saya sih khawatir, media yang diharapkan kembali jadi panutan informasi publik lalu kehilangan kepekaan terhadap persoalan publik. Lebih khawatir lagi apabila mereka akhirnya tanpa sadar menerapkan jurnalisme advokasi, atau istilah lain yang lebih gampang adalah jurnalisme rilis. Sebagai pegiat dan orang yang sedang belajar jurnalistik, saya sih punya pilihan.

Juga apabila wadah media dimana saya belajar, berlaku juga menjadi pemantau bersama karya jurnalistik media, yang tadi saya sampaikan itu bisa diartikan sebagai kritik konstruktif. Tetapi ini jelas berbeda tatkala Media-media mainstream sudah mulai mengabaikan asas keseimbangan dalam memberikan ruang kepada narasumber dalam sajian beritanya yang berdampak merugikan hak seseorang maupun kelompok. Bukan hanya nantinya mereka sendiri yang merasakan mengalami blunder dalam menjaga kepercayaan atau trust. Tetapi juga harus berhadapan dengan publik yang jelas siap melawan. Bukan demikian, Kawan?

 

Angga Saputra

Indiebanyumas.com
Pimpinan Umum

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Di Purbalingga Tak Ada Lagi Penyekatan Jalanan di Kota

Selanjutnya

Cuaca Buruk, Nelayan Cilacap Ada yang Nekat Melaut Meski Hasil Tak Maksimal

TERBARU

Hilal Ramadan 1447 H Masih di Bawah Ufuk, Kemenag: Mustahil Terlihat

Hilal Ramadan 1447 H Masih di Bawah Ufuk, Kemenag: Mustahil Terlihat

Selasa, 17 Februari 2026

Sambut Ramadan 1447 H, Wabup Banyumas Dwi Asih Lintarti Ziarah ke Makam Orang Tua

Sambut Ramadan 1447 H, Wabup Banyumas Dwi Asih Lintarti Ziarah ke Makam Orang Tua

Selasa, 17 Februari 2026

Bekas Rumah Dinas Rutan di Banyumas Disulap Jadi Kafe Pemberdayaan Warga Binaan

Bekas Rumah Dinas Rutan di Banyumas Disulap Jadi Kafe Pemberdayaan Warga Binaan

Selasa, 17 Februari 2026

POPULER BULAN INI

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Jumat, 6 Februari 2026

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

Prosesi Kirab Pusaka Hari Jadi Banyumas ke-455 Digelar Minggu, Ini Rutenya

Prosesi Kirab Pusaka Hari Jadi Banyumas ke-455 Digelar Minggu, Ini Rutenya

Jumat, 13 Februari 2026

Selanjutnya

Cuaca Buruk, Nelayan Cilacap Ada yang Nekat Melaut Meski Hasil Tak Maksimal

Penyidik KPK geledah dua lokasi di Purbalingga terkait dugaan korupsi

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com