![]()
Seorang anak laki-laki mengocok minuman bersoda dalam botol plastik berwarna hijau yang katanya bisa meredakan dahaga.
Tetiba semua cairan putih menyembur keluar bagaikan uap panas gunung berapi. WHOOOOSSSHHH, baju dan lantai pun basah. Seekor semut mencium aroma manis pada cairan yang meleleh, kemudian dengan sinyal telepati ia mengirim pesan pada kawan-kawannya. Tidak berapa lama, kawanan semut berbondong-bondong mendatangi sumber aroma. Lalu, mereka berpesta pora menghisap air soda dengan rakusnya.
“Wiih, seger bener ini. Seperti minuman surga. Wah siapa malaikat yang baik hati mengirimkannya yah?” ujar seekor semut ceking.
“Hmm, sudah Kau tak perlu pusing memikirkan siapa yang mengirim. Lebih baik kita sikat habis saja,” semut gendut menimpali sambil mulutnya terus saja menyedot air soda di depannya.
“Ah, baru saja mau diminum sudah tumpah begini, huh!” anak berbaju biru menggerutu karena tidak jadi minum minuman ringannya.
“Yaaa ampuunn Ariiiisss!!! Kamu ini apa-apaan sih!! Emak baru saja selesai ngepel lantai eeh kamu malah numpahin minuman. Lihat tuh jadi banyak semut gitu,” suara perempuan setengah baya menggelegar bagaikan petir.
“Iya Mak, maapin Aris,” anak laki-laki berambut gondrong menundukkan kepala.
“Sudah sana kamu pel lagi lantainya.”
“Iya, Mak,” Aris pun segera mengambil lap pel dan ember berisi air karbol.
“Wah kawan-kawan, bahaya mengancam kita semua. Rupanya ada yang akan merusak pesta kita. Ayo selamatkan diri masing-masing,” seru panglima semut pada para pasukannya. Mendengar perintah pimpinan, mereka lari tunggang langgang. Naas, lap pel bergagang mulai beraksi menggilas lantai penuh semut. Tidak sempat menyelamatkan diri, akhirnya semut-semut itu menemui ajalnya.
Kini, tidak lagi ada pesta, tidak lagi ada kesenangan yang meluap, hanya tinggal semut tergeletak. Tamat sudah riwayat mereka saat lupa diri, saat menikmat makanan yang entah halal atau haram ditelan begitu saja, saat keserakahan penuh nafsu menguasai hatinya.
Sobari membetulkan posisi duduknya. Laki-laki muda itu terkenal di kalangan anak-anak kecil hingga orang dewasa. Selain baik hati, dia juga penyayang anak-anak. Meskipun usianya masih terbilang muda, namun kepiawaiannya mendongeng telah mengantongi jam terbang tinggi.
Siang itu, masih dalam suasana libur sekolah, dia baru saja selesai mendongeng tentang sifat rakus, dikiaskannya dengan kawanan semut yang berpesta pora hingga lupa daratan. Tiap kali dongeng yang dibawakannya selalu menyedot perhatian semua kalangan.
Laki-laki yang akrab disapa dengan Kak Bari adalah seorang pendongeng keliling dari kampung ke kampung, tidak jarang dia mendapat tawaran mengisi di acara ulang tahun anak-anak, bahkan ada salah satu stasiun televisi yang menghubunginya untuk tanda tangan kontrak untuk mengisi salah satu program acara di sana.
Nama Kak Bari si Pendongeng baik hati kian tersohor hingga ke seluruh pelosok negeri. Tapi pribadinya tidak berubah. Dia tetaplah Kak Bari yang baik hati, ramah dan penyayang pada sesama terutama pada anak-anak.
Kak Bari tidak ingin menjadi seperti semut-semut dalam dongeng yang dibawakannya. Baginya ketenaran bukanlah puncak dari kejayaan, namun ketenaran adalah tanggung jawab, amanah yang harus dijaga dan tidak boleh disalah gunakan hanya untuk memuaskan ambisinya.
“Nah, adik-adik. Demikian kisah semut yang serakah dan rakus. Tentunya adik-adik tidak mau kan bernasib seperti para semut itu? Mereka mati akibat ulahnya sendiri,” mendengar kata-kata Sobari anak-anak mengangguk dan saling berlomba menjawab “Tidak, Kaaak,” anak-anak saling bersahutan menjawab.
“Baiklah, kali ini Kakak cukupkan dongengnya untuk hari ini. Semoga kalian bisa mengambil suri tauladan dari dongeng tadi.”
Usai berpamitan, anak-anak bersalaman dan mencium tangan Sobari. Laki-laki itu mengelus kepala tiap anak yang menyalaminya.
Tumiyang, Pekuncen, 05012019
PENSIL KAJOE, lahir dan dibesarkan di Banyumas. Seorang Kolomnis tetap di Majalah Djaka Lodan, Yogyakarta dan seorang pegiat literasi di Komunitas Sastra Pinggiran.





