Nama Led Zeppelin telah terukir sebagai salah satu pilar terbesar dalam sejarah musik rock. Lahir dari sisa-sisa grup band The Yardbirds pada tahun 1968, formasi kuartet yang terdiri dari Robert Plant (vokal), Jimmy Page (gitar), John Paul Jones (bass/keyboard), dan John Bonham (drum) ini langsung menjelma menjadi fenomena.
Dilansir dari Fat Out Magazine, di penghujung dekade 60-an, dengan dua album perdana mereka, Led Zeppelin sukses mengguncang panggung rock dunia dan menjadi pesaing berat The Rolling Stones. Lagu-lagu seperti ‘Good Times Bad Times’, ‘Dazed and Confused’, ‘Whole Lotta Love’, dan ‘Ramble On’ telah melambungkan nama mereka. Namun, puncak kejayaan ternyata masih belum tercapai.
Memasuki era 1970-an, Led Zeppelin merilis album ketiga mereka, Led Zeppelin III. Album ini dibuka dengan dentuman keras ‘Immigrant Song’, sebuah lagu yang sarat dengan nuansa agresif dan militaristik.
Yang menarik, lagu ikonik ini ternyata lahir di dalam pesawat, tepat saat para personel band dalam perjalanan pulang dari Islandia. Meski tidak benar-benar berlayar dengan kapal perang ala Viking, imajinasi mereka terpancing oleh kisah invasi bangsa Nordik tersebut.
“Itu membuat Anda teringat akan Viking dan kapal besar… dan perut John Bonham,” ungkap Robert Plant seperti dikutip dari biografi Led Zeppelin: The Biography karya Bob Spitz. “Dan tiba-tiba, itu ada — ‘Immigrant Song’.”
Meski menjadi salah satu lagu paling dikenal, Plant memiliki pandangan unik mengenai karyanya tersebut. Dalam wawancaranya dengan Vulture pada tahun 2023, vokalis berambut ikal itu menyebut lagu ini sebagai sesuatu yang “konyol”.
“Sayangnya, ‘Immigrant Song’ tidak mudah dimainkan oleh anak-anak. Semua orang memahaminya, baik yang muda maupun yang tua. Ini adalah lagu yang hebat. Tidak hanya sedikit konyol, tapi sungguh konyol,” canda Plant.
Sepanjang perjalanan kariernya, Led Zeppelin tak hanya berhenti pada satu album. Mereka terus melahirkan karya-karya fenomenal dengan eksplorasi musikalitas yang mendalam, mengukuhkan diri sebagai salah satu kontributor terbesar dalam evolusi musik rock.
Hingga kini, warisan mereka tetap abadi, membuktikan bahwa bakat dan kreativitas sejati akan terus menginspirasi generasi demi generasi.
Angga Saputra









