INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

KULIAH: MENGIKUTI KEMAMPUAN ANAK ATAU GENGSI ORANG TUA?

Refleksi atas Jalur Mandiri di PTN Favorit dalam Perspektif Pendidikan Islam

KULIAH: MENGIKUTI KEMAMPUAN ANAK ATAU GENGSI ORANG TUA?
Sabtu, 12 September 2026

Teguh Wiyono, M.Pd,I
Dosen matakuliah Pendidikan Agama Islam di Universitas Amikom Purwokerto

“Kuliah di mana?” Pertanyaan sederhana yang hampir selalu muncul ketika seorang anak menyelesaikan pendidikan Sekolah menengah. Bagi sebagian keluarga, pertanyaan itu bukan sekadar percakapan biasa. Nama perguruan tinggi yang disebutkan kadang menjadi sumber kebanggaan tersendiri, bahkan tidak jarang menjadi ukuran gengsi keluarga. Ketika seorang anak berhasil diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) favorit, orang tua tentu merasa bahagia. Namun, di balik kebanggaan tersebut, ada pertanyaan yang layak direnungkan: apakah anak memilih kampus karena sesuai dengan kemampuan, cita-cita dan minatnya, atau karena orang tua ingin mengejar prestise dari nama besar sebuah universitas?

Pertanyaan tersebut penting karena kuliah bukan sekadar tentang berhasil masuk ke kampus terkenal. Kuliah adalah perjalanan panjang yang akan dijalani oleh seorang anak. Ia yang akan mengikuti perkuliahan, beradaptasi dengan lingkungan akademik, mengerjakan tugas, menghadapi ujian, hingga kelak memasuki dunia kerja. Orang tua memang memiliki peran penting dalam mengarahkan pendidikan anak, tetapi yang akan menjalani seluruh proses itu adalah anak sendiri. Karena itu, keputusan mengenai perguruan tinggi seharusnya tidak hanya mempertimbangkan kebanggaan keluarga, akan tetapi juga kemampuan dan masa depan anak.

Dalam perspektif Islam, pendidikan merupakan bagian dari amanah. Orang tua tidak hanya berkewajiban memberikan pendidikan, tetapi juga membimbing anak menuju kehidupan yang baik. Al Qur’an mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini memberikan pesan bahwa keluarga memiliki tanggung jawab untuk menjaga, mendidik, dan membina anggotanya. Dengan demikian, pendidikan anak semestinya diarahkan kepada kebaikan, pembentukan karakter, dan masa depan yang bermanfaat, bukan sekadar untuk mendapatkan pengakuan sosial.

Persoalan mulai muncul ketika kampus tidak lagi dipandang terutama sebagai tempat menuntut ilmu, tetapi berubah menjadi simbol status keluarga. Tidak ada yang salah ketika orang tua berharap anaknya masuk perguruan tinggi terbaik. Masalahnya adalah ketika ukuran “terbaik” hanya ditentukan oleh seberapa terkenal nama kampus tersebut. Anak akhirnya didorong mengejar universitas bergengsi, sementara minat, bakat, kemampuan, dan kesiapan mentalnya justru kurang diperhatikan. Pertanyaan kepada anak pun berubah. Bukan lagi, “Apa yang ingin kamu pelajari?” tetapi, “Kamu bisa masuk kampus mana?”

Perlombaan Gengsi

Di sinilah pendidikan berisiko berubah menjadi perlombaan gengsi. Nama universitas seolah menjadi merek yang menunjukkan kelas sosial bagi keluarga. Padahal, perguruan tinggi bukan showroom untuk mempertontonkan keberhasilan orang tua. Anak bukan trofi yang dipajang untuk menunjukkan gengsi keluarga. Islam pun tidak menjadikan kemuliaan manusia berdasarkan kekayaan, kedudukan, atau simbol duniawi. QS. Al Hujurat ayat 13 menegaskan bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaannya. Karena itu, memiliki anak yang kuliah di universitas ternama tentu boleh menjadi kebanggaan, tetapi menjadikan nama kampus sebagai ukuran kemuliaan keluarga adalah cara pandang yang keliru dan perlu dikoreksi.

Kita juga perlu mengakui bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang kuat dalam matematika dan sains, ada yang unggul dalam bahasa, teknologi, bisnis, seni, olahraga, organisasi, maupun keterampilan praktis. Tidak semua anak harus berjalan di jalan yang sama. Memaksa seorang anak mengejar perguruan tinggi tertentu hanya karena kampus tersebut terkenal dapat membuat pendidikan kehilangan makna personalnya. Dalam Islam terdapat prinsip bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al Baqarah: 286). Ayat tersebut memang tidak secara khusus berbicara tentang pilihan perguruan tinggi, tetapi memberikan pelajaran bahwa manusia memiliki kapasitas yang berbeda. Karena itu, kemampuan nyata anak harus menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan pilihan pendidikan.

Persoalan menjadi semakin menarik ketika pilihan perguruan tinggi bersentuhan dengan kemampuan ekonomi di keluarga. Salah satu mekanisme penerimaan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi adalah jalur mandiri. Jalur ini pada dasarnya tidak otomatis berarti buruk atau tidak adil. Banyak mahasiswa yang diterima melalui jalur mandiri karena memiliki kemampuan, memenuhi persyaratan, dan mengikuti proses seleksi yang ditetapkan perguruan tinggi. Karena itu, kritik terhadap jalur mandiri tidak boleh berubah menjadi generalisasi bahwa seluruh mahasiswa yang masuk melalui jalur tersebut tidak memiliki kemampuan yang mumpuni.

Jalur mandiri layak dievaluasi

Namun, mekanisme jalur mandiri tetap layak dievaluasi. Masyarakat berhak bertanya apakah biaya pendidikan dapat dijangkau berbagai kelompok masyarakat, apakah proses seleksinya transparan, dan apakah kemampuan serta potensi calon mahasiswa tetap menjadi pertimbangan utama. Pertanyaan semacam ini bukan berarti menuduh bahwa semua jalur mandiri bermasalah. Sebaliknya, kritik tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keadilan dan kepercayaan publik terhadap perguruan tinggi.

Prinsip keadilan memiliki tempat penting dalam Islam. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil” (QS. An Nisa: 58). Dalam konteks pendidikan, ayat tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kesempatan memperoleh pendidikan merupakan amanah yang harus dikelola secara adil dan bertanggung jawab. Jangan sampai kemampuan ekonomi orang tua menjadi faktor yang paling dominan sehingga kesempatan anak untuk memperoleh pendidikan berkualitas menjadi semakin tidak seimbang.

Perbincangan mengenai persoalan tata kelola perguruan tinggi, termasuk kasus yang melibatkan pimpinan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, juga dapat dijadikan momentum untuk melakukan refleksi. Kasus tersebut tentu harus dilihat berdasarkan fakta dan proses hukum yang berlaku. Satu kasus tidak boleh dijadikan dasar untuk menuduh seluruh perguruan tinggi bermasalah. Namun, kasus yang muncul di lingkungan pendidikan tinggi tetap dapat menjadi pelajaran penting tentang perlunya akuntabilitas, transparansi, dan integritas.

Perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena masyarakat memberikan kepercayaan yang besar terhadapnya. Kampus bukan hanya tempat memperoleh ijazah, tetapi juga tempat menuntut ilmu pengetahuan dikembangkan dan karakter intelektual dibentuk. Karena itu, proses penerimaan mahasiswa, pengelolaan biaya pendidikan, hingga tata kelola lembaga harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Dalam Islam, amanah bukan sekadar istilah moral. Amanah merupakan tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan. Rasulullah SAW  bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Prinsip ini berlaku bagi pimpinan perguruan tinggi, pengelola penerimaan mahasiswa, dosen, bahkan orang tua.

Di sisi lain, orang tua juga perlu mengoreksi anggapan bahwa semakin terkenal sebuah kampus, semakin terjamin masa depan anaknya. Reputasi universitas, kualitas dosen, fasilitas, lingkungan akademik, dan jaringan alumni memang hal penting. Tetapi semuanya bukan jaminan keberhasilan seseorang. Jika bidang studi tidak sesuai dengan minat dan kemampuan anak, kampus yang sangat bergengsi sekalipun dapat berubah menjadi beban. Sangat ironis jika orang tua merasa bangga mengatakan bahwa; “Anak saya kuliah di kampus favorit,” sementara anaknya sendiri menjalani kuliah tanpa kebahagiaan dan tanpa motivasi.

Karena itu, memilih perguruan tinggi seharusnya tidak hanya berbicara tentang prestise, tetapi juga tentang maslahat. Kampus yang paling terkenal belum tentu menjadi kampus yang paling tepat bagi setiap anak. Sebaliknya, kampus yang mungkin tidak terlalu populer dapat menjadi tempat yang sangat baik apabila di sanalah seorang anak dapat mengembangkan potensi dan kemampuannya. Pendidikan seharusnya membantu anak menemukan jalan hidupnya, bukan menjadikan anak sebagai alat untuk memenuhi ambisi orang tua.

Boleh mengarahkan tetapi jangan memaksa

Orang tua tentu boleh mengarahkan, tetapi tidak seharusnya memaksakan. Mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan yang dapat membantu anak mengambil keputusan. Orang tua dapat mempertimbangkan biaya, kualitas kampus, prospek pekerjaan, serta lingkungan pendidikan. Namun, semua itu sebaiknya dibicarakan bersama anak. Tanyakan apa yang ia sukai, apa yang menjadi kekuatannya, bidang apa yang ingin dipelajari, dan seperti apa masa depan yang ingin dibangunnya. Dengan demikian, orang tua tetap menjalankan amanah sebagai pembimbing tanpa mengambil alih seluruh masa depan seorang anak.

Anak bukan proyek gengsi keluarga. Orang tua boleh memiliki harapan besar, tetapi harapan tersebut jangan berubah menjadi ambisi yang membebani. Al Qur’an menyatakan, “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” (QS. An Najm: 39). Setiap anak memiliki perjalanan ikhtiarnya masing-masing. Tugas orang tua adalah memberikan bekal, membuka jalan, dan mendampingi perjuangannya, bukan memaksakan seluruh kehendak impian orang tua ke dalam kehidupannya.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai jalur mandiri tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan apakah jalur tersebut harus dihapus atau dipertahankan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: sistem penerimaan seperti apa yang paling adil bagi masa depan anak-anak Indonesia? Jika terdapat kelemahan, perbaiki. Jika pengawasan kurang, perkuat. Jika ada mekanisme yang berpotensi menciptakan ketimpangan, evaluasi. Yang harus diperjuangkan adalah sistem penerimaan yang transparan, objektif, akuntabel, dan memberikan kesempatan yang adil berdasarkan kemampuan serta potensi peserta didik.

Orang tua introspeksi diri

Pada saat yang sama, orang tua juga perlu melakukan introspeksi diri. Jangan sampai anak dipaksa mengejar kampus favorit hanya karena takut kalah gengsi dengan anak tetangga. Jangan sampai keputusan pendidikan ditentukan oleh pertanyaan, “Nanti orang bilang apa?” Sebab yang akan menjalani kuliah bukan tetangga, bukan teman orang tua, dan bukan keluarga besar. Akan tetapi yang akan menjalani adalah anak itu sendiri.

Mungkin sudah waktunya kita mengubah cara bertanya. Jangan hanya bertanya, “Anakmu kuliah di mana?” tetapi tanyakan pula, “Untuk apa ia kuliah, apa yang ia pelajari, dan manusia seperti apa yang ingin ia menjadi?” Pertanyaan itu jauh lebih penting. Sebab pendidikan bukan hanya sekedar tentang tempat seseorang belajar, tetapi tentang manusia seperti apa yang akan lahir dari proses pembelajarannya tersebut.

Pada akhirnya, nama kampus akan menjadi bagian dari masa lalu, sementara ilmu, kemampuan, karakter, dan integritas akan terus dibawa dalam kehidupan kedepanya. Karena itu, kebanggaan orang tua semestinya bukan hanya ketika anak berhasil masuk PTN favorit, tetapi ketika anak tumbuh menjadi manusia yang berilmu, mandiri, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat. Dalam bahasa yang lebih sederhana: jangan memilih kampus hanya agar orang tua bangga ketika menyebut namanya; pilihlah pendidikan yang membuat anak mampu menjalani hidupnya dengan ilmu dan tanggung jawab.

Sebab tugas orang tua bukan membuat anak terlihat hebat di mata manusia. Tugas orang tua adalah membantu anak menjadi manusia yang baik di hadapan Allah dan sesama. Bukan sekadar mengejar nama besar, tetapi membangun masa depan yang besar. Bukan sekadar mendapatkan ijazah, tetapi memperoleh ilmu yang bermanfaat. Dan bukan sekadar masuk kampus favorit, tetapi menjadi manusia yang memiliki integritas setelah keluar dari kampus tersebut.

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Damai, Laporan Dugaan Penganiayaan di Cilongok Akhirnya Dicabut

Selanjutnya

EKONOMI DI KITA BUKAN SEKEDAR PASAR (1)

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Gempa M 5,9 Guncang Jakarta, 8 Kereta Api di Purwokerto Sempat Berhenti Luar Biasa

Gempa M 5,9 Guncang Jakarta, 8 Kereta Api di Purwokerto Sempat Berhenti Luar Biasa

Sabtu, 12 September 2026

EKONOMI DI KITA BUKAN SEKEDAR PASAR (1)

EKONOMI KONSTITUSI BUKAN SEKEDAR PASAR (2)

Sabtu, 12 September 2026

EKONOMI DI KITA BUKAN SEKEDAR PASAR (1)

EKONOMI DI KITA BUKAN SEKEDAR PASAR (1)

Sabtu, 12 September 2026

Selanjutnya
EKONOMI DI KITA BUKAN SEKEDAR PASAR (1)

EKONOMI DI KITA BUKAN SEKEDAR PASAR (1)

EKONOMI DI KITA BUKAN SEKEDAR PASAR (1)

EKONOMI KONSTITUSI BUKAN SEKEDAR PASAR (2)

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI

© 2021 indiebanyumas.com