INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Klenteng Boen Tek Bio Banyumas: Bukti Langka Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa

Klenteng Boen Tek Bio Banyumas: Bukti Langka Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa

Suasana di kawasan Klenteng Boen Tek Bio Banyumas pada Sabtu (16/5/2026). Pada hari itu, ratusan peserta mengikuti kirab budaya dalam rangka peringatan 200 tahun kepemilikan tanah serta syukur atas hari jadi tempat ibadah Tri Dharma tersebut.

Minggu, 17 Mei 2026

Di tengah hiruk-pikuk wisata religi yang cenderung homogen, Klenteng Boen Tek Bio di Banyumas berdiri sebagai bukti nyata akulturasi dan harmonisasi budaya Tionghoa dan Jawa. Keunikan ritual serta kedalaman nilai keharmonisan antarbudaya ini jarang ditemukan di Indonesia.

Berlokasi di kawasan yang dikenal masyarakat setempat sebagai Desa Pecinan (bukan Chinese town), kelenteng ini tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi etnis Tionghoa, tetapi juga menjadi ruang sakral bagi penghormatan terhadap leluhur Jawa.

Dua Kultur dalam Satu Kesakralan

Humas Klenteng Boen Tek Bio Banyumas, Sobita Nanda, menjelaskan bahwa kebanyakan kelenteng di Indonesia hanya mengangkat satu kultur budaya. Namun, Boen Tek Bio berbeda.

“Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas adalah sedikit kelenteng yang ada di Indonesia yang memiliki akulturasi budaya. Ia mengangkat dua kultur budaya dengan kesakralannya masing-masing, yaitu budaya leluhur dari tanah Tiongkok dan budaya Banyumasan atau budaya Jawa,” ujar Sobita.

Pendopo Jawa dan Altar Mbah Kuntjung

Salah satu bukti nyata akulturasi tersebut adalah keberadaan bangunan pendopo bergaya Jawa lengkap dengan atap limasan, rempe-rempe, serta ornamen ukiran yang mengacu pada Keraton Surakarta Hadiningrat. Pendopo ini dibangun pada tahun 1992 berdasarkan petunjuk yang memperbolehkan adanya bangunan tradisional Jawa di area kelenteng.

Setahun kemudian, tepatnya tahun 1993, pihak kelenteng mendapatkan petunjuk adanya energi leluhur asli Banyumas yang dikenal dengan nama Mbah Kuntjung.

“Sejak saat itu, kita mendirikan satu meja sembahyang untuk pendopo, untuk meluhurkan leluhur orang Banyumas, yaitu Mbah Kuntjung. Sampai saat ini kita meluhurkan beliau,” kata Sobita.

Altar Mbah Kuntjung

Ritual Ala Kejawen, Tanpa Daging

Sobita menjelaskan, ritual sembahyang di altar Mbah Kuntjung sepenuhnya mengacu pada budaya Jawa. Sajian yang digunakan adalah jajanan pasar. Karena Mbah Kuntjung diketahui sebagai leluhur yang vegetarian, maka tumpeng kuning yang disajikan pun tanpa menggunakan daging.

Prosesi ibadah juga menggunakan kemenyan, kembang telon, serta dupa berwarna hitam dengan gagang merah, yang merupakan jenis dupa yang biasa digunakan untuk ritual kejawen atau Hindu.

“Ini berbeda dengan ritual kepada leluhur Tionghoa yang biasa menggunakan dupa merah dengan gagang merah,” imbuhnya.

Keris sebagai Simbol Luhur Budaya Jawa

Di altar Mbah Kuntjung, tidak ada patung atau wajah karena wujud asli Mbah Kuncung tidak diketahui. Sebagai gantinya, ditempatkan tiga buah keris. Namun Sobita menegaskan, keris tersebut bukanlah Mbah Kuntjung, melainkan lambang luhurnya budaya Jawa.

Ia menjelaskan bahwa keris pada masa lalu dibuat dari batu meteorit, bukan besi. Proses pembuatannya dilakukan sambil memanjatkan doa dalam bahasa Jawa yang dikenal sebagai mantra atau kidung, seperti kidung reksa bumi dan kidung kolosebo.

“Leluhur kita sudah berpikir canggih saat itu. Mereka memanjatkan doa dengan lagu. Lama-kelamaan, alat yang dibentuk itu pun menyimpan energi. Ini logis, bukan hal yang klenik (mistis berlebihan),” jelas Sobita.

Ia menganalogikan hal tersebut dengan Alkitab bagi umat Kristen, Al-Qur’an bagi Muslim dan juga tasbih, maupun rosario bagi umat Katolik yang sering digunakan pun turut menyimpan energi ketenangan.

“Keris bukan dimusyrikkan. Energi itu real, itu kuasa ilahi. Tidak perlu ada pengkultusan berlebihan karena keris adalah luhurnya budaya Jawa,” tegasnya.

Dikunjungi Berbagai Kalangan hingga Pejabat

Altar Mbah Kuncung tidak hanya dikunjungi oleh komunitas Jawa, tetapi juga etnis Tionghoa yang ikut bersembahyang di sana. Beberapa tokoh yang kerap berkunjung antara lain Kanjeng Sinuwun Tejowulan, Ibu Popi Darsono, Mbak Mitro dari Bonokling, serta komunitas pencinta keris dan desa-desa adat di Banyumas.

“Etnis Tionghoa pun pada saat melakukan sembahyang, altar Mbah Kuntjung juga ikut disembahyangi. Karena sesungguhnya doa yang baik kepada leluhur, kebaikan itu akan kembali kepada diri kita. Itu nyata, bukan karena hal-hal yang klinik,” ujar Sobita.

Sobita Nanda

Daya Tarik Wisata Religi Banyumas

Menurut Sobita, daya tarik utama Banyumas Kota Lama terletak pada dua lokasi: Masjid Agung Nur Sulaiman dan Klenteng Boen Tek Bio. Bahkan, ketika pihaknya mengajukan proposal pendanaan Rp50 miliar dari pemerintah daerah ke pusat, para penguji di Jakarta semula heran.

“Mereka heran, kok bisa Banyumas memiliki kelenteng yang dari sederhana menjadi megah, dan masyarakatnya bangga. Saya jelaskan bahwa akulturasilah yang membuatnya istimewa,” pungkas Sobita.

Klenteng Boen Tek Bio pun menjadi bukti bahwa harmoni antarbudaya bukan sekadar wacana, melainkan praktik hidup yang dirawat turun-temurun di Banyumas.

Kirab Budaya dan Klenteng Jadi Simbol Kebangkitan Banyumas Kota Lama

Kawasan Kota Lama Banyumas dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata berbasis sejarah, budaya, dan akulturasi. Penilaian itu disampaikan tokoh masyarakat Banyumas sekaligus mantan Camat Banyumas, Abdul Kudus, di tengah gelaran Kirab Budaya Syukuran Klenteng Boen Tek Bio yang baru saja berlangsung.

Menurut Abdul Kudus, pengembangan Kota Lama Banyumas berawal dari mimpi bersama masyarakat dan komunitas budaya untuk menjadikan kawasan tersebut dikenal luas.

“Kita dulu sama-sama punya mimpi Banyumas Kota Lama harus menjadi tempat yang dikenal karena punya potensi luar biasa. Ada peninggalan budaya, ada kultur masyarakat, dan ada Sungai Serayu yang menjadi kekuatan tersendiri,” ujarnya.

Sungai Serayu Jadi Pembeda dengan Kota Lama Lain

Abdul Kudus menegaskan, keunggulan utama Banyumas dibanding kota lama lainnya seperti Semarang atau Palembang adalah keberadaan Sungai Serayu yang menyatu dengan kawasan budaya dan sejarah kota.

Ia menjelaskan, sejak dahulu Sungai Serayu memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Jalur sungai digunakan untuk mengangkut hasil bumi sekaligus menjadi akses masuk para pedagang keturunan Tionghoa ke wilayah Banyumas.

“Dulu ekonomi hidup di sini. Jalurnya lewat sungai. Kemungkinan besar orang-orang Chinese keturunan juga masuk lewat situ. Serayu menjadi jalur penting pengangkutan hasil-hasil wilayah Banyumas,” katanya.

Abdul Kudus

Selain potensi sungai, Abdul Kudus menilai kawasan Kota Lama Banyumas memiliki kekuatan akulturasi budaya yang tidak dimiliki daerah lain, yakni perpaduan budaya Jawa, Tionghoa, dan Belanda.

“Di sini ada tiga kultur, Jawa, Cina, dan Belanda. Dulu sempat ada gagasan membuat segmen kawasan budaya Jawa dan Belanda karena bangunannya memang masih bercorak kolonial,” ucapnya.

Menurut dia, budaya Banyumasan tetap menjadi identitas utama yang harus terus dimunculkan. Salah satu simbol akulturasi yang masih kuat terlihat dari tradisi dan pusaka di lingkungan Klenteng Boen Tek Bio.

“Ada perpaduan Chinese, Jawa, dan Islam yang menyatu. Itu menjadi kekuatan tersendiri. Klenteng ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol akulturasi budaya,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Abdul Kudus juga menyambut baik kembalinya kirab budaya yang sempat vakum selama sekitar 10 tahun. Kirab terakhir kali digelar pada tahun 2015.

“Semangat masyarakat wilayah sini memang luar biasa. Sebelum direvitalisasi secara fisik, kawasan ini sudah mulai hidup dengan kegiatan budaya, klenteng, sampai muncul kafe-kafe,” ujarnya.

Ia mengaku pernah terlibat bersama masyarakat dan relawan dalam menggerakkan promosi Kota Lama Banyumas melalui pendekatan nonfisik, mulai dari mengangkat sejarah hingga membangun komunikasi dengan berbagai tokoh dan komunitas.

“Kita dulu bergerak mengangkat nama Banyumas supaya dikenal punya sejarah besar. Dari situ akhirnya mulai terdata dan menjadi agenda pengembangan,” katanya.

Budaya Banyumas Mempengaruhi Hingga Jawa Barat

Abdul Kudus menambahkan, secara historis Banyumas memiliki kekuatan budaya yang luas, bahkan memengaruhi wilayah hingga Jawa Barat.

“Secara kultur, Banyumas itu luas. Budaya Banyumasan ada sampai wilayah Jawa Barat. Itu yang membuat banyak seniman dan akademisi tertarik mendukung gagasan Kota Lama Banyumas,” tuturnya.

Tim Indiebanyumas

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Gubernur Ahmad Luthfi Siap Dukung Pendanaan Revitalisasi Pasar Wage Purwokerto

Selanjutnya

UMP Gandeng Pesantren di Banjarnegara, Hadirkan Mahasiswa Palestina-Sudan untuk Internasionalisasi Pendidikan Islam

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

KETIKA AKU MENJADI ISMAIL

Tumbal Peradaban dan Kutukan Kotak Suara

Rabu, 17 Juni 2026

Juara Jateng 2024, Kontingen Banyumas Siap Tampil di Dua Kategori PESPARAWI Nasional Papua Barat

Juara Jateng 2024, Kontingen Banyumas Siap Tampil di Dua Kategori PESPARAWI Nasional Papua Barat

Rabu, 17 Juni 2026

Hadapi Gaya Hidup Digital, KAI Daop 5 Purwokerto Sederhanakan Fitur Aplikasi Access

Hadapi Gaya Hidup Digital, KAI Daop 5 Purwokerto Sederhanakan Fitur Aplikasi Access

Rabu, 17 Juni 2026

Selanjutnya
UMP Gandeng Pesantren di Banjarnegara, Hadirkan Mahasiswa Palestina-Sudan untuk Internasionalisasi Pendidikan Islam

UMP Gandeng Pesantren di Banjarnegara, Hadirkan Mahasiswa Palestina-Sudan untuk Internasionalisasi Pendidikan Islam

Dugaan Pakai Uang Perusahaan untuk Judi Online dan Main Perempuan, Manajemen Warkop di Purwokerto Ambil Jalur Hukum

Dugaan Pakai Uang Perusahaan untuk Judi Online dan Main Perempuan, Manajemen Warkop di Purwokerto Ambil Jalur Hukum

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com