Di tengah hiruk-pikuk wisata religi yang cenderung homogen, Klenteng Boen Tek Bio di Banyumas berdiri sebagai bukti nyata akulturasi dan harmonisasi budaya Tionghoa dan Jawa. Keunikan ritual serta kedalaman nilai keharmonisan antarbudaya ini jarang ditemukan di Indonesia.
Berlokasi di kawasan yang dikenal masyarakat setempat sebagai Desa Pecinan (bukan Chinese town), kelenteng ini tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi etnis Tionghoa, tetapi juga menjadi ruang sakral bagi penghormatan terhadap leluhur Jawa.
Dua Kultur dalam Satu Kesakralan
Humas Klenteng Boen Tek Bio Banyumas, Sobita Nanda, menjelaskan bahwa kebanyakan kelenteng di Indonesia hanya mengangkat satu kultur budaya. Namun, Boen Tek Bio berbeda.
“Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas adalah sedikit kelenteng yang ada di Indonesia yang memiliki akulturasi budaya. Ia mengangkat dua kultur budaya dengan kesakralannya masing-masing, yaitu budaya leluhur dari tanah Tiongkok dan budaya Banyumasan atau budaya Jawa,” ujar Sobita.
Pendopo Jawa dan Altar Mbah Kuntjung
Salah satu bukti nyata akulturasi tersebut adalah keberadaan bangunan pendopo bergaya Jawa lengkap dengan atap limasan, rempe-rempe, serta ornamen ukiran yang mengacu pada Keraton Surakarta Hadiningrat. Pendopo ini dibangun pada tahun 1992 berdasarkan petunjuk yang memperbolehkan adanya bangunan tradisional Jawa di area kelenteng.
Setahun kemudian, tepatnya tahun 1993, pihak kelenteng mendapatkan petunjuk adanya energi leluhur asli Banyumas yang dikenal dengan nama Mbah Kuntjung.
“Sejak saat itu, kita mendirikan satu meja sembahyang untuk pendopo, untuk meluhurkan leluhur orang Banyumas, yaitu Mbah Kuntjung. Sampai saat ini kita meluhurkan beliau,” kata Sobita.

Ritual Ala Kejawen, Tanpa Daging
Sobita menjelaskan, ritual sembahyang di altar Mbah Kuntjung sepenuhnya mengacu pada budaya Jawa. Sajian yang digunakan adalah jajanan pasar. Karena Mbah Kuntjung diketahui sebagai leluhur yang vegetarian, maka tumpeng kuning yang disajikan pun tanpa menggunakan daging.
Prosesi ibadah juga menggunakan kemenyan, kembang telon, serta dupa berwarna hitam dengan gagang merah, yang merupakan jenis dupa yang biasa digunakan untuk ritual kejawen atau Hindu.
“Ini berbeda dengan ritual kepada leluhur Tionghoa yang biasa menggunakan dupa merah dengan gagang merah,” imbuhnya.
Keris sebagai Simbol Luhur Budaya Jawa
Di altar Mbah Kuntjung, tidak ada patung atau wajah karena wujud asli Mbah Kuncung tidak diketahui. Sebagai gantinya, ditempatkan tiga buah keris. Namun Sobita menegaskan, keris tersebut bukanlah Mbah Kuntjung, melainkan lambang luhurnya budaya Jawa.
Ia menjelaskan bahwa keris pada masa lalu dibuat dari batu meteorit, bukan besi. Proses pembuatannya dilakukan sambil memanjatkan doa dalam bahasa Jawa yang dikenal sebagai mantra atau kidung, seperti kidung reksa bumi dan kidung kolosebo.
“Leluhur kita sudah berpikir canggih saat itu. Mereka memanjatkan doa dengan lagu. Lama-kelamaan, alat yang dibentuk itu pun menyimpan energi. Ini logis, bukan hal yang klenik (mistis berlebihan),” jelas Sobita.
Ia menganalogikan hal tersebut dengan Alkitab bagi umat Kristen, Al-Qur’an bagi Muslim dan juga tasbih, maupun rosario bagi umat Katolik yang sering digunakan pun turut menyimpan energi ketenangan.
“Keris bukan dimusyrikkan. Energi itu real, itu kuasa ilahi. Tidak perlu ada pengkultusan berlebihan karena keris adalah luhurnya budaya Jawa,” tegasnya.
Dikunjungi Berbagai Kalangan hingga Pejabat
Altar Mbah Kuncung tidak hanya dikunjungi oleh komunitas Jawa, tetapi juga etnis Tionghoa yang ikut bersembahyang di sana. Beberapa tokoh yang kerap berkunjung antara lain Kanjeng Sinuwun Tejowulan, Ibu Popi Darsono, Mbak Mitro dari Bonokling, serta komunitas pencinta keris dan desa-desa adat di Banyumas.
“Etnis Tionghoa pun pada saat melakukan sembahyang, altar Mbah Kuntjung juga ikut disembahyangi. Karena sesungguhnya doa yang baik kepada leluhur, kebaikan itu akan kembali kepada diri kita. Itu nyata, bukan karena hal-hal yang klinik,” ujar Sobita.

Daya Tarik Wisata Religi Banyumas
Menurut Sobita, daya tarik utama Banyumas Kota Lama terletak pada dua lokasi: Masjid Agung Nur Sulaiman dan Klenteng Boen Tek Bio. Bahkan, ketika pihaknya mengajukan proposal pendanaan Rp50 miliar dari pemerintah daerah ke pusat, para penguji di Jakarta semula heran.
“Mereka heran, kok bisa Banyumas memiliki kelenteng yang dari sederhana menjadi megah, dan masyarakatnya bangga. Saya jelaskan bahwa akulturasilah yang membuatnya istimewa,” pungkas Sobita.
Klenteng Boen Tek Bio pun menjadi bukti bahwa harmoni antarbudaya bukan sekadar wacana, melainkan praktik hidup yang dirawat turun-temurun di Banyumas.
Tim Indiebanyumas






