Prof. Dr. Kholid Mawardi, M.Hum.
Guru Besar Bidang Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Ada sesuatu yang menarik setiap kali Maulid Nabi digelar di kampung-kampung, masjid, dan pesantren. Orang-orang datang dari latar belakang yang berbeda. Ada kiai dan santri, pedagang dan petani, pejabat dan rakyat biasa, orang tua dan anak-anak. Mereka mungkin tidak selalu memiliki pandangan yang sama tentang banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi ketika shalawat mulai dilantunkan, terutama saat sampai pada mahallul qiyam, tubuh mereka bergerak dalam irama yang sama: berdiri, bershalawat, dan mengarahkan perhatian kepada satu sosok yang sama, Nabi Muhammad ﷺ.
Pada saat itulah Maulid menjadi lebih dari sekadar peringatan kelahiran Nabi. Ia berubah menjadi sebuah pengalaman bersama. Suara yang semula berasal dari mulut orang-orang yang berbeda menjadi satu lantunan. Gerakan tubuh yang berbeda menjadi satu gerakan. Dan individu-individu yang datang dengan identitas sosial masing-masing untuk sementara merasakan dirinya sebagai bagian dari sebuah “kita”.
Di sinilah Maulid menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai praktik keagamaan, tetapi juga sebagai fenomena budaya dan sosial.
Maulid dalam ingatan pesantren
Dalam tradisi pesantren, Maulid bukanlah praktik yang muncul tanpa rujukan. Ia tumbuh dalam jaringan panjang tradisi keilmuan Islam yang mempertemukan sirah, shalawat, pujian kepada Nabi, doa, sedekah, dan majelis ilmu.
Salah satu kitab yang sangat dikenal adalah Mawlid al-Barzanji atau ‘Iqd al-Jawahir, karya Ja’far bin Hasan al-Barzanji. Kitab ini berisi kisah tentang nasab Nabi, kelahiran beliau, berbagai peristiwa penting dalam kehidupan beliau, serta pujian terhadap akhlak dan keutamaannya. Ketika dibaca dalam majelis Maulid, teks tersebut tidak sekadar menyampaikan informasi tentang Nabi. Ia membuat kisah tentang Nabi terus hadir dalam ingatan kolektif masyarakat.
Tradisi yang sama juga dijumpai dalam Mawlid al-Diba’i, karya Abdurrahman al-Diba’i, dan Simth al-Durar karya Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi. Keduanya menjadi bagian penting dari tradisi majelis Maulid di banyak wilayah Muslim, khususnya di lingkungan pesantren dan masyarakat muslim tradisional Ada pula Qasidah al-Burdah karya Imam al-Bushiri yang meskipun bukan kitab Maulid dalam pengertian sempit, sangat sering hadir dalam ekosistem pembacaan shalawat dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
Sementara dari sisi pembahasan hukum dan argumentasi keagamaan, nama Imam Jalaluddin al-Suyuthi penting disebut. Dalam al-Hawi lil-Fatawi, khususnya risalah Husn al-Maqsid fi ‘Amal al-Mawlid, al-Suyuthi memberikan pembelaan terhadap praktik Maulid dengan melihat isi kegiatan di dalamnya. Membaca Al-Qur’an, mempelajari kisah Nabi, bershalawat, bersedekah, dan memberikan makanan kepada masyarakat dipandang sebagai amal-amal yang pada dasarnya memiliki landasan kebajikan.
Dengan demikian, dalam perspektif tradisi pesantren, Maulid tidak semata-mata dipahami sebagai “ulang tahun Nabi”. Ia merupakan ruang untuk mengenang Rasulullah ﷺ, mempelajari sirah, mengungkapkan rasa syukur, memperbanyak shalawat, dan menumbuhkan mahabbah.
Dan di sinilah kata mahabbah menjadi penting.
Dari mengenal menuju mencintai
Tradisi pesantren mempunyai cara yang khas dalam mengajarkan agama. Tidak semuanya disampaikan dalam bentuk definisi dan argumentasi. Sebagian ajaran ditanamkan melalui pembiasaan, pengulangan, cerita, suara, dan pengalaman bersama. Seorang santri mungkin telah mengetahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah. Tetapi melalui Maulid, ia diajak untuk mengenal beliau secara lebih dekat: nasabnya, kelahirannya, sifatnya, kelembutannya, perjuangannya, dan akhlaknya.
Pengetahuan perlahan berubah menjadi rasa. Dari rasa lahirlah mahabbah.
Dan dari mahabbah seharusnya lahir ittiba’, keinginan untuk mengikuti Rasulullah ﷺ. Karena itu, Maulid yang hidup dalam tradisi pesantren sebenarnya mempunyai logika pendidikan yang menarik: mengenal Nabi, mencintai Nabi, bershalawat kepada Nabi, meneladani Nabi, mengikuti
Nabi. Dalam kerangka ini, Maulid bukan berhenti pada seremoni. Ia merupakan pendidikan rasa.
Ketika ritual menciptakan “kita”
Namun ada sesuatu yang lain yang terjadi ketika Maulid dilaksanakan secara bersama-sama. Sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh teks kitab atau argumentasi fikih.
Untuk melihatnya, kita dapat menggunakan gagasan antropolog Victor Turner tentang communitas. Bagi Turner, ritual dapat menciptakan keadaan sosial tertentu yang memungkinkan orang mengalami kebersamaan yang lebih langsung dan intens. Dalam situasi ritual, struktur sosial sehari-hari dapat untuk sementara menjadi kurang dominan. Perbedaan status, kekayaan, pekerjaan, dan posisi sosial tidak sepenuhnya hilang, tetapi orang mengalami dirinya sebagai bagian dari sebuah komunitas yang lebih mendasar.
Fenomena ini tampak jelas dalam Maulid. Kiai tetaplah kiai. Santri tetaplah santri. Pejabat tetaplah pejabat. Pedagang tetaplah pedagang. Tetapi ketika shalawat dilantunkan, mereka berdiri bersama. Tidak ada yang bertanya siapa yang lebih kaya. Tidak ada yang menanyakan siapa yang lebih tinggi jabatannya. Tidak ada yang perlu memperdebatkan siapa yang lebih penting. Untuk beberapa saat, mereka menjadi jamaah. Mereka menjadi “kita”. Inilah yang dapat disebut sebagai communitas.
Maulid menciptakan ruang simbolik di mana seseorang mengalami dirinya bukan terutama sebagai individu dengan status sosial tertentu, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang memiliki kecintaan dan orientasi spiritual yang sama.
Ribuan suara dan “gejolak kolektif”
Kalau Turner membantu kita memahami rasa kebersamaan yang muncul dalam ritual, Émile Durkheim membantu menjelaskan mengapa pengalaman tersebut bisa terasa begitu kuat. Durkheim menggunakan konsep collective effervescence, semacam gejolak atau energi emosional kolektif yang muncul ketika manusia berkumpul dalam ritual dan memusatkan perhatian pada simbol yang sama.
Coba bayangkan sebuah Maulid besar. Ratusan atau bahkan ribuan orang melantunkan shalawat secara bersama-sama. Suara menjadi semakin kuat. Irama semakin teratur. Orang-orang mulai larut dalam suasana. Sebagian tersenyum, sebagian menangis, sebagian merasakan haru. Ketika mahallul qiyam tiba, seluruh jamaah berdiri. Secara fisik, yang terjadi sebenarnya sederhana: manusia berkumpul, bersyair, dan berdiri. Tetapi secara sosial, sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi.
Emosi individu telah menjadi emosi kolektif.
Orang yang datang dengan masalahnya sendiri larut dalam pengalaman bersama. Kesedihan pribadi untuk sementara bertemu dengan kegembiraan kolektif. Kecintaan personal kepada Nabi bertemu dengan kecintaan jamaah.
Itulah collective effervescence. Dalam bahasa agama, pengalaman itu mungkin disebut sebagai mahabbah, ketenangan, keberkahan, atau kekhusyukan. Dalam bahasa sosiologi Durkheim, ia dapat dibaca sebagai energi emosional yang memperkuat solidaritas kelompok. Dua bahasa tersebut tidak harus dipertentangkan. Keduanya sedang membaca pengalaman yang sama dari sudut yang berbeda.
Mengapa tradisi itu terus bertahan?
Di sinilah kita menemukan fungsi sosial Maulid yang sering luput dari perhatian. Setiap kali Maulid diselenggarakan, bukan hanya kisah Nabi yang diulang. Yang sebenarnya sedang diulang adalah cara sebuah komunitas memahami dirinya sendiri. Anak-anak belajar bagaimana orang dewasa bershalawat. Santri belajar kapan berdiri dalam mahallul qiyam. Generasi muda belajar teks yang dibaca orang tua mereka. Masyarakat belajar kembali bahwa ada ruang di mana mereka dapat duduk bersama meskipun kehidupan sehari-hari membuat mereka berbeda. Karena itu, Maulid adalah mekanisme pewarisan budaya.
Ia menghubungkan: generasi yang telah pergi, generasi sekarang, generasi yang akan datang. Kitab-kitab Maulid menjadi teksnya. Kiai dan guru menjadi pengajarnya. Majelis menjadi ruangnya. Tubuh dan suara menjadi medianya. Dan masyarakat menjadi pelaku sekaligus pewarisnya.
Maulid dan wajah sosial muslim tradisionalis.
Dalam konteks muslim tradisionalis, fenomena ini menjadi semakin menarik. Tradisi keagamaan tidak hanya hidup di dalam masjid atau pesantren, tetapi juga dalam jaringan sosial masyarakat: keluarga, majelis taklim, kampung, lembaga pendidikan, organisasi, dan berbagai komunitas keagamaan. Maulid menjadi salah satu ruang di mana identitas tersebut dipraktikkan secara nyata. Orang tidak selalu mengatakan, “Saya sedang membangun solidaritas sosial.” Mereka datang karena ingin bershalawat. Mereka datang karena cinta Nabi. Mereka datang karena undangan kiai. Mereka datang karena tradisi keluarga.
Tetapi dari seluruh tindakan sederhana tersebut lahir konsekuensi sosial: orang bertemu, saling mengenal, berbagi makanan, bertukar kabar, memperkuat hubungan, dan merasakan kembali bahwa mereka merupakan bagian dari komunitas yang sama.
Inilah keindahan ritual sosial. Sebuah masyarakat tidak selalu membangun solidaritas dengan berbicara tentang solidaritas. Kadang-kadang solidaritas justru lahir ketika mereka bersama-sama melakukan sesuatu yang mereka cintai. Dalam tradisi Maulid, sesuatu itu adalah kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
Antara mahabbah dan solidaritas
Pada titik ini, kita dapat melihat hubungan antara agama dan kebudayaan secara lebih halus. Bagi seorang Muslim, Maulid memiliki makna teologis: mengenang Rasulullah ﷺ, bersyukur atas kelahiran beliau, memperbanyak shalawat, dan menumbuhkan kecintaan kepada Nabi. Tetapi bagi masyarakat sebagai sebuah kelompok sosial, Maulid juga mempunyai konsekuensi lain: memperkuat hubungan antarmanusia.
Mahabbah kepada Nabi bergerak dari ruang batin menuju ruang sosial. Cinta yang semula berada dalam hati diekspresikan melalui shalawat. Shalawat dilakukan bersama-sama. Kebersamaan melahirkan kedekatan. Kedekatan memperkuat solidaritas. Dengan demikian, ada sebuah alur yang menarik: mahabbah, ritual, kebersamaan, solidaritas.
Dan mungkin di sinilah salah satu kekuatan terbesar tradisi Maulid. Ia tidak hanya membuat manusia mengingat seorang Nabi yang hidup lebih dari empat belas abad yang lalu. Ia membuat manusia yang hidup hari ini bertemu satu sama lain. Pada akhirnya, kita bukan hanya merayakan Nabi.
Ada kemungkinan bahwa pertanyaan paling menarik tentang Maulid bukanlah: “Mengapa kita masih merayakan Maulid?” Melainkan: “Apa yang terjadi pada kita ketika kita merayakan Maulid?” Jawabannya ternyata lebih luas daripada sekadar sebuah perayaan. Kita mengingat Nabi. Kita belajar mencintai Nabi. Kita mengulang teks yang diwariskan para ulama. Kita mengikuti gerakan yang diajarkan generasi sebelumnya. Kita berdiri bersama. Kita bershalawat bersama. Kita makan bersama. Kita berdoa bersama. Dan tanpa selalu kita sadari, kita sedang memperbarui ikatan yang membuat kita merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas.
Victor Turner menyebutnya communitas. Durkheim menyebutnya collective effervescence. Tradisi pesantren menyebutnya mahabbah dan barakah. Mungkin istilah-istilah tersebut berbeda, tetapi semuanya membantu kita melihat satu kenyataan yang sama: manusia membutuhkan ritual untuk mengingat siapa dirinya dan dengan siapa ia hidup bersama.
Karena itu, Maulid tidak hanya berbicara tentang masa lalu tentang kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Ia juga berbicara tentang masa kini: tentang bagaimana sebuah masyarakat menjaga ingatannya, merawat kecintaannya, dan mempertahankan rasa kebersamaannya. Barangkali itulah sebabnya, ketika suara shalawat mulai terdengar dan ribuan orang berdiri bersama, yang sedang dirayakan bukan hanya kelahiran seorang Nabi.Yang sedang diperbarui adalah rasa menjadi kita.






