BANYUMAS – Aktivis Forum Masyarakat Peduli Program MBG (FMP2M), Henri Rusmanto, menyoroti semakin banyaknya aduan masyarakat terkait menu kering dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bulan Ramadhan. Menurutnya, keluhan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi serius agar pelaksanaan program ke depan dapat berjalan lebih baik.
Henri mengaku prihatin setelah melihat berbagai unggahan di media sosial serta laporan pemberitaan mengenai menu MBG yang diterima sejumlah sekolah. Ia menilai menu yang dibagikan belum sepenuhnya mencerminkan semangat pemenuhan gizi bagi siswa sebagaimana yang sering disosialisasikan.
“Di banyak sekolah terpampang tulisan bahwa makanan bergizi adalah hak anak sekolah atau hak anak Indonesia. Namun ketika melihat menu yang diterima siswa, saya justru merasa miris karena belum terlihat jelas unsur gizinya,” kata Henri.
Ia menilai dapur penyedia makanan atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kemungkinan lebih berfokus pada perhitungan nilai gizi, tetapi kurang memperhatikan variasi menu yang disukai siswa. Padahal, menurutnya, aspek selera dan preferensi siswa juga penting agar makanan benar-benar dikonsumsi.
Henri mengusulkan agar SPPG membuat daftar menu untuk jangka waktu tertentu, misalnya dua minggu, kemudian membagikannya kepada siswa dalam bentuk kuisioner. Dengan cara itu, siswa dapat memilih beberapa alternatif menu yang mereka sukai.
“Misalnya untuk hari Senin ada beberapa pilihan menu, begitu juga hari berikutnya. Dari kuisioner itu bisa diketahui menu apa yang sebenarnya diinginkan siswa,” jelasnya.
Menurutnya, mekanisme tersebut dapat mencegah terjadinya pemborosan makanan. Jika menu dipaksakan tanpa mempertimbangkan selera siswa, ada kemungkinan makanan tidak dimakan dan akhirnya terbuang.
“Tujuan program makan bergizi gratis itu agar makanan dikonsumsi dengan baik oleh siswa. Kalau akhirnya dibuang, tentu menjadi mubazir dan tujuan program tidak tercapai,” ujarnya.
Henri menambahkan bahwa selera siswa di setiap daerah juga berbeda, baik antara sekolah di perkotaan maupun pedesaan. Oleh karena itu, ia menilai kebijakan menu sebaiknya tidak diseragamkan secara kaku.
“SPPG dan pengelola MBG juga perlu mengetahui keinginan siswa terkait menu yang mereka sukai, sehingga makanan yang disajikan benar-benar bisa dimakan habis dan memberi manfaat bagi penerima,” katanya.
Ia kembali menyebut bahwa hampir setiap hari, khususnya sejak memasuki bulan Ramadhan, menu yang diberikan didominasi telur dan roti yang meski ada kandungan gizi, tapi seharusnya tidak dijadikan menu harian yang kesannya monoton.
“Kami menyampaikan kritik ini agar program MBG dapat berjalan lebih baik. Jangan sampai justru anti kritik, tetapi jadikan sebagai bahan pembenahan,” tegasnya. (Angga Saputra)









