Enam tahun telah berlalu, tetapi warisan Eddie Van Halen tak pernah pudar. Gitaris jenius yang merevolusi teknik tapping dan menciptakan solo abadi lewat “Eruption” ini juga menyimpan fakta menarik: ia memiliki darah Indonesia dari sang ibu. Dari panggung rock bersama Van Halen hingga solo ikonik di “Beat It” milik Michael Jackson, berikut jejak sang maestro.
Karier Awal dan Kebangkitan Van Halen
Edward Lodewijk Van Halen lahir di Nijmegen, Belanda, pada 26 Januari 1955. Keluarganya pindah ke Amerika Serikat saat ia masih kecil. Bermodal latar belakang piano klasik, Eddie beralih ke gitar dan bersama saudaranya Alex mendirikan Van Halen, band hard rock yang mendominasi era 1970-an hingga 1990-an.
Nama Eddie melambung berkat teknik two-handed tapping, yaitu memainkan nada dengan kedua tangan di fretboard. “Eruption” menjadi manifesto kejeniusannya dan hingga kini dianggap sebagai salah satu solo gitar terbaik sepanjang masa.
Namun, jangkauannya tak hanya di dunia rock. Eddie tercatat sebagai gitaris tamu di sejumlah lagu legendaris musisi lain, paling ikonik adalah solo gitar di “Beat It” milik Michael Jackson dari album Thriller. Solo ini menjadi salah satu crossover rock-pop paling terkenal dalam sejarah musik.
Kolaborasi lainnya termasuk dengan Brian May (lagu “Star Fleet”), Roger Waters (“Lost Boys Calling”), LL Cool J (“We’re the Greatest”), serta proyek bersama Sammy Hagar, Steve Lukather, dan David Lee Roth.
Inovasi Gitar: Dari Frankenstrat hingga EVH Gear
Eddie juga seorang inovator perangkat gitar. Ia menciptakan Frankenstrat, gitar rakitan custom dari body Fender dan pickup Gibson yang terkenal dengan motif garis merah-putih-hitam.

Sepanjang kariernya, ia identik dengan sejumlah gitar legendaris:
· Kramer (era 1980-an, striped custom)
· Music Man EVH (gitar signature pertamanya)
· Peavey Wolfgang (dinamai dari putranya, Wolfgang Van Halen)
· EVH Gear (lini milik sendiri di bawah Fender), meliputi seri Wolfgang, Striped Series, dan Frankenstein Replica.
Hits Abadi Bersama Van Halen
Bersama Van Halen, Eddie melahirkan lagu-lagu yang membekas: “Jump”, “Panama”, “Hot for Teacher”, dan “Dreams”. Album debut mereka bertajuk Van Halen menjadi salah satu album rock paling berpengaruh di dunia.
Di balik gemilang kariernya, Eddie memiliki hubungan darah dengan Indonesia. Ibunya, Eugenia Van Beers, adalah seorang perempuan keturunan Indo (campuran Belanda-Indonesia) yang lahir di Hindia Belanda (kini Indonesia). Ayahnya, Jan Van Halen, adalah musisi Belanda pemain saksofon dan klarinet.
Fakta bahwa Eddie dan Alex memiliki darah Nusantara ini kerap menjadi kebanggaan tersendiri bagi pencinta musik Tanah Air.
Warisan Abadi
Eddie Van Halen wafat di California, AS, pada 6 Oktober 2020 di usia 65 tahun. Namun, pengaruhnya terhadap musik rock dan metal modern tetap abadi. Berbagai media internasional masih kerap memasukkannya ke dalam daftar “gitaris terbaik sepanjang masa”. Warisan musiknya terus menginspirasi generasi baru musisi di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Angga Saputra







