Stephen Hawking di dunia ilmu pengetahuan dan Jason Becker di dunia musik adalah dua sosok jenius yang berpuluh tahun hidup dengan Amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Keduanya tetap luar biasa di bidangnya meski harus menjalani hidup dengan penyakit yang sama. Sebenarnya, apa itu ALS?
ALS adalah penyakit saraf degeneratif. Penyakit ini merusak dan mematikan sel-sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang, disertai peradangan jaringan di sekitarnya. Sel saraf yang rusak terutama adalah jenis yang mengatur pergerakan tubuh, sehingga penderita mengalami kelemahan otot dan penurunan massa otot yang makin meluas.
Penyebab ALS
Hingga kini, para ahli belum mengetahui penyebab spesifik ALS. Namun, 5 hingga 10 persen kasus penyakit ini berkaitan dengan faktor keturunan.
Selain faktor keturunan, sejumlah penelitian menunjukkan ALS terkait dengan beberapa kondisi berikut: kerusakan sel akibat paparan radikal bebas; ketidakseimbangan kadar glutamat, zat kimia pengirim pesan dari dan ke otak serta saraf; kelainan pada protein tubuh; dan peradangan dalam saraf tubuh. Beberapa penelitian juga menunjukkan merokok dapat menjadi faktor risiko ALS, sementara penelitian tentang kemungkinan pemicu lingkungan lainnya masih berlangsung.
Gejala Umum ALS
Gejala umum ALS meliputi kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari termasuk berjalan, peningkatan “kecanggungan”, serta kelemahan pada kaki, tangan, dan pergelangan kaki. Penderita juga dapat mengalami kram dan kedutan di lengan, bahu, atau lidah, serta kesulitan mempertahankan postur tubuh dan mengangkat kepala.
Gejala lain mencakup labilitas emosi (perubahan emosi tiba-tiba), misalnya tiba-tiba tertawa terbahak-bahak atau menangis tak terkendali, perubahan dalam berpikir atau memori, bicara cadel, kesulitan proyeksi suara, nyeri di area tubuh tertentu, dan kelelahan. Pada tahap selanjutnya, ALS dapat menyebabkan penderita kesulitan bernapas dan menelan.
Komplikasi
Seiring berkembangnya ALS, muncul kemungkinan komplikasi seperti masalah pernapasan, masuknya makanan atau cairan ke paru-paru, kegagalan fungsi paru, pneumonia, penurunan berat badan, kesulitan berbicara, kesulitan makan, dan demensia.
Pencegahan
Para ahli belum menemukan metode pasti untuk mencegah ALS karena penyebabnya masih belum jelas. Seseorang dapat berpartisipasi dalam pemeriksaan kesehatan rutin, terutama jika memiliki anggota keluarga yang mengidap ALS atau mengalami gangguan dalam bergerak. Langkah ini bertujuan sebagai upaya deteksi dini.
Ihwal bagaimana paparan zat kimia bisa memicu atau mempercepat perkembangan ALS masih memerlukan riset lebih lanjut. Ada dugaan zat-zat kimia itu bersifat neurotoksik, alias bisa merusak sel-sel saraf melalui beberapa mekanisme seperti stres dan peradangan.
Penelitian ini memberikan perspektif baru dalam memandang ALS, tapi penyakit ini masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam dunia neurologi. Sulit mencegah penyakit ini jika faktor pemicunya tak bisa dipastikan. Namun, dengan adanya riset itu, masyarakat bisa mengupayakan pencegahan dengan mengurangi paparan zat kimia berbahaya dalam aktivitas sehari-hari.
Jason Becker dan Musik yang Tak Tergantikan

Dunia hanya sempat menikmati kehebatan jemari Jason dalam waktu singkat. Penyakit ALS datang ketika kariernya sedang berada di puncak. Penyakit saraf progresif itu perlahan merenggut kemampuan tubuhnya, termasuk kemampuan memainkan gitar.
Namun, ada satu hal yang tidak berhasil direnggut ALS: musik yang hidup di dalam pikirannya.
Anak ajaib dari California
Jason Becker lahir pada 22 Juli 1969 di Richmond, California, Amerika Serikat. Bakat musiknya sudah terlihat sejak usia sangat muda. Ketertarikannya terhadap gitar berkembang menjadi kemampuan teknis yang luar biasa ketika sebagian besar anak seusianya masih sibuk mengenal dunia.
Jason tidak sekadar mengandalkan kecepatan jemari. Ia memiliki pemahaman komposisi yang kuat, terutama dalam menggabungkan teknik gitar rock dengan pendekatan musik klasik.
Karya komposer seperti Niccolò Paganini, Johann Sebastian Bach, dan Wolfgang Amadeus Mozart menjadi bagian penting dari perjalanan musikalnya. Pengaruh musik klasik tersebut kemudian melebur dengan karakter neo-classical metal yang menjadi identitas permainannya.
Hasilnya bukan sekadar permainan gitar cepat atau pamer teknik. Jason mampu menghadirkan melodi yang kompleks, dinamis, tetapi tetap memiliki keindahan emosional.

Salah satu karakter yang membuatnya istimewa adalah kemampuan memainkan not-not dengan kecepatan tinggi, tetapi tetap terdengar bersih dan terkontrol. Teknik sweep picking, alternate picking, serta perpaduan harmoni gitar menjadi bagian dari kekuatan musikalnya.
Cacophony dan lahirnya sebuah legenda
Karier Jason mulai mendapat perhatian luas ketika ia membentuk band instrumental Cacophony bersama gitaris Marty Friedman.
Keduanya seperti dua karakter berbeda yang bertemu dalam satu panggung. Jason membawa sentuhan neo-klasikal yang melodis, sementara Marty memiliki pendekatan permainan yang khas dengan nuansa eksotis dan ekspresif.
Pada 1987, Cacophony merilis album Speed Metal Symphony. Setahun kemudian, mereka melanjutkannya dengan Go Off!.
Kedua album tersebut menjadi referensi penting bagi perkembangan musik instrumental metal dan budaya shred guitar.
Perpaduan dua gitaris dengan kemampuan teknis luar biasa menghasilkan komposisi yang rumit, cepat, bahkan terkadang terdengar liar. Namun, di balik kompleksitas itu, terdapat harmoni yang membuat musik mereka tetap menarik untuk dinikmati.
Jason kemudian membuktikan kapasitasnya sebagai komposer melalui album solo Perpetual Burn yang dirilis pada 1988.
Album ini menjadi salah satu karya penting dalam sejarah neo-classical shred guitar. Lagu-lagunya memperlihatkan bagaimana Jason menggabungkan kecepatan, ketepatan teknik, dan keindahan melodi dalam satu kesatuan.
Bagi banyak gitaris, Perpetual Burn bukan sekadar album, melainkan sebuah pelajaran tentang bagaimana teknik tinggi seharusnya melayani musik.
Stephen Hawking dan ALS
Stephen Hawking mengidap ALS, yaitu gangguan saraf progresif yang merusak sel saraf motorik di otak dan sumsum tulang belakang.
Hawking didiagnosis mengidap ALS pada usia 21 tahun (sekitar tahun 1963) saat ia menjadi mahasiswa pascasarjana di University of Cambridge. Awalnya, dokter memperkirakan ia hanya bisa bertahan hidup 2 tahun lagi.
Namun, Hawking secara luar biasa mampu menentang vonis tersebut dan hidup selama lebih dari 50 tahun dengan ALS hingga wafat pada 14 Maret 2018 di usia 76 tahun.
Penyakit ini menyebabkan kelemahan otot progresif, atrofi, hingga kelumpuhan total yang membuatnya harus menggunakan kursi roda.
Ia tidak kehilangan kemampuan bicara akibat ALS secara langsung, melainkan karena komplikasi pneumonia pada tahun 1985 yang mengharuskannya menjalani trakeostomi. Setelah itu, ia berkomunikasi menggunakan alat bantu komputer dengan pengeras suara.
Hingga kini, penyebab pasti dari ALS masih belum diketahui secara pasti (sebagian besar kasus bersifat sporadik) dan belum ada obat yang bisa menyembuhkan.
Angga Saputra






