INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

DI BALIK AGREEMENT ON RECIPROCAL TRADE (ART)

KKN HUTAN KITA

Prof Yudhie Haryono PhD

Jumat, 27 Februari 2026

Prof Yudhie Haryono PhD
CEO Nusantara Centre

Ajib. Ajaib. Begitulah ucap batinku saat selesai membaca naskah Agreement on Reciprocal Trade (ART). Ini merupakan hasil kesepakatan perjanjian perdagangan yang dinegosiasikan sejak 2025 untuk memperkuat kerja sama ekonomi, yang mencakup pengaturan tarif timbal balik antara Indonesia dan AS.

Tentu saja kesepakatan ini ditandatangai oleh kedua presiden yang akan bisnis. Itu juga setelah diketik, diedit, dicek dan dicek ulang dengan teliti sambil dinegosiasikan angka-angkanya. Karena itu lumayan memakan waktu sampai berminggu-minggu; menghabiskan dana cukup banyak; mengikutsertakan banyak staf serta meniduri banyak hotel dan kantor.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Terlebih, proses negosiasi perjanjian perdagangan internasional pasti melibatkan beberapa tahap, termasuk persiapan, penawaran awal, pertemuan-pertemuan kecil, rapat-rapat menengah, pemberian konsesi, dan tahap akhir permainan.

Saat pertama membacanya, saya menuduh team Indonesia tersesat karena tidak bisa memahami bahasa Inggris dengan baik. Karena itu, kerugian besar dibaca keuntungan; kekalahan dibaca kemenangan; invasi ekonomi dibaca kemuliaan derajat kemanusiaan.

Saat kedua membacanya, saya berharap ini soal taktis-fungsional. Sebab, kalaupun semua traktat itu membuat kita kalah dagang, Indonesia masih bisa mengelak dengan mengajukan konstitusi yang berwatak kedaulatan serta bebas aktif (netral).

Jadi walau ART itu berisi lima hal penting, yaitu: (1)Tarif 0% untuk 99% produk AS, tarif 19% untuk produk Indonesia yang berlaku saat Entry Into Force (EIF); lalu (2)Pengecualian tarif untuk produk unggulan Indonesia (minyak kelapa sawit, kopi, kakao, karet, dan tekstil);

(3)Indonesia berkomitmen menghapus hambatan non-tarif, termasuk perizinan impor, ketentuan TKDN, pengakuan standar AS, dan sertifikasi halal; (4)Indonesia memberi kemudahan investasi, terutama di sektor teknologi tinggi seperti ICT, alat kesehatan, dan farmasi;

(5)Indonesia akan meningkatkan pembelian produk energi asal AS, seperti metallurgical coal, LPG, crude oil, dan refined gasoline, serta produk pertanian AS sebagai bahan baku industri makanan-minuman dan tekstil;

Semua masih dapat dinegosiasikan kembali demi keuntungan sebesar-besar kemakmuran rakyat seperti dalam pembukaan UUD45.

Tetapi, saat membaca ketiga kalinya, saya sampai pada kesimpulan ini soal kekalahan struktural-subtansial.

Apa itu? Pertama, ART ini memiliki beberapa konsekuensi, seperti: (1)Ketergantungan pada produk AS. (2)Penghapusan hambatan non-tarif yang menghabisi devisa kita. (3)Pengakuan standar AS walau untuk produk tertentu.

Kedua, bercokolnya para ekonom hit-guys yang mapan di istana. Mereka adalah penyembah pasar bebas dan agen dari korporasi besar tanpa watak negarawan. Bagi mereka, keuntungan negara itu akibat, bukan tujuan. Sebab, tujuan utamanya adalah keuntungan dirinya dan korporasinya.

Nama-nama seperti Airlangga Hartarto, Rosan Roeslani, LBP, Mari Elka Pangestu, Muhammad Chatib Basri, Arief Anshory Yusuf, Haryanto Adikoesoemo, Heriyanto Irawan, Septian Hario Seto, Mochamad Firman Hidayat, adalah aktor utama yang memastikan terjadinya invasi ekonomi dan stabilisasi perbudakan nasional: miskin, nganggur, timpang, bodoh, sakit, menghamba.

Ketiga, dokumen ART itu menajamkan invasi awal yang berkelanjutan. Jika naskah amandemen konstitusi menjadi “artefak kekalahan pikiran,” maka naskah ART ini merupakan “situs kekalahan epistemis sekaligus aksiologisnya.”

Mengapa begitu? Karena kita sedang menikmati hancurnya sumber-sumber kepemimpinan (parpol, ormas, kampus, pesantren, pasar) sekaligus hancurnya sumber-sumber nilai dan informasi/iptek (media, padepokan, lemhanas, agama, spiritual).

Terlebih, kini kita sedang panen raya “warga bersikap oportunis dan munafik” yang datang karena disemai sejak dari kandungan dan dipupuk dalam negara sakit.(*)

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Satresnarkoba Polresta Banyumas Bongkar Peredaran Obat Keras di Purwokerto Timur

Selanjutnya

Ramai di Luar, Sunyi di Dalam

Eric Erlangga: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1447H

TERBARU

Pilwakot Semarang, PDIP Kalahkah KIM Plus

Ini Isi Lengkap Instruksi Rahasia PDIP: Tak Ada Bisnis MBG untuk Kader

Jumat, 27 Februari 2026

Doa Bersama, Santuni Anak Yatim dan Buka Puasa, Polresta Banyumas Rangkul Tokoh Agama

Doa Bersama, Santuni Anak Yatim dan Buka Puasa, Polresta Banyumas Rangkul Tokoh Agama

Jumat, 27 Februari 2026

Polresta Banyumas Gagalkan Peredaran 9 Kg Bahan Peledak, Dua Pemuda Diamankan

Polresta Banyumas Gagalkan Peredaran 9 Kg Bahan Peledak, Dua Pemuda Diamankan

Jumat, 27 Februari 2026

POPULER BULAN INI

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Minggu, 22 Februari 2026

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Jumat, 6 Februari 2026

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

Selanjutnya
Kita Ramai Bicara, Sedikit Membaca 

Ramai di Luar, Sunyi di Dalam

Polresta Banyumas Gagalkan Peredaran 9 Kg Bahan Peledak, Dua Pemuda Diamankan

Polresta Banyumas Gagalkan Peredaran 9 Kg Bahan Peledak, Dua Pemuda Diamankan

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com