PURWOKERTO – Ribuan pasang mata memadati Aula SMP Negeri 5 Purwokerto, Jumat (28/8/2026) malam. Bukan sekadar pertunjukan biasa, pementasan Daglung (Dagelan Calung) bertajuk “Dadhung Kepuntir” yang dipersembahkan Sanggar Seni Samudra berhasil menyulap ruangan berkapasitas sekitar 1.000 penonton itu menjadi lautan manusia yang dibanjiri gelak tawa selama dua jam penuh.
Antusiasme masyarakat tak hanya datang dari Purwokerto dan Banyumas, tetapi juga dari berbagai penjuru kawasan Masbarlingcakeb—meliputi Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, dan Kebumen. Sejak sebelum pertunjukan dimulai, aula sudah dipadati penonton yang penasaran menyaksikan sajian komedi khas Banyumasan yang memadukan musik calung, dagelan, kritik sosial, dan humor kehidupan sehari-hari.
Kisah OKB yang Berakhir Bangkrut
Naskah “Dadhung Kepuntir” mengisahkan tentang Waryoto, seorang laki-laki yang tiba-tiba menjadi Orang Kaya Baru (OKB) setelah memenangkan judi online. Kekayaan instan membuat rumahnya berubah menjadi tempat berkumpul warga yang ingin meminjam uang. Namun, kesombongan dan gaya hidup tak terkendali justru membawanya pada kebangkrutan total.
Ironisnya, nasib Waryoto berbalik 180 derajat. Orang-orang yang dulu berutang kepadanya kini justru menjadi pihak yang ditagih. Kekonyolan semakin menjadi ketika Waryoto yang sudah jatuh miskin terpaksa berutang kepada Kasmad—seorang warga miskin yang dulu pernah meminjam uang kepadanya dan kini justru berada di posisi lebih kuat. Puncak absurd terjadi ketika Waryoto harus menyerahkan anak pertamanya kepada Kasmad yang tak lain adalah mertuanya sendiri.
“Hubungan yang semakin ruwet dan sulit dilepaskan ini menjadi gambaran dari istilah Jawa ‘dhadung kepuntir’, yakni seperti tali yang terpuntir dan semakin sulit diurai,” jelas salah satu penggiat seni yang terlibat dalam pementasan.
Sepanjang pertunjukan, dialog-dialog khas Banyumasan, tingkah konyol para pemain, dan alur cerita yang semakin rumit berhasil membuat penonton tertawa hampir tanpa jeda. Seorang warga, Sukamto (50), mengaku sangat terhibur. “Luar biasa, pementasan ini membuat perut saya pegal dan tak terasa tiba-tiba sudah dua jam saja,” ujarnya sambil tertawa.
Seni Tradisional Harus Beradaptasi dengan Zaman
Pementasan ini merupakan bagian dari komitmen Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas dalam mendorong kesenian tradisional agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya. Sekretaris Umum Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas, Jarot C Setyoko, menegaskan bahwa seni tradisi tidak harus ditampilkan dalam bentuk yang sepenuhnya sama seperti pada masa lalu.
“Yang tradisional itu harus bisa menyesuaikan dengan konteks zaman. Kalau orang Jawa bilang, pada masa saya belajar perjalanan dulu, harus menyesuaikan dengan keadaan zaman,” kata Jarot dalam sambutannya.
Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas yang saat ini dipimpin Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono sebagai ketua umum memiliki sejumlah program unggulan yang mempertemukan kesenian tradisional dengan pendekatan kontemporer. Selain Daglung, terdapat pula Sendratari yang berakar dari tradisi namun dikembangkan melalui penggarapan seni pertunjukan modern, fragmen tari ebeg dengan koreografi dan konsep pertunjukan yang diperbarui, serta pengembangan wayang Banyumasan yang digarap oleh sejumlah dalang seperti Bima Putra, Dukuh Bayu Aji, Yakut, dan Panji.
“Keempat bentuk kesenian ini berakar dari kesenian tradisional, tetapi sudah melalui konsep jarak atau kontemporer. Jadi sudah agak berbeda karena ada sentuhan modern yang kita lakukan,” jelas Jarot.
Membawa Seni Banyumas ke Jakarta
Komitmen mengembangkan kesenian tradisional juga ditunjukkan melalui keterlibatan seniman dan generasi muda Banyumas dalam kegiatan tingkat nasional. Jarot mengungkapkan, pada rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2026, Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas membawa sekitar 100 anak-anak Banyumas, baik pelajar maupun mahasiswa, untuk tampil dalam rangkaian kegiatan di Jakarta.
“Alhamdulillah, pementasan itu setidaknya bisa menimbulkan pertanyaan bagi orang luar daerah. Artinya, sudah ada sesuatu yang berhasil kita lakukan,” ujarnya.
Baginya, pertanyaan dan ketertarikan masyarakat luar daerah terhadap kesenian Banyumas merupakan indikator bahwa seni tradisional masih memiliki daya tarik apabila dikemas secara tepat. Tantangan terbesar saat ini bukan sekadar mempertahankan keberadaan, tetapi bagaimana membuatnya tetap hidup dan mampu berkomunikasi dengan generasi baru.
Sekolah Buka Ruang untuk Pegiat Seni
Apresiasi juga disampaikan oleh perwakilan SMPN 5 Purwokerto, Bapak Kuat, yang mengaku senang melihat antusiasme masyarakat terhadap kegiatan seni dan budaya di lingkungan sekolah. Pihak sekolah bahkan membuka kesempatan luas bagi para pegiat seni untuk memanfaatkan aula sebagai ruang pertunjukan.
“Kami sangat senang dan mendukung kegiatan seperti ini. Mudah-mudahan ke depan semakin banyak pegiat seni yang bisa melakukan pementasan di sini,” ujarnya.
Malam itu, Aula SMPN 5 Purwokerto bukan sekadar menjadi tempat pertunjukan. Ia berubah menjadi ruang pertemuan masyarakat, seniman, budaya, dan tawa. Dua jam berlalu, tawa belum benar-benar usai, dan seperti tali yang sudah “kepuntir”, cerita Waryoto dan Kasmad pun seolah belum menemukan ujungnya.
Jarot berharap langkah ini dapat menjadi jembatan antara kesenian masa lalu dengan generasi muda, sehingga kesenian tradisional tidak hanya menjadi peninggalan budaya yang dipertontonkan sesekali, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. “Melalui Teater Samudra ini kita berharap kesenian yang ada di masa lalu bisa mendekat kembali kepada generasi sekarang,” pungkasnya.
Pewarta : Alri Johan
Editor : Angga Saputra






