BANYUMAS — Tiga hari, 305 pasang tangan, dan satu misi: membuktikan Pramuka bukan sekadar seragam cokelat. Kemah Bakti Kwarcab Banyumas di Lapangan Desa Silado, Kecamatan Sumbang, 4–6 September 2026, menjelma jadi laboratorium pengabdian yang nyata.
Bukan sekadar tenda dan api unggun. Mereka mengecat jembatan, membersihkan mushola, merawat makam, hingga menanam pohon. Ada yang berlumpur, ada yang bercat, semuanya rela.
“Ini wujud nyata Pramuka hadir untuk masyarakat. Bukan hanya di papan nama, tapi di lapangan,” ujar Sekretaris Bidang Pengabdian Masyarakat Kwarcab Banyumas, Tomi Luqman Hakim, Minggu (6/9).
Kemah ini jadi bagian dari Bulan Bakti Pramuka sekaligus pemanasan menyambut Estafet Tunas Kelapa (ETK) Kwarda Jawa Tengah 2026.
Tak Cuma Keringat, Juga Ketrampilan Hidup
Panitia tak sekadar menyuruh peserta kerja bakti. Ada bekal lain yang dibawa pulang: pelatihan wirausaha, semi hidroponik, hingga simulasi pemadam kebakaran.
“Kami ingin mereka pulang bukan cuma capek, tapi juga punya skill. Mandiri, dan siap bantu masyarakat kapan saja,” jelas Ketua Panitia Supriyadi.
Dua sekolah ikut tersentuh: MTs Negeri 3 Banyumas dan SD Negeri Silado. Program Pramuka Goes To School mengenalkan nilai gotong royong dan kesiapsiagaan sejak dini.
Pramuka Itu Bergerak
Di tengah isu generasi muda yang melekat pada gawai, kemah ini jadi pengingat: masih ada yang mau berlumpur, memegang kuas cat, dan menanam pohon demi negeri.
“Pramuka harus hadir ketika masyarakat membutuhkan,” tegas Supriyadi menutup rangkaian kegiatan.
Mereka pulang dengan kantung penuh, bukan oleh-oleh, melainkan pengalaman dan semangat baru.
Pewarta : Alri Johan
Editor : Angga Saputra






