INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Cerita Gus Sodiq, Bagaimana Dia Istiqomah Sebagai Musisi, Rocker dan Guru Ngaji

Sabtu, 9 Oktober 2021

Musik Rock memang telah menua. Banyak generasi Z yang sama sekali tak mengenal lagu-lagu hits musik rock, apalagi mengenal band-band yang pernah berjaya pada masa keemasan mereka. Tapi, Muhammad Sodiq tak ambil peduli dengan pilihannya menjadi musisi rock, atau rocker. Bahkan sejak peta kejayaan musik rock diubah total oleh band dari kota Seatle bernama Nirvana, 24 September 1994 silam.

Lewat album kedua bertajuk Nevermind, Nirvana hadir ke bumi bak makhluk dari planet lain yang punya kekuatan super, mampu mengubah lanskap musik melalui pengaruhnya yang begitu dahsyat. Memainkan jenis musik yang oleh dunia dikenal dengan Grunge, sebagian menyebutnya Seatle Sound, Nirvana juga menjadi kiblat dari lahirnya alternative musik.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Bagi sebagian besar anak remaja dan anak muda, musik yang keren bukan lagi sebuah lagu yang wajib terisi solo guitar dengan efek zoom yang menggerung, tapi sebuah musik lain yang punya lirik hebat, harmonisasi yang berbeda, dan musisi dengan rambut yang tak lagi gondrong. Usai Nirvana bubar seiring kematian maestronya, Kurt Cobain, band-band baru muncul bukan saja dari ranah musik yang sama, tetapi memainkan musik yang berbeda dari musik rock yang kejayaannya tergeser Nevermind dengan ditutup band terakhir bernama Gun n Roses.

Tak hanya di Amerika saja, Inggris tak pernah absen melahirkan band-band mendunia. Pad era transformasi itu, muncul Oasis, Blur, dan Radiohead yang melegenda itu. Awal tahun 2000, memang bukan akhir segalanya bagi musik rock, apalagi di tanah air. Kala itu, perubahan lanskaps musik dunia tetap tak membuat God Bless kehilanngan paggung, juga band lain seperti Booemrang, Edane, bahkan Solois macam Andy Liani.

“Tahun 2000 adalah tahun dimana musik rock telah kehilangan wibawa di bumi ini. Itu tahun ketiga saya memiliki gitar litrik, lalu kenapa? Saya sih sama sekali tidak terpengaruh apapun dengan apa yang sedang terjadi karena musik rock adalah musik saya, itu jiwa,” kata Muhammad Sodiq.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca

Muhammad Sodiq adalah satu dari sekian musisi yang masih eksis di jalur musik rock ketika musisi lain berpindah ke lain hati seiring zaman. Toh, dirinya ternyata tetap memiliki kawan sehati yang sama-sama tetap pada jalur musik cadas. Terutama adalah para senior maupun seangkatan dirinya yang tergabung dalam wadah silaturahmi para musisi rock bernama Banyumas Rock Community.

Gus Sodiq memainkan rif-rif gitar saat membawakan lagu rock bersaama GAAP.

Dia pun tetap sepenuh hati memberikan segenap rasa sayangnya untuk musik rock, meski secara personal belum pernah meraih kesuksesan sebagai yang terbaik dalam sebuah ajang, kecuali ganjaran sebagai The Best Unique Guitarist dalam sebuah festival musik yang digelar di sebuah kota di Jawa Tengah. Kategori itu diberikan kepadanya karena dia tak hanya piawai dalam teknis bermain solo, tapi juga style di atas panggung yang tak pernah diam.

“Saya tak meniru siapapun, tapi dalam setiap paggung sudah pasti tak bisa diam ketika lagu sudah dimulai, apalagi ketika part itu milik saya,” kata dia.

Di luar keunikan itu, Muhammad Sodiq yang punya visi dan misi serta pilihan genre yang sama dengan musisi lainnya, dikenal bukan anak muda ‘sembarangan’. Dia juga bukan menjadi unik karena penampilan yang tidak seperti musisi rock dengan celana wajib jeans, atau sepatu ala cowboy. Celana Jeans ia ganti dengan memakai sarung, meski untuk urusan pakaian sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi pemusik rock dengan warna hitam.

Sodiq, dia juga pede dengan menambah tasbih yang melilit di lehernya. Tapi, itulah keunikan dia yang memang dikenal oleh kawan musisi lainnya sebagai seorang alim ulama. Tak hanya dari sesama seniman musik, Muhammad Sodiq oleh orang yang mengenalnya biasa dipanggil dengan sebutan ‘Guse’. Itu adalah sebutan bagi anak dari seorang ulama atau kyai terkenal dan biasanya disematkan untuk mereka yang memang benar-benar mengikuti orangtuanya dalam hal beribadah.

Orangtua Sodiq, R Kyai H Muhammad Yusuf memang bukan sosok biasa di wilayah perbatasan Banyumas-Brebes. Dia merupakan sosok ulama yang punya kiprah lebih dalam syiar Islam di wilayah tersebut, dan juga sebagai pendiri Pondok Pesantren Al-Fattah yang berada di Desa Patuguran, tempat Muhammad Sodiq lahir. Bagaimana bisa Sodiq memperoleh restu dari Sang Kyai untuk diperbolehkan bermain musik?

“Untuk bisa menolong kerbau yang terpersok di sawah, kita harus berani kotor. Mana mungkin kerbau akan tertolong. Awalnya memang tidak mudah meminta izin, tetapi Abah memberi pesan yang begitu kuat itu kepada saya, bahwa pilihan apapun yang saya ambil maka saya harus bisa menempatkan diri serta jangan pernah sampai meninggalkan kewajiban sebagai seorang hamba Alloh,” kata Gus Sodiq mengenang.

Bekal ilmu agama sejak anak-anak yang telah diterima Gus Sodiq secara tak langsung telah membangun karakteristik dirinya, tak terkecuali satu hal penting dari setiap manusia ketika mereka diwajibkan menjalankan ibadah, yakni istiqomah. Meski lampu hijau dari orangtua untuk pilihannya bermusik telah dia peroleh, tetapi Gus Sodiq juga tak ingin bekal dasar agama yang telah ia terima dari abahnya tidak diteruskan untuk lebih diperdalam seiring usianya.

“Saat itu saya kian semangat, apalagi di Waduk Penjalin kan hampir setiap tahun ada beberapa kali even musik festival rock. Tetapi saya pun jelas tak mungkin hanya setengah-setengah ketika harus mempelajari ilmu agama,” kata Sidiq, yang selepas sekolah dasar dirinya ‘hijrah’ ke Sokaraja Banyumas untuk menimba ilmu agama di salah satu pondok pesantren besar di sana.

Bersamaan dengan perjalanannya menempuh ilmu agama maupun akademik, Gus Sodiq tetap membagi waktu agar tetap melanjutkan cita-citanya sejak kecil, menjadi musisi rock. Lebih khusus, menjadi gitaris ketika bersama kawan-kawa di Patuguran juga telah membentuk band yag dinamainya GAP. Itulah band pertama, dan satu-satunya sampai sekarang yang masih eksis dengan personel yang masih sama sejak terbentuk.

Pilihan menjadi musisi tanpa meninggalkan basic-nya dalal urusan agama, memiliki band yang sama sejak terbentuk, tetap pada jalur musik yang sama sejak awal bisa bermain musik. Itulah sikap istiqomah yang sulit ditemui orang lain, terutama musisi. Gus Sodiq menyebut pilihannya mengambil jalur musik rock adalah cita-cita yang beriringan dengan awal keinginannya bisa bermain gitar.

Masih tentang sikap istiqomahnya, Muhammad Soqid yang pertama kali memiliki gitar elektrik yang ia namai ‘Si Putih’ pada 1997 silam, sudah 24 tahun tetap setia dengan senjata andalannya itu. Gitar bermerk Fernandez seri limited buatan Jepang itu ia beli kala itu dengan harga yang cukup fantastis, Rp. 9,7 Juta. Si Putih ia temani dengan efek merk zoom yang merupakan efek wajib bagi musisi rock tersebut, juga sampai detik ini menjadi satu-satunya pasanga si putih dalam tiap dirinya memperoleh stage di skena rock.

“Itu milik saya satu-satunya, ah kebetulan tak saya bawa. Juga ketika efek gitar semakin beragam rupa, saya tetap menemani si Putih dengan Zoom yang juga ternyata mereka berjodoh hehe,” katanya.

Si putih-nya Gus Sodiq yang buatnya tak akan tergantikan dengan yang lain, juga menyimpan kenangan kenakalan dirinya saat remaja. Kala itu, ketika permintaan kepada abahnya untuk bisa membeli gitar elektrik tidak disetujui, dia lantas mengambil jalan pintas. “Karena keinginan itu begitu kuat, akhirnya saya menjual apa yang ada di kebun abah. Wah, luas juga wong harga gitarnya saja waktu itu tergolong mahal. Itu kenakalan remaja, jelas saya dimarahi karena kesalahan itu, tapi itulah konsekuensi dari sikap dan atas perbuatan itu saya pun berkali-kali harus menyampaikan maaf,” katanya.

Bersama GAP, Gus Sodiq yang oleh sebagian orang juga kadang dipanggil sebagai mas utsad itu tak punya ekspektasi baik secara personal maupun dengan band-nya. Buatnya, mempertahankan GAP tetap eksis serta bisa bersilaturahmi dengan sesama penggemar rock termasuk bersama BRC sudah cukup membuatnya bahagia. Apalagi kini, Gus Sodiq tak bisa totalitas seperti dulu untuk banyak menuangkan waktunya lebih banyak untuk ikut berdistribusi dalam eksistensi di skena rock Banyumas, Bumiayu bahkan daerah-daerah lain.

Sebagai penerus dari abahnya, Gus Sodiq kini juga harus mengembang tugas yang juga adalah panggilan hati baginya menjadi pengajar bagi para santri-santri di Ponpes Al Fattah. “Kemarin ketika lama sekali tak ada even, bersama kawan di BRC juga menggelar konser di daerah saya. Alhamdulillah berjalan lancar, dan InsyaAlloh dengan waktu yang seharusnya bisa saya atur sebaik mungkin maka antara kedua dari apa yang menjadi jalan hidup saya bisa berjalan beriringan,” harapnya.

Gus Sodiq, kini bukan saja dikenal sebagai lead gitar dari band bernama GAP. Dia juga seorang ustad yang mengajar para santri di Ponpes Al Fattah, dan juga berdakwah syiar Islam. Tatkala muncul fenomena banyaknya musisi yang tetiba memilih berhenti berkarir yang oleh media-media biasa disebut dengan istilah ‘hijrah’, Gus Sodiq sebenarnya tak mau membahasanya jika tidak karena pertanyaan akan seorang kawan yang indiebanyumas.com tanyakan soal kabar kepadanya.

“Sekarang beliau tak lagi bermusih, berhenti. Katanya sih, karena itu…karena ingin memperdalam agama,” tuturnya.

Menjadi musisi dan memainkan rif-riff gitar dalam irama lagu rock bersama band-nya, adalah impian dari kecil Gus sodiq yang akan ia rawat terus entah sampai kapan waktu akan berhenti. Apabila ia berhenti pun, Gus sodiq menegaskan, hal itu sudah jelas bukan disebabkan karena dirinya akan memperdalam ilmu agama atau ada sebuah dalil akan larangan akan memainkan atau mendengarkan musk.

“Jika alasan itu, sudah sejak kecil abah melarang. Bagi saya pribadi, silahkan bagi siapa saja bebas memilih sikap berkaitan dengan pola berbeda dalam menjalankan manhaj beribadah. Di ranah ini saya tak mau mengambil debat, karena kembali lagi ke pesan abah soal menolong kerbau yang terperosok, menjadi lebih baik untuk saat sekarang kita bisa saling mengingatkan dalam berbuat baik antar sesama kita. Menghibur antar sesama kita, termasuk menghibur dengan cara memainkan musik,” kata fans berat James Hietfiedl ini.

Saya cuma bisa berharap, semoga Istiqomah dalam berbuat baik darimu tak pernah usai Gus. Memainkan gitar dengan penuh gaya enerjikmu, mungkin saja adalah pahala yang besar sebab telah berhasil membuat entah sudah berapa orang yang terhibur atas itu. Keep on Spirit, Rock and You Gus Sodiq!

Penulis: Angga Saputra

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Pria Asal Banyumas dan Banten Rampok Minimarket di Cilacap

Selanjutnya

Bansos Program Sembako Masih Belum Pasti Kapan Akan Disalurkan

TERBARU

Rektor Bukan Cuma Urusan Internal Kampus, Masyarakat Punya Hak Suara

Rektor Bukan Cuma Urusan Internal Kampus, Masyarakat Punya Hak Suara

Selasa, 3 Februari 2026

Launching RDF dan Recycling Center, Bupati Banyumas Targetkan 10 Unit

Launching RDF dan Recycling Center, Bupati Banyumas Targetkan 10 Unit

Selasa, 3 Februari 2026

Ketua DPRD Banyumas Tekankan Komunikasi Eksekutif-Legislatif, Siap Dorong Dewan Lebih Aspiratif

Ketua DPRD Banyumas Tekankan Komunikasi Eksekutif-Legislatif, Siap Dorong Dewan Lebih Aspiratif

Selasa, 3 Februari 2026

POPULER BULAN INI

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

Polemik Puskesmas 2 Cilongok, Anang Kostrad Dorong Pembangunan Puskesmas 3

Polemik Puskesmas 2 Cilongok, Anang Kostrad Dorong Pembangunan Puskesmas 3

Selasa, 3 Februari 2026

MA Kabulkan Kasasi JPU Banyumas, Kades Suro dan Warga Divonis 8 Bulan Penjara

MA Kabulkan Kasasi JPU Banyumas, Kades Suro dan Warga Divonis 8 Bulan Penjara

Senin, 2 Februari 2026

Selanjutnya

Bansos Program Sembako Masih Belum Pasti Kapan Akan Disalurkan

14.000 Warganya Masuk Tingkat Kemiskinan Ekstrem, Bupati Kebumen: Targetnya 2022 Sudah Zero

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com