Hari-hari riuh-rendah pendaftaran capres-cawapres. Menutupi semua isue dan fakta yang mestinya lebih menjadi concern masyarakat berbangsa-bernegara. Semua mata dan akal terfokus ke berita, tak lagi jelas mana yang hoax mana yang nyata. Diperparah dengan kemampuan analisa, terkait dengan kemampuan olah pikir dan hemat analisa.
Sumbu pendek itu dengan mudah disulut oleh si mulut besar penguasa media nan populis. Seakan dia nabi pembawa pesan kebenaran. Mulutnya bau comberan terus menghujat kiri-kanan, lengkap dengan referensi ayat suci.
Semua mata melihat gadget, benda yang didewakan. Semua yang melintas begitu diyakini. Seolah benar adanya. Entah di mana posisi negara. Manusia sampai lupa dengan kebutuhan dasarnya. Asal dewa gadget terbanteni dengan kuota. Asal malaikat google masih bisa ditanya.
Lupa, bahwa sebetulnya ada rasa keputusasaan akut yang mendera. Melihat tuanku bergelimang harta, hasil menjarah, merampok, dan menista. Enteng mulut tuanku bilang, “cuma sekian milyar..”
Percayalah bahwa setegang apa pun urat leher kamu tak akan mengubah nasibmu. Mereka bermain dengan habitat rakusnya, kita tetap menjadi hamba, pemuas nafsunya. Seperti tulisan keren di bokong Truk yang jalan lambat menghalangi lajuku.
Indonesia Tanah Air Beta,
Tanah Beta beli
Air Beta bayar
Sadar tak akan memberikan efek apa pun. Tapi hati bahagia, berbagi penghasilan dengan seniman lukis, spesialis bokong Truk. Tentang ekspresi, warna, jenis dan besaran huruf, ilustrasi, serta posisi, tergantung pada kesepakatan keduanya. Tak ada yang saling memaksa, karena itu hanya semacam protes pada kondisi. Suka-suka. Dan aku kerap menikmati sambil tersenyum.
Maka mari coba kita renungi, apa yang kita dapat dari keriuhan ini? Maka jika engkau tak suka dengan pilihan orang lain, jangan engkau mencaci atau memfitnah. Jika engkau tak tahu pasti tentang suatu kebenaran, tak usah engkau bicara seolah pakarnya.
Aku hanya memohon, Ya Allah, Gusti Akarya Jagat, Yahweh, Hyang Batara, atau siapa pun penguasa bumi, langit, dan seisinya, lembutkan hati kami, agar tidak keras membatu.
Denpasar, 9 November 2023
Penulis adalah Pemerhati Sosial, Budayawan dan Jurnalis Senior






