TAMBAK – Pemerintah Desa Buniayu Kecamatan Tambak kecewa. Sebab, agenda permohonan audensi dan konsultasi permasalahan perlintasan sebidang rel kereta api batal.
Permohonan audensi sedianya dihelat pada Rabu, 28 April lalu. Lokasi di ruang rapat Direktorat Keselamatan Perkeretaapian Direktorat Jenderal Perkeretapian di Jakarta.
“Warga Desa Buniayu yang terisolasi sudah berharap sekali ada solusi dengan adanya pertemuan di Jakarta. Tapi dibatalkan, kecewa,” ujar Kepala Desa Buniayu Masdar, Jum’at (7/5).
Padahal, pemerintah desa sudah mempersiapkan segala keperluan keberangkatan kepala desa ke Jakarta. Diantaranya kelengkapan surat. Juga, biaya akomodasi yang ditanggung sendiri.
Hingga kini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai penjadwalan ulang permohonan audensi. Pihaknya berharap audensi bukan sekadar wacana.
“Kami terus menanti adanya pertemuan yang membahas permasalahan perlintasan rel sampai ada solusi,” tegas Masdar di kantornya.
Sekitar 150 jiwa terisolisasi di dusun Buniayu atau Dusun 2. Menyusul pembangunan rel ganda yang melintasi wilayah tersebut. Di lokasi didirikan pagar panel setinggi 1,5 meter.
Dibulan Ramadan, warga memanjat pagar tersebut untuk melaksanakan salat tarawih berjamaah ke musala. Warga memilih jalan pintas. Karena harus memutar melintasi ruas jalan di Kabupaten Kebumen. Jarak tempuh sekitar tiga kilometer ke tempat ibadah.
Sementara itu, dalam surat permohonan audensi disebut tidak hanya mengundang Desa Buniayu. Juga, Desa Pesantren terkait perlintasan sebidang tanpa petugas jaga dan tidak berpalang pintu pada jalan kabupaten. (fij)





