Banyumas – Kemunculan klaster tarawih di Desa Pekaja dan Tangeran jadi bukti nyata protokol kesehatan belum disiplin. Itu diakui oleh Sekda Kabupaten Banyumas Wahyu Budi Saptono. Oleh karena itu beberapa antisipasi sudah dilakukan. Termasuk untuk mencegah klaster baru di pusat perbelanjaan.
“Jadi itu memang terjadi karena ada keteledoran bahwa ada yang tidak pakai masker. Kami sudah sepakat, bahwa satgas yang ada dibawah ini untuk diaktifkan,” katanya.
Klaster itu Sekda sebut, jadi pelajaran. Selanjutnya ia minta jangan terulang lagi.
“Di surat edaran yang ditandatangani untuk satgas untuk musala dan masjid serta desa kelurahan untuk diaktifkan kembali. Jadi semua satgas, baik masjid, musala, RT, RW, desa, kecamatan itu diaktifkan kembali. Harapannya kejadian yang di Pekaja tidak terulang kembali,” tuturnya.
Selain itu, ia tidak pungkiri meski sudah ada tim pemantau protokol kesehatan di masjid atau mushola, tapi masih ada yang tidak terawasi.
“Karena jelas, bahwa petugas kita sedikit dari jumlah yang diawasi. Maklumlah kalau ada satu, dua, yang tidak kurang terawasi sehingga kejadian seperti itu. Tapi dengan adanya seperti itu dan diberitakan mudah-mudahan semua masyarakat Banyumas kan tahu semua ada seperti ini pasti hati kecilnya akan bicara, aku ora wani lah nek kaya gitu,” jelasnya.
Kunci dari adanya kejadian tersebut adalah disiplin protokol kesehatan. Juga pengetatan satgas diseluruh lini.
“Intinya kita kuatkan satgas di seluruh lini,” ucapnya. (aam)







