INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

The Cure: Separuh Abad Suara Suram yang Menggetarkan Dunia Musik

The Cure: Separuh Abad Suara Suram yang Menggetarkan Dunia Musik

Foto : thecure.com

Minggu, 20 September 2026

Di panggung musik dunia, ada band yang suaranya seperti bisikan dari balik kabut: suram, misterius, tapi justru membuat siapa pun yang mendengarnya terpaku. Itulah The Cure.

Band yang mengusung punk rock, gothic, dan new wave ini berasal dari Inggris. Kehadirannya memberi pengaruh besar kepada band-band yang ada saat ini. Tak salah jika MTV menjadikan The Cure sebagai ikon pertamanya.

The Cure pertama kali terbentuk di Sussex, Inggris, oleh tiga anak muda sekitar tahun 1976. Mereka adalah Robert Smith (vokal/gitar), Michael Dempsey (bas), dan Laurence “Lol” Tolhurst (drum).

Pada awalnya, band ini bernama Easy Cure, dan baru mengeluarkan album pada 1979 berjudul Three Imaginary Boys. Album itu mendapat acungan jempol dari banyak kritikus musik Inggris saat itu.

The Cure yang meramu musiknya dari punk rock, gothic, dan new wave mulai memasukkan bunyi keyboard pada album kedua mereka, Seventeen Seconds. Posisi keyboard diisi oleh Mathieu Hartley. Keputusan inilah yang menambah kaya musik The Cure dan mulai banyak dipuji kalangan pers musik Inggris.

Walaupun sudah mengeluarkan tujuh album, popularitas The Cure di Amerika baru melonjak setelah album Disintegration yang dirilis tahun 1989. Album ini berhasil masuk jajaran 12 besar U.S. Charts dan menggondol platinum album.

Musik The Cure sendiri cenderung berwarna suram, dengan lirik-lirik bernuansa keputusasaan. Gaya vokal Robert Smith yang khas, mirip seperti orang tercekik, dengan dandanan bak “Joker”, akhirnya menjadi trademark The Cure sampai sekarang.

Setelah berganti-ganti formasi, The Cure terakhir tercatat dengan susunan Robert Smith, Porl Thompson, Simon Gallup, dan Jason Cooper, dan merilis album ke-13 mereka pada 2008.

Godfather band Inggris bernama The Cure ini cukup banyak memengaruhi jagad permusikan rock dunia. Tak heran jika hingga hari ini cukup banyak grup band yang menjadikan The Cure sebagai panutan.

Kejeniusan Seorang Robert Smith

Bicara tentang The Cure, identik dengan sang vokalis. Dengan tampang seperti drakula kena anemia—kalau boleh dibilang seperti Joker—ternyata semakin tua, ia tetap saja segar bugar seperti hamburger.

Meski pucat seperti drakula, Robert tergolong musisi yang bersih dari narkoba. Gitaris yang lebih menonjolkan nyanyi dengan suara-suara datar dan irit kord ini termasuk panutan tradisi gaya bermain gitar post-punk dan gothic sedunia.

Jauh sebelum jadi bos di The Cure, Smith main bareng ikon band goth-punk lain, yaitu Siouxsie and the Banshees. Beberapa tahun kemudian, ia mencoba bereksplorasi semua distorsi quasi-metal ke gitar senar nilon. Setelah itu, penyesuaian karakter vokalnya yang memang unik dan khas itu jadi semakin klop dan belum ada yang bisa menyamai.

Dengan senjata gitar tua merek National, Fender Jazzmaster warna putih, dan Gibson Chet Atkins warna merah, inilah Robert bersama The Cure malang melintang dari panggung ke panggung.

Gitar Gibson milik Robert ini termasuk gitar edisi terbatas yang hanya diproduksi tak lebih dari lima biji. Suaranya khas berat tapi hangat, khas suara gitar akustik tapi tetap saja bukan suara gitar akustik.

Tapi, selain suara dan kord, apa sih yang bikin Robert khas dibanding pemusik lain? Tak lain karena Robert suka sekali memberi sentuhan jiwa ke lagu-lagunya, sehingga penonton yang mendengarnya langsung terbawa emosi musiknya.

Kita ambil contoh saja di lagu The 13th, Club America, dan Treasure. Smith sampai begadang dua hari supaya bisa memunculkan suara bisikan perempuan yang sudah mati.

Selain gitar Gibson merahnya, Robert memilih ampli Ampeg combo, Marshall Bluesbreaker, dan Vox AC30. Gilanya lagi, untuk membuat suara wah-wah di lagu Club America, Robert mengulik sampai delapan jam agar suara wah-wah-nya jadi khas.

Dari jam 10 malam sampai jam 6 pagi, barulah soundnya pas sesuai yang diinginkan, tak lupa plus didukung tiga botol anggur putih dari Australia.

Foto : thecure.com

Separuh Abad yang Terlewati

Robert Smith mulai mengibarkan cikal bakal The Cure tahun 1976, saat ia tampil di St. Wilfrids Comprehensive, Crawley, Sussex, Inggris. Bersama teman sekolahnya, Michael Dempsey (bas), Lol Tolhurst (drum), dan Porl Thompson (gitar), Robert yang saat itu masih 17 tahun mengusung nama The Easy Cure.

Dari situ, keempat musisi muda ini mulai menulis lagu-lagu sendiri dan merekamnya dalam bentuk demo. Dua karya mereka, Killing an Arab dan 10:15 Saturday Night, yang diedarkan label kecil namun ajaib, Small Wonder Records, tahun 1978, cukup membuat mereka dilirik para penikmat musik. Di tahun yang sama, mereka menyederhanakan nama The Easy Cure menjadi The Cure.

Setahun setelah itu, single mereka, Boys Don’t Cry, mendapat sambutan positif. Menurut pengamat musik saat itu, musik yang diusung The Cure banyak mengadopsi beat British pertengahan 60-an yang diperkaya warna vokal Robert yang unik.

Sejak itu, karier The Cure mulai memperlihatkan titik terang. Terbukti, musim semi 1980, The Cure berhasil masuk jajaran Top 40 Inggris untuk pertama kalinya lewat single A Forest. Sementara album keduanya, 17 Seconds, mampu nangkring di Top 20.

Kesuksesan yang sama juga dirasakan para personel The Cure saat merilis album Pornography, yang menempatkan mereka sebagai pendatang baru yang patut diperhitungkan di Inggris.

Seperti mengikuti pepatah, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang bertiup. Karier yang mulai membaik tak sinkron dengan kondisi di tubuh band tersebut. Buntutnya, Mathieu cabut beberapa bulan sebelum pemecatan Simon.

The Cure yang akhirnya banyak mencatat single di tangga lagu Inggris lewat The Love Cats, Why Can’t I Be You?, Catch, Friday I’m in Love, dan Just Like Heaven sebelum merilis album Wish, sempat merangkul Simon kembali di samping Perry Bamonte (keyboard, gitar), Porl Thompson (gitar), dan Boris Williams (drum).

Menjelang penggarapan album Wild Mood Swings, Mei 1996, The Cure diperkuat formasi Robert Smith, Perry Bamonte, Simon Gallup, Jason Cooper (drum), dan Roger O’Donnell (kibor).

Desember 2002, usia perjalanan karier The Cure lewat dari 25 tahun. Selama kurun waktu tersebut, The Cure sudah menikmati kesuksesan melimpah dari penjualan album yang melewati angka 27 juta keping di seluruh dunia.

Makanya bagi Elektra Records, perusahaan rekaman tempat The Cure bernaung, prestasi itu patut dirayakan. Sebuah album Greatest Hits yang menyuguhkan 18 lagu terbaik mereka pun diluncurkan 13 November 2001.

Tapi benarkah album yang antara lain berisikan lagu Boys Don’t Cry, A Forest, The Lovecats, Close to Me, Just Like Heaven, Never Enough, Friday I’m in Love, dan Wrong Number ini merupakan kumpulan lagu terbaik The Cure? Tidak, menurut Robert Smith, karena baginya album tersebut belum mencerminkan apa yang terbaik bagi The Cure.

Komposer, gitaris, kibordis sekaligus vokalis The Cure kelahiran 21 April 1959 ini menyebut dua lagu, yaitu Let’s Go to Bed dan The Walk, sebagai karya yang sebenarnya tak layak masuk di album tersebut.

“Keduanya merupakan lagu yang paling jelek di album itu. Soalnya sound keduanya hanya mewakili zamannya. Saya pikir, semuanya harus bisa mewakili dalam kurun waktu 20 tahun terakhir,” tutur Robert kepada Launch.com.

Wajar saja jika Robert kurang puas dengan peluncuran album Greatest Hits ini. Sebab, pihak perusahaan rekaman lebih memikirkan sisi bisnis dibandingkan unsur seninya. Lagipula, album tersebut diproduksi bukan atas permintaan The Cure.

Jadi bagi Robert sendiri, seharusnya Greatest Hits ini tak dikeluarkan tahun 2001 lalu. Album seperti itu seharusnya diproduksi saat The Cure sudah bubar. “Sekarang, kami kan sama sekali belum pensiun,” ujarnya menegaskan.

Meski demikian, demi penggemarnya, Robert tak anti terhadap proyek perilisan Greatest Hits tersebut. Karena bagaimanapun juga, ia harus tetap menjaga reputasi The Cure. Buktinya, di album tersebut, ia rela repot-repot menggarap dua lagu baru dan satu lagu akustik demi memperkaya materi yang sudah ada.

“Saya tak akan membiarkan album tersebut dirilis begitu saja tanpa sesuatu yang berarti. Dengan memasukkan beberapa lagu baru, saya juga ingin album ini menjadi sesuatu yang bisa saya banggakan,” kata Robert meyakinkan.

Kini setelah melewati perjalanan karier selama lebih dari 32 tahun, Robert merasa sangat bersyukur masih bisa mempertahankan The Cure hingga saat ini. Kendati ia pun merasa semakin tua, Robert justru semakin menikmati profesinya.

Terakhir, album berjudul 4:13 Dream dirilis pada tahun 2008. “Saya pernah mencoba mengerjakan hal lain, tapi saya tak pernah bisa puas,” ucapnya optimistis.

Angga Saputra (Dilansir dari Berbagai Sumber)

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Musycab GPK Banyumas Tetapkan Agusta Awali Amruloh sebagai Ketua 2026–2031

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

The Cure: Separuh Abad Suara Suram yang Menggetarkan Dunia Musik

The Cure: Separuh Abad Suara Suram yang Menggetarkan Dunia Musik

Minggu, 20 September 2026

Musycab GPK Banyumas Tetapkan Agusta Awali Amruloh sebagai Ketua 2026–2031

Musycab GPK Banyumas Tetapkan Agusta Awali Amruloh sebagai Ketua 2026–2031

Minggu, 20 September 2026

KPK Geledah Kantor ATR/BPN, Nusron Wahid Masih Belum Diperiksa

Nusron Wahid Disebut Telah Mundur dari Kepengurusan Partai Golkar

Minggu, 20 September 2026

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI

© 2021 indiebanyumas.com