PURWOKERTO – Puluhan guru Bahasa Jawa menyepakati perlunya langkah konkret untuk menjaga Bahasa Banyumasan atau Basa Panginyongan dari ancaman kepunahan. Pasalnya, jumlah penutur bahasa daerah ini terus berkurang. Salah satu upaya yang dinilai penting adalah menumbuhkan rasa bangga dan tidak malu berbahasa Banyumasan.
Hal tersebut mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) bertema “Ngrembug Basa Krama Panginyongan” yang digelar di Purwokerto, Minggu (13/9) siang. Acara ini diinisiasi Ketua Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah, Bambang Hariyanto Bachrudin (BHB), dan diikuti puluhan guru Bahasa Jawa.
Bambang Wadoro, Ketua Yayasan Seni Budaya Teater Tubuh Purwokerto, mengatakan bahwa FGD ini menjadi forum awal pertukaran ide antar guru Bahasa Jawa. Diskusi difasilitasi oleh wakil rakyat untuk membahas upaya pelestarian Basa Panginyongan, termasuk gagasan agar bahasa ini memiliki tingkatan krama.
“Acara ini sebagai forum awal diskusi antara guru Bahasa Jawa yang difasilitasi oleh wakil rakyat. Nantinya perlu langkah-langkah konkret pelestarian Bahasa Panginyongan,” kata Bambang Wadoro yang akrab disapa Bador.
Selain Bador, narasumber lain dalam diskusi ini adalah Suprapti “Ciprut”, penulis novel Banyumasan. Dalam kesempatan itu, Bador menekankan pentingnya rasa bangga terhadap Basa Panginyongan.
“Kita perlu bangga berbahasa Panginyongan, jadi jangan malu karena ini identitas budaya Banyumas,” ujarnya.

Sementara itu, Suprapti “Ciprut” menjelaskan bahwa Basa Panginyongan memiliki karakter egaliter, blak-blakan, dan demokratis. Artinya, setiap individu memiliki status sosial yang setara.
“Tataran tingkatan formal ugi informal teng Basa Jawa umum, ingkang lajeng dipun tepangi daning masyarakat Banyumas, jalaran ewah-ewahan kahanan budaya ugi sosial Jawa kamit thukul budaya Mataram Islam,” kata Ciprut yang sepanjang penyampaian menggunakan Basa Panyingongan.
Menanggapi diskusi tersebut, Bambang Hariyanto Bachrudin (BHB) menilai perlu ada pembahasan atau diskusi lanjutan. Ia juga mengakui Basa Panyingongan sebagai bahasa yang demokratis.
“Secara pribadi saya mendukung upaya pelestarian Basa Panyinyongan. Perlu dilakukan upaya komunikasi politik, kolaborasi para pihak di daerah penutur Basa Pangiyongan di lima kabupaten,” kata Bambang.
Diskusi yang berlangsung dari pukul 14.00 hingga 16.45 WIB itu berjalan gayeng. Sepanjang acara, peserta maupun narasumber menggunakan Basa Pangiyongan dalam bertutur. Di akhir acara, para audiens bersepakat perlunya Basa Panyinyongan memiliki basa krama.
Tim Redaksi








