PURWOKERTO — Pusat Kajian dan Pengembangan Budaya Penginyongan LPPM UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto menggelar Workshop Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Jawa Bermuatan Budaya Lokal Penginyongan bagi guru mata pelajaran Bahasa Jawa MTs se-Kabupaten Banyumas.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang Senat, Gedung Rektorat Lantai 4, Rabu (9/9/2026), ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pembelajaran Bahasa Jawa yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan berbahasa, tetapi juga mengenalkan dan melestarikan budaya lokal Penginyongan kepada generasi muda.
Kepala Pusat Kajian dan Pengembangan Budaya Penginyongan LPPM UIN Saizu, Dr. Rahman Afandi, mengatakan Bahasa Jawa memiliki posisi penting sebagai bagian dari muatan lokal di sekolah dasar maupun menengah. Menurutnya, pembelajaran Bahasa Jawa dapat menjadi sarana untuk mengenalkan, menguatkan, sekaligus mengembangkan budaya lokal kepada peserta didik.
“Kesadaran terhadap pelestarian bahkan penguatan terhadap kekayaan budaya lokal harus didukung oleh seluruh pihak agar masyarakat tidak tercerabut dari tradisi dan budayanya sendiri,” jelasnya.
Dr. Rahman menjelaskan, pembelajaran Bahasa Jawa di wilayah Penginyongan masih menghadapi tantangan dalam penguatan karakter kebahasaan lokal. Bahasa Penginyongan sebagai salah satu identitas budaya Banyumas Raya dinilai belum mendapatkan ruang yang cukup dalam pembelajaran di sekolah.
Pembelajaran Bahasa Jawa di sejumlah sekolah, lanjutnya, masih banyak mengadopsi Bahasa Jawa mainstream atau Bahasa Jawa Mataraman yang dikenal dengan karakter bandek. Kondisi tersebut turut berpengaruh terhadap penggunaan Bahasa Penginyongan, terutama ketika masyarakat Banyumas berkomunikasi di luar wilayah Penginyongan.
“Bahasa Jawa yang diajarkan kepada peserta didik masih banyak mengadopsi bahkan cenderung terkooptasi oleh Bahasa Jawa mainstream, yaitu Bahasa Jawa Mataraman atau bandek,” ungkapnya.
Menurut Dr. Rahman, salah satu langkah strategis untuk memperkuat Bahasa Penginyongan di sekolah adalah meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan bahan ajar yang menggunakan Bahasa Penginyongan dan mengangkat materi dari kearifan lokal masyarakat Penginyongan.
Dengan pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya mempelajari bahasa sebagai materi pelajaran, tetapi juga memahami nilai, tradisi, dan kebudayaan yang hidup di lingkungan masyarakatnya. Workshop ini sekaligus menjadi ruang bagi para guru untuk memperkuat kapasitas dalam menyusun sumber belajar yang relevan dengan karakter budaya lokal.
Bahan ajar berbasis budaya Penginyongan diharapkan dapat membuat pembelajaran Bahasa Jawa lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik. Dr. Rahman menambahkan, penguatan Bahasa Penginyongan membutuhkan keterlibatan guru dan stakeholder pendidikan. Penggunaan Bahasa Penginyongan di lingkungan sekolah diharapkan tidak berhenti pada materi pembelajaran, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari.
Workshop tersebut dibuka oleh Ketua LPPM UIN Saizu, Prof. Ansori, yang mewakili Rektor UIN Saizu Purwokerto. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari perhatian UIN Saizu terhadap pengembangan dan pelestarian budaya Penginyongan.
Melalui Pusat Kajian dan Pengembangan Budaya Penginyongan LPPM, kampus berupaya membangun ruang kajian sekaligus pengembangan budaya lokal yang berbasis pada kebutuhan masyarakat.
“Penting sekali bagi para guru dan stakeholder pendidikan di wilayah Penginyongan untuk memperkuat kemampuan dalam penggunaan Bahasa Penginyongan sekaligus menjadikannya sebagai media komunikasi utama dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Melalui workshop ini, UIN Saizu berharap semakin banyak guru yang mampu mengembangkan bahan ajar Bahasa Jawa dengan memasukkan kekayaan budaya Penginyongan. Langkah tersebut diharapkan turut menjaga keberadaan bahasa lokal sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah kepada generasi muda.
Pewarta: Alri Johan
Editor : Angga Saputra








