Dr. M. Sulasih, S.E., M.Si.
Dosen FEBI UIN Saizu Purwokerto
Tingkat pengangguran terdidik masih menjadi salah satu tantangan serius di Indonesia. Di tengah berbagai upaya perguruan tinggi mendorong mahasiswa mengenal dan mempraktikkan kewirausahaan, pertanyaan pentingnya adalah: mengapa keberanian mahasiswa untuk membuka usaha dan menciptakan lapangan kerja masih belum tumbuh secara optimal?
Hasil riset empiris menunjukkan bahwa keberanian mahasiswa untuk berwirausaha tidak hanya ditentukan oleh keinginan atau motivasi pribadi. Ada faktor lain di luar diri mahasiswa yang justru memiliki pengaruh kuat dalam mendorong mereka untuk benar-benar mengambil langkah sebagai wirausahawan.
Tantangan Pengangguran Terdidik dan Era Perdagangan Bebas
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pengangguran terbuka di Indonesia masih banyak berasal dari kelompok usia muda. Kondisi ini menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan tingkat pendidikan. Pendidikan yang lebih tinggi ternyata belum selalu berbanding lurus dengan meningkatnya kemandirian dan semangat berwirausaha.
Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang masih berorientasi sebagai pencari kerja (job seeker), bukan sebagai pencipta lapangan kerja (job maker). Setelah menyelesaikan pendidikan, pilihan yang dianggap paling aman masih sering kali adalah mencari pekerjaan di perusahaan, lembaga pemerintahan, atau institusi lainnya.
Di tengah persaingan pasar bebas, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri. Rasio pengusaha di Indonesia masih relatif rendah jika dibandingkan dengan sejumlah negara maju. Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang mampu mengubah pola pikir mahasiswa, dari sekadar mencari pekerjaan menjadi berani menciptakan peluang.
Pendidikan kewirausahaan di kampus tentu menjadi salah satu instrumen penting. Namun, persoalannya tidak berhenti pada penyampaian teori di ruang kelas. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: kekuatan apa yang paling dominan mendorong mahasiswa untuk benar-benar berani melangkah menjadi wirausahawan?
Tiga Pilar Pendorong Kewirausahaan
Secara teoretis, keputusan seseorang untuk berwirausaha dipengaruhi oleh tiga kekuatan utama sebagaimana dikemukakan Bygrave.
Pertama, kekuatan personal (personal strength).
Faktor ini berkaitan dengan komitmen, keberanian mengambil risiko, keinginan untuk berprestasi (need for achievement), rasa ingin tahu, visi terhadap masa depan, serta dorongan untuk mencapai kemandirian.
Kedua, kekuatan sosiologis (sociological strength).
Faktor ini mencakup relasi sosial, keberadaan tim kerja, serta dukungan dari keluarga, orang tua, teman, maupun lingkungan sosial terdekat. Dukungan tersebut dapat memberikan kepercayaan diri sekaligus memperkuat keberanian seseorang ketika menghadapi risiko dalam membangun usaha.
Ketiga, kekuatan lingkungan sosial (social environmental strength).
Faktor ini berkaitan dengan ketersediaan fasilitas, pelatihan dan inkubator bisnis, iklim persaingan, peluang pasar, kemudahan memperoleh informasi, serta kebijakan pemerintah yang mendukung perkembangan usaha.
Ketiga kekuatan tersebut menunjukkan bahwa kewirausahaan bukan semata-mata persoalan keberanian individu. Keputusan untuk terjun ke dunia usaha juga sangat berkaitan dengan lingkungan sosial dan ekosistem yang tersedia.
Temuan Riset: Niat Saja Tidak Cukup!
Berdasarkan hasil riset, terdapat temuan menarik mengenai faktor yang benar-benar memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan kewirausahaan mahasiswa.
Faktor personal ternyata tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Artinya, keinginan pribadi, cita-cita, maupun dorongan dari dalam diri mahasiswa saja belum cukup kuat untuk membuat mereka berani mengambil keputusan menjadi pengusaha.
Sebaliknya, faktor sosiologis dan lingkungan menunjukkan pengaruh yang sangat signifikan. Dukungan keluarga, dorongan teman, relasi sosial, serta tersedianya fasilitas seperti bazar dan inkubator bisnis kampus menjadi faktor penting yang dapat mendorong mahasiswa untuk mulai berwirausaha.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa niat saja tidak cukup. Seorang mahasiswa mungkin memiliki keinginan kuat untuk membangun usaha, tetapi tanpa dukungan dari lingkungan dan fasilitas yang memadai, keinginan tersebut belum tentu berubah menjadi tindakan nyata.
Dengan kata lain, keberanian mahasiswa untuk menjadi pengusaha sangat dipengaruhi oleh ekosistem di sekitarnya. Keyakinan internal (personal attributes) perlu dipicu dan diperkuat oleh dukungan orang-orang terdekat (social support) serta tersedianya fasilitas dan lingkungan usaha yang kondusif (environmental support).
Rekomendasi Strategis bagi Dunia Kampus
Temuan riset tersebut memberikan sejumlah catatan penting bagi perguruan tinggi. Jika kampus ingin meningkatkan jumlah mahasiswa yang berani berwirausaha, maka strategi yang dibangun tidak cukup hanya melalui pembelajaran kewirausahaan secara teoritis.
Pertama, restrukturisasi pembelajaran kewirausahaan.
Mata kuliah kewirausahaan perlu diarahkan tidak hanya pada pemahaman konsep, tetapi juga pada praktik nyata. Mahasiswa perlu memperoleh pengalaman langsung dalam membangun dan mengelola usaha, sehingga kemampuan hard skill dan soft skill dapat berkembang secara bersamaan.
Kedua, penguatan inkubator bisnis kampus.
Kampus perlu memperbanyak fasilitas yang memungkinkan mahasiswa mempraktikkan ide bisnisnya. Bazar, pameran karya kreatif, pendampingan usaha, hingga inkubator bisnis dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji gagasan secara nyata sekaligus membangun rasa percaya diri.
Ketiga, memperkuat dukungan ekosistem sosiologis.
Perguruan tinggi dapat menciptakan lebih banyak ruang interaksi dan kompetisi bisnis antarmahasiswa maupun antarperguruan tinggi. Ajang semacam ini tidak hanya menjadi tempat berkompetisi, tetapi juga dapat memperluas relasi, membangun jejaring, dan menumbuhkan kebanggaan sosiologis sebagai mahasiswa yang berwirausaha.
Pada akhirnya, membangun keberanian mahasiswa untuk menjadi pengusaha bukan hanya tugas mahasiswa itu sendiri. Perguruan tinggi, keluarga, teman sebaya, dunia usaha, dan pemerintah perlu hadir sebagai bagian dari ekosistem yang saling menguatkan.
Mahasiswa mungkin memiliki ide, mimpi, dan keinginan untuk menjadi pengusaha. Namun, agar niat tersebut benar-benar berubah menjadi tindakan, mereka membutuhkan lingkungan yang memberi ruang untuk mencoba, fasilitas untuk berkembang, serta dukungan ketika menghadapi kegagalan.
Karena itu, kampus tidak cukup hanya mengajarkan mahasiswa bagaimana menjadi pengusaha. Kampus juga perlu menciptakan ekosistem yang membuat mahasiswa berani mencoba menjadi pengusaha.






