PURWOKERTO – Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI, Prof. Muhammad Ali Ramdhani, mendorong seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto untuk menjadi pelopor moderasi beragama.
Hal itu disampaikan dalam Workshop Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Beragama yang digelar di kampus UIN Saizu, Kamis (6/8/2026). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) melalui Pusat Moderasi Beragama UIN Saizu ini diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, dan sivitas akademika.
Moderasi Dibangun dengan Kecerdasan Intelektual dan Emosional
Dalam paparannya, Prof. Ali Ramdhani menegaskan bahwa moderasi beragama tidak sekadar berbicara tentang toleransi. Menurutnya, moderasi adalah tentang membangun manusia yang cerdas, mampu hidup harmonis, dan menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bangsa.
“Moderasi beragama harus dibangun melalui kecerdasan intelektual dan emosional,” ujarnya di hadapan peserta workshop yang dibuka langsung oleh Rektor UIN Saizu, Prof. Ridwan.
Keberagaman adalah Kekuatan, Bukan Ancaman
Prof. Ali Ramdhani mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara dengan tingkat keberagaman yang sangat tinggi. Lebih dari 17 ribu pulau, sekitar 1.300 suku bangsa, ratusan bahasa daerah, serta enam agama yang diakui negara menjadi kekayaan nasional yang harus dikelola secara bijaksana.
“Mozaik Indonesia dibangun oleh banyak warna dan banyak rasa. Sebagaimana makanan menjadi lezat karena beragam rasa dan lukisan menjadi indah karena beragam warna, demikian pula Indonesia menjadi kuat karena keberagamannya,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan modal sosial yang harus dijaga. Karena itu, moderasi beragama hadir sebagai pendekatan untuk menjadikan keberagaman sebagai kekuatan pemersatu bangsa.
Kerukunan sebagai Fondasi Kemajuan
Prof. Ali mengutip konsep Trilogi Kerukunan Umat Beragama, yakni kerukunan intern umat beragama, kerukunan antarumat beragama, serta kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah. Menurutnya, kerukunan merupakan fondasi utama sebelum membangun kemajuan bangsa.
“Kalau urusan domestik belum selesai, bagaimana kita bisa menyelesaikan persoalan yang lebih besar? Kerukunan harus dimulai dari lingkungan yang paling dekat,” terangnya.
ASN Kemenag Harus “Smart and Moderate”
Prof. Ali Ramdhani mengapresiasi profil ASN yang sedang dibangun UIN Saizu, yakni Smart and Moderate. Menurutnya, konsep tersebut selaras dengan arah pembangunan sumber daya manusia Kementerian Agama yang menetapkan tiga orientasi besar: mewujudkan masyarakat Indonesia yang maslahat, rukun, dan cerdas.
“Kalau kita ingin membangun masyarakat yang rukun, maka kecerdasan menjadi syarat utamanya. Orang yang cerdas akan mampu memahami sebab-akibat, menghargai perbedaan, dan memilih jalan damai,” jelasnya.
Ilmu sebagai “Nutrisi” Akal
Dalam sesi materinya, Prof. Ali menjelaskan bahwa manusia disebut homo sapiens, makhluk yang memiliki kemampuan berpikir menggunakan akal. Keunggulan manusia, kata dia, bukan terletak pada penampilan fisik, melainkan pada kemampuannya memanfaatkan akal untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Ia menambahkan bahwa akal memerlukan “nutrisi”, yakni ilmu pengetahuan. Berbeda dengan harta yang berkurang jika dibagi, ilmu justru bertambah ketika dibagikan.
“Ilmu menjaga pemiliknya. Semakin dibagikan, semakin berkembang. Karena itu investasi terbaik bagi manusia adalah ilmu,” tandasnya.
Moderasi Bukan Sekadar Slogan
Menjelang akhir pemaparannya, Prof. Ali menegaskan bahwa moderasi beragama bukan sekadar konsep akademik atau slogan kelembagaan. Moderasi harus diwujudkan melalui perilaku nyata, seperti menghargai perbedaan, menghormati budaya lokal, menolak kekerasan, serta mencintai tanah air.
“ASN yang smart adalah ASN yang mampu berpikir jernih, memiliki kecerdasan emosional, menghormati keberagaman, anti terhadap kekerasan, dan selalu mengutamakan persatuan bangsa,” bebernya.
Ia berharap seluruh peserta workshop dapat menjadi agen moderasi beragama di lingkungan kerja maupun masyarakat, sehingga nilai-nilai kebangsaan terus tumbuh dan mengakar di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Penulis : Alri Johan
Editor : Angga Saputra








