JAKARTA – Di tengah persaingan ekonomi global yang kian ketat, kemajuan suatu bangsa tak lagi cukup diukur dari melimpahnya sumber daya alam atau derasnya arus modal asing. Kekuatan sebuah negara justru terletak pada kemampuannya mencetak pengusaha nasional yang tangguh, inovatif, dan berdaya saing global.
Pesan itu mengemuka dalam Peluncuran Buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan: Pergolakan Pemikiran Ekonomi Politik Indonesia dan Simposium Nasional bertajuk Merumuskan Arsitektur Perekonomian sebagai Fondasi Menuju Indonesia Emas 2045 di Auditorium Yusuf Ronodipuro, RRI Jakarta, Selasa (4/8). Acara ini digelar Nusantara Centre.
“Investasi Harus Jadi Instrumen, Bukan Tujuan”
Hadir sebagai pembicara, Komisaris Utama Ethos Group, Mukit Hendrayatno, menyoroti perlunya paradigma baru dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi semata tak cukup jika tidak dibarengi penguatan kapasitas nasional.
“Pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan investasi tanpa memperkuat pelaku usaha nasional,” tegas Mukit di hadapan para peserta simposium.
Ia menekankan, investasi asing memang penting, namun harus diposisikan sebagai sarana—bukan tujuan akhir. Dana yang masuk seharusnya dimanfaatkan untuk membangun industri nasional, memperkuat rantai pasok domestik, mendorong transfer teknologi, serta melahirkan perusahaan-perusahaan Indonesia yang mampu berdiri sejajar dengan pemain global.
“Mengundang investasi itu penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana investasi itu memperbesar kekuatan ekonomi bangsa, bukan sekadar menaikkan angka statistik,” ujarnya.
Pengusaha Bukan Sekadar Pelaku Pasar
Bagi Mukit, pengusaha nasional memiliki peran strategis yang melampaui fungsi ekonomi semata. Mereka adalah pencipta lapangan kerja, penggerak inovasi, pembangun industri, dan mitra negara dalam menjaga ketahanan ekonomi.
“Indonesia membutuhkan pengusaha yang tangguh, inovatif, dan mampu bersaing secara global. Kehadiran pelaku usaha nasional juga penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi dalam negeri,” ungkapnya.
Ia mendorong para pengusaha Indonesia agar berani melampaui orientasi dagang jangka pendek menuju pembangunan kapasitas produksi berkelanjutan. Menurut Mukit, mereka harus menjadi pelopor inovasi, memperkuat sektor manufaktur, mengembangkan teknologi, dan membangun merek-merek nasional yang mendunia.
“Dengan begitu, dunia usaha tidak hanya menciptakan keuntungan ekonomi, tetapi juga membangun martabat bangsa melalui peningkatan daya saing nasional,” tuturnya.
Meneladani Semangat Soemitro Djojohadikusumo
Pandangan Mukit sejalan dengan pemikiran almarhum Soemitro Djojohadikusumo yang menempatkan pembangunan ekonomi sebagai bagian dari perjuangan kebangsaan. Soemitro meyakini, kemerdekaan politik hanya bermakna jika ditopang oleh kemandirian ekonomi, penguasaan industri, dan kemampuan mengelola sumber daya strategis sendiri.
Peluncuran buku dan simposium ini menjadi ruang refleksi atas hubungan penting antara kemerdekaan politik dan kedaulatan ekonomi. Momentum ini sekaligus menegaskan kembali bahwa arsitektur perekonomian Indonesia harus bertumpu pada sinergi negara, dunia usaha, ilmu pengetahuan, dan masyarakat.
Menuju Indonesia Emas 2045
Bagi Mukit Hendrayatno, visi Indonesia Emas 2045 bukanlah sekadar target pertumbuhan ekonomi. Ia adalah cita-cita menghadirkan bangsa yang mandiri dalam produksi, unggul dalam inovasi, dan percaya diri bersaing di panggung dunia.
“Untuk mencapainya, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar modal finansial. Kami membutuhkan modal sosial berupa kepercayaan, kolaborasi, nasionalisme ekonomi, dan keberanian membangun kekuatan usaha nasional,” jelasnya.
Dalam perspektif itu, pengusaha nasional bukan sekadar pelaku pasar, melainkan bagian dari arsitektur pembangunan nasional. Mereka menjadi jembatan antara kebijakan negara, inovasi teknologi, dan kesejahteraan masyarakat.
“Semakin kuat dunia usaha nasional, semakin besar pula kemampuan Indonesia menentukan arah pembangunannya sendiri, tanpa bergantung secara berlebihan pada kekuatan eksternal,” pungkasnya.
Acara ini turut dihadiri Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Prof. Didin S. Damanhuri, Prof. Yudhie Haryono, Ph.D., Dirut RRI Dr. Ignatius Hendrasmo, M.A., Laksamana Pertama Salim, serta dua penulis buku Sumitro Anti Penjajahan, Dr. Agus Rizal dan Dedi Setiadi.
Penulis : Alri Johan
Editor : Angga Saputra






