INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Jati Diri adalah Koentji

Jati Diri adalah Koentji

Suasana masa lalu di sebuah warung kopi tepi sungai Logawa, Cimeleng.

Minggu, 2 Agustus 2026

Era Prima Nugraha
(pegiat seni, budaya, dan literasi)

Leluhur kita sudah berpikir sangat wise bijaksana berbasis wisdom. Mereka mampu berpikir sistemik, strategic dan taktikal.

Misalnya di desa, diciptakanlah sistem Lumbung Padi. Kemudian baru insfratrukturnya berupa sarana tempat dibangun. Sistem Lumbung Padi itu ditata sejak dari hulu, dari awal pengaturan lahannya. Misalnya menerapkan dan menetapkan jenis-jenis hutan dan lahan di desa. Ada hutan larangan, hutan lindung, hutan tanaman obat, hutan tanaman pangan, hutan kayu, hutan untuk binatang yang bisa diburu, hutan perlindungan satwa endemik. Hutan untuk konservasi air (hidrologi), hutan untuk fungsi peribadatan maupun spiritual.

Pendeknya setiap tempat ditandai dan ditata dengan baik. Bahkan sungaipun ada aturan penggunaan adab dan tata caranya. Adab musim mengambil ikan, adab menjaga kebersihan dan kesucian. Adab menjaga kelanggengan sumberdaya air. Tata cara penggunan air untuk keperluan pertanian, perikanan maupun kebutuhan domestik warga.

Untuk memudahkan sebagai pengingat bagi generasi selanjutnya, leluhur kita membuat tanda. Baik itu berupa pengetahuan tak benda _(intangible)_ seperti pranata mangsa, cerita rakyat, toponimi tempat maupun ke dalam pengetahuan benda _(tangible)_ itu sendiri. Misalnya arca Ganecya untuk menandai wilayah yang rawan bencana longsor dan tanah bergerak. Watu lumpang untuk daerah penjaga pangan. Lingga Yoni Untuk kawasan spiritual dan air. Dorphal untuk wilayah rawan gempa. Menhir untuk batas teritorial dan lain sebagainya.

Air yang mengairi sawah juga ditata sedemikian rupa. Struktur lahan sawah ditata sistematis menggunakan ilmu dasar terasering dengan sangat detail, hingga bisa memastikan arah aliran air secara geometris berdasarkan gravitasi kontur dan topografi kemiringan.

Juga soal menanam, merawat dan memanen padi menerapkan sistem gotong royong sambatan berbasis semangat sukarela _(volunteer),_ dengan sistem bagi hasil “bawonan” sesuai kompetensi dan partisipasi sumbangsih pekerjaan. Area sawah pun dikapling dan dibagi, ada sawah untuk para tetua dan sesepuh tempat penutur kebijaksanaan pengetahuan. Ada sawah untuk para pengurus desa: bayan, ulu-ulu, mantri, juru demung, lurah, demang, Ki Ageng, carik, cantrik, abdi, untuk upeti persemakmuran _(commonwealth)_ kerajaan dan lain-lain. Ada juga sawah untuk lahan “perdikan” dan “Shima” yang mengelola peribadatan dan tempat suci. Baru kemudian sawah-sawah untuk seluruh warga masyarakat.

Selain sawah, tanah ladang juga ditata untuk menghasilkan aneka umbi, palawija, buah-buahan, sayur-sayuran, peternakan dan sumber pangan sekunder lainnya. Kehidupan begitu harmonis dan selaras. Memotret keadaan ini, tentu tidak berlebihan jika Clifford Geertz, antropolog Amerika Serikat memberikan catatan khusus dalam magnum opusnya _Religion of Java_, “orang Jawa tidak akan pernah mati kelaparan sepanjang ia tidak dipisahkan dengan kebun belakang rumahnya”.

Dalam pranata ekonomi, pembayaran barter berbasis pertukaran nilai lebih diutamakan daripada uang. Tidak ada penumpukan kapital dan eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan, timpang dan monopolistik.

Bahkan hingga cara mendirikan rumah pun diseragamkan sebagai aturan rumah adat. Dengan keseluruhan kesepakatan berupa tata cara dan nilai filosofisnya. Sehingga semua tempat yang dibangun merupakan aglomerasi sehat pengumpulan energi kosmis mikro maupun makro yang “nyawiji” dengan Pencipta dan alam penciptaan.

Untuk memutuskan perkara, leluhur kita menggunakan sistem rembug desa atau musyawarah. Bagaimana adat tata cara menerima tamu dan orang asing. Bagaimana sanksi atas pelanggaran hutan adat. Bagaimana konsekuensi atas tindakan menyimpang, tercela, amoral dan lain sebagainya.

Urusan pasca panen juga dikelola dengan visioner. Leluhur sudah paham tentang pergudangan dan _storage_ atau sistem penyimpanan kendali bahan baku dan bahan pokok. Dibuatlah sistem Lumbung Padi dan Sistem Mina Martani. Sehingga memastikan setiap warga desa tidak ada yang kekurangan bahan makanan. Tidak ada kata miskin maupun yang terjebak hutang rentenir karena memang tidak lazim penggunaan uang berlebihan. Semua warga Desa adalah satu unit ekosistem yang saling berkontribusi sesuai _skill_ , _knowledge_ dan kompetensi praktis dan taktisnya. Semua warga saling bantu membantu sebagai keseluruhan kohesi yang solutif.

Dalam konteks relevansi era saat ini, masyarakat Cipta Gelar misalnya masih melestarikan tradisi kebijaksnaan tersebut, sehingga mempunyai daya ketahanan pangan hingga 100 tahun ke depan melalui tata cara bertani yang genuine dan otentik berbasis kelestarian lingkungan. Masyarakat Baduy, Mentawai dan Suku Kajang di Sulawesi juga adalah contoh hidup yang bisa kita teladani dalam komitmen dan konsistensi menjaga hutan lestari.

Sampai kemudian Kompeni dengan semangat revolusi industri Eropanya datang ke negeri ini. Mengenalkan uang, imbalan materi, penumpukan kapital dan eksploitasi berlebihan sumberdaya alam. Mengenalkan modernitas yang resisten dengan bentang alam dan _landscape_ lingkungan hidup bangsa Nusantara.

Lalu kita merebutnya kemudian. Kita menamakan diri KEMERDEKAAN. Tapi apalah arti Merdeka jika jiwa dan cara kita hidup dan berpikir di negeri Nusantara masih layaknya Kompeni saja.

Memang banyak infrastruktur dibangun, tapi tanpa pondasi sistem yang menopangnya. Lalu tiba-tiba mangkrak dan jadi area peternakan jin dan setan 7 turunan. Merdeka!!!

Cimeleng, Radite bedug luhur 2 Agustus 2026

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Matraman, dari Benteng Mataram hingga Tawuran Turun-Temurun

Selanjutnya

PENDIDIKAN MORAL PANCASILA TINGGAL IMPIAN

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Jangan Anggap Remeh! Polkadots Terus Eksis di Tengah Industri Musik yang Instan

Jangan Anggap Remeh! Polkadots Terus Eksis di Tengah Industri Musik yang Instan

Minggu, 2 Agustus 2026

MENGOKOHKAN ONTOLOGI EKOPOL PANCASILA

PENDIDIKAN MORAL PANCASILA TINGGAL IMPIAN

Minggu, 2 Agustus 2026

Jati Diri adalah Koentji

Jati Diri adalah Koentji

Minggu, 2 Agustus 2026

Selanjutnya
MENGOKOHKAN ONTOLOGI EKOPOL PANCASILA

PENDIDIKAN MORAL PANCASILA TINGGAL IMPIAN

Jangan Anggap Remeh! Polkadots Terus Eksis di Tengah Industri Musik yang Instan

Jangan Anggap Remeh! Polkadots Terus Eksis di Tengah Industri Musik yang Instan

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI

© 2021 indiebanyumas.com