Mikhail Adam (Peneliti Ekopol di Nusantara Centre).
Merayakan Indonesia dan membuatnya menjadi “raya serta jaya.” Inilah tema program Nusantara Centre pada bulan juni-juli ini (2026). Program yang disusun untuk menyambut kemerdekaan ke-81. Dan, cara kami merayakannya adalah membuat kelas jenius pikiran para pendiri republik, membukukannya, memfilemkannya dan menyebarkannya dalam semangat “kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara.” Tirto Adhi Soerjo, adalah tokoh keduabelas dari tujuhbelas tokoh yang terpilih. Mari kita baca, teliti dan teladani.
Yang terwariskan adalah tulisan. Tetapi, pada mulanya adalah sunyi. Ya. Sunyi yang dipelihara oleh kekuasaan kolonial: sunyi di desa-desa, sunyi di ladang tebu, sunyi di pelabuhan, sunyi di kepala pribumi yang dipaksa percaya bahwa mereka dilahirkan untuk tunduk. Jadi budak dan jongos. Bukan tuan dan orang merdeka.
Lalu, pada awal abad ke-20, sunyi itu pecah. Bukan oleh letupan senjata, melainkan oleh suara mesin cetak yang kasar, berisik, dan berani di sudut Batavia. Di sanalah Tirto Adhi Soerjo berdiri, bukan sebagai panglima bersenjata, melainkan sebagai penggerak instrumen kata-kata. Kelak kata-kata itu menciptakan sebuah gelombang sejarah yang lebih besar dari dentum meriam: Ledakan kesadaran.
Tirto tidak datang dari ruang hampa. Ia lahir dari zaman yang luka: Kolonialisme Belanda yang menindas, membagi manusia berdasarkan warna kulit dan silsilah. Ia menyaksikan, hukum dijadikan alat penindasan, ketidakadilan dipertontonkan, kekayaan Nusantara dikuras sementara rakyatnya dibiarkan miskin, hingga pers diubah menjadi corong kekuasaan. Dari kegelisahan itulah ia menulis, dari tulisan itulah ia melawan pembodohan.
Tirto lahir pada 1880 di Blora, Jawa Tengah, dari keluarga priyayi. Latar belakang ini memberinya akses pada pendidikan yang terlampau mewah untuk anak-anak republik. Ia mengenyam pendidikan di STOVIA, sekolah kedokteran. Namun garis hidup membawanya pada takdir lain. Ia tidak menamatkan studinya, seolah sadar bahwa penyakit terbesar bangsanya adalah ketidakadilan struktural.
Ia melangkah lebih jauh dari sekadar mendiagnosis penyakit medis, melainkan membongkar penyakit peradaban, yakni kolonialisme. “Yang paling ditakuti kolonialisme,” katanya seperti puisi yang jujur, “bukanlah senjata, melainkan rakyat yang mulai memahami dirinya sendiri.”
Pada titik ini, Tirto menggurat jalannya sendiri: jalan pena untuk mencerdaskan dan membangun kesadaran di Bumi Pertiwi.
“Menjadi jurnalis,” katanya jernih nyaris teatrikal, “membuat saya bisa menggerakkan hati dan menggugah kesadaran bangsa yang terjajah.”
Ia mulai menulis di berbagai surat kabar berbahasa Melayu dan Belanda. Dari sana, Tirto belajar satu hal penting: pers bukan sekadar medium informasi, tetapi arena politik. Setiap kalimat mengandung sikap. Setiap berita adalah keberpihakan. Ia menulis dengan nada yang mengganggu kekuasaan: tajam, argumentatif, dan rasional.
Setelah setahun sebelumnya, ide itu diformulasikan di Sarikat Prijaji. Usaha memadukan pers dan aktivitas dagang. Pers sebagai medium membangkitkan kesadaran, aktivitas dagang sebagai swadaya ekonomi. Tahun 1907, ide itu menemukan bentuknya dalam koran Medan Prijaji. Surat kabar nasional pertama, ketika sebagian besar pribumi bahkan belum diakui sebagai “subjek hukum.”
Tirto memberi pelajaran penting tentang merebut hak dan memulai imajinasi pada bangsanya.
Medan Prijaji bukan sekadar surat kabar, tetapi tonggak sejarah. Untuk pertama kalinya, pers dijalankan oleh orang Indonesia, untuk membela kepentingan bangsa Indonesia. Ia tidak meminta belas kasihan, melainkan merebut hak dan memperjuangkan martabat.
Koran berbahasa melayu ini memakai simbol ‘terprentah’ sebagai pengikat perasaan bersama. Pemersatu masyarakat yang beragam di tanah Nusantara. “Indonesia,” katanya bening dan puitis, “agar tak lagi menjadi bangsa yang terperintah.”
Medan Prijaji menyematkan diri sebagai “organ bangsa yang berperadaban,” ini bukan frasa tanpa makna, melainkan sebuah pernyataan politik yang terang dan berani. Tirto percaya bahwa bangsa yang tercerahkan tidak lahir dari pidato kosong, melainkan dari kesadaran. Karena itu ia menulis untuk membangunkan pikiran yang merdeka.
Dalam kolom-kolomnya, ia menulis tentang ketidakadilan agraria, penindasan buruh, arogansi pejabat kolonial, dan penghinaan terhadap martabat bangsa yang dijajah. Tirto menjadikan rakyat kecil sebagai subjek, bukan objek berita. Mereka yang selama ini hanya disebut sebagai angka, tiba-tiba punya nama, punya cerita, punya hak untuk hidup bermartabat.
“Menulis kebenaran selalu mengandung bahaya,” katanya seperti mengajak anak-anak republik merenung, “tetapi diam mengandung kehancuran yang lebih pasti.”
Pena Tirto yang kritis segera dianggap ancaman. Namun yang paling membuatnya berbahaya bukan kritiknya terhadap pemerintah kolonial, melainkan serangannya terhadap feodalisme pribumi yang menopang struktur kekuasaan Belanda. Ia menelanjangi elite lokal yang bersekongkol dengan penjajah, menikmati fasilitas kolonial sambil membiarkan rakyatnya tetap tertindas.
Di sanalah jurnalisme berubah menjadi perlawanan, dan perlawanan menemukan bentuknya yang paling sunyi namun paling terpatri dalam ingatan republik tentang kemerdekaan berpikir. Jurnalisme di tangan Tirto menjadi keberanian moral. “Pers,” kata Tirto tenang, tetapi menggetarkan, “harus menjadi alat pembela kepentingan rakyat yang lemah, bukan untuk menjilat kekuasaan.”
Tahun 1909, Tirto menguak skandal pemilihan lurah yang melibatkan A. Simon, Aspiran Kontrolir Purworejo. Pemerintah Hindia Belanda merespon dengan delik pers, Durkpersreglement 1856 dan mengasingkannya ke Teluk Betung Lampung. Tetapi itu tak berhasil melunakkan semangat perjuangan Tirto. Medan Prijaji, surat kabar yang didirikannya justru semakin berkembang, oplahnya menyentuh 2000 eksemplar pada tahun 1909-1911.
Tak hanya kiprahnya sebagai jurnalis, Tirto ikut membidani lahirnya Sarekat Islam. Organisasi ini membuka ruang baru bagi pedagang kecil dan anak-anak republik untuk berserikat. Ia percaya organisasi adalah alat perjuangan. Sarekat Islam sendiri kelak menandai gerakan massa terbesar pertama dalam sejarah Indonesia modern.
“Rakyat yang berserikat,” katanya seperti percakapan yang memecah kesunyian, “adalah kekuatan yang sulit dipatahkan.”
Kepeloporan Tirto dengan Sarikat Prijaji dan Medan Prijaji berperan dalam memulai kebangkitan nasional. Ia orang yang menanam akar pergerakan kebangsaan. Api sejarah yang menandai spirit kebangsaan dan imajinasi menjadi bangsa yang merdeka. Tetapi baginya, kebangkitan nasional bukan seremonial, melainkan ikhtiar panjang: membangun kesadaran, melatih keberanian, menyusun metode perjuangan.
Sebuah bangsa tidak dilahirkan oleh deklarasi, melainkan oleh pendidikan politik yang tekun dan tak putus. Kelak di sanalah menjadi kawah candradimuka para pemimpin bangsa dan sejarah mulai menemukan arahnya.
Namun, sejarah jarang memberi hadiah pada orang yang terlalu jujur. Tahun 1912, Medan Prijaji diberangus. Tirto kembali dijerat delik pers dan diasingkan ke Pulau Bacan, Halmahera. Jauh dari pusat pergerakan, jauh dari mesin cetak. Pengasingan ini bukan sekadar hukuman fisik, melainkan upaya sistematis untuk memutus jaringan, mematikan pengaruh, dan mengubur namanya dari ingatan publik.
Pemerintah kolonial menganggap jarak bisa membunuh kekuatan pena, meredam pengaruh Tirto. Tetapi sejarah membuktikan sebaliknya: kata-kata tidak pernah benar-benar mati. Sekali ia membangunkan kesadaran, dia akan menghidupkan pikiran merdeka, dari satu generasi ke generasi lain. Dan pikiran yang merdeka menjadi awal ajal politik kolonial Belanda di bumi pertiwi, menuntun republik menuju cita-cita kemerdekaan.
Sekembalinya dari pengasingan, kesehatannya merosot, tubuhnya kian melemah. Pada 1918, di usia 38 tahun, ia wafat di Batavia. Hampir tanpa liputan, hampir tanpa penghormatan. Ia pergi dalam sepi yang ironis bagi seseorang yang hidupnya diabdikan untuk memecah kesunyian.
Sang murid, Marco Kartodikromo mengenang Tirto sebagai gurunya, “Pembaca surat kabar mungkin tak tahu siapa Raden Tirto Adhi Soerjo?” katanya lirih seperti doa, “dialah bapak jurnalis Indonesia.”
Tirto adalah orang yang membangun imajinasi. Memulai kepeloporan dalam banyak aspek, dalam pers, gagasan kebangsaan, dan spirit kebangkitan nasional.
Tetapi ironi sering terjadi bagi mereka yang memulai. Tirto tidak menyaksikan Indonesia merdeka. Tetapi anak-anak republik membaca jejaknya, diam-diam, dari arsip ke arsip, dari generasi ke generasi. Beberapa dekade setelah kemerdekaan, Pramoedya Ananta Toer, sastrawan ternama Indonesia menggali jejaknya. Pram menghidupkan kembali kisahnya dalam karyanya Sang Pemula, Jejak Langkah, dan novel magnum opusnya Bumi Manusia.
Ia meninggalkan sesuatu yang lebih tahan lama dari monumen: etika dan inspirasi. Tentang martabat, tentang menolak tunduk, tentang pers sebagai alat pembebasan, dan tentang memenuhi tanggung jawab sejarah dengan keberanian moral.
Pemikiran Tirto mendahului zamannya. Ia memahami bahwa kemerdekaan bukan sekadar mengusir penjajah, melainkan membangun kesadaran dan martabat. Dalam banyak hal, Tirto adalah cetak biru republik yang belum lahir: republik yang berani berpikir, berani berbeda, dan berani memulai perjalanannya sendiri.
Tirto bukan sekadar pelopor pers nasional. Ia adalah pelajaran sejarah yang hidup: tentang harga sebuah keberanian, tentang sunyi yang harus dipecahkan, rentang imajinasi yang harus dimulai, dan tentang kata-kata yang harus meniti sejarahnya sendiri.
Tirto Adhi Soerjo menjadi cermin paling jernih bahwa kata-kata yang dipimpin oleh keberanian moral akan selalu menemukan jalannya sendiri menuju masa depan. Dengan kata, kalimat, berita, koran dan buku, republik ini diproklamasikan.(*)








