PURWOKERTO – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 5 Purwokerto resmi mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di empat stasiun utama wilayahnya sebagai bagian dari komitmen transisi energi hijau.
PLTS tersebut telah terpasang dan beroperasi sejak 2023 di Stasiun Purwokerto, Kutoarjo, Kroya, dan Cilacap. Langkah ini menjadi wujud nyata implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sekaligus mendorong pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) di sektor transportasi massal.
Manager Humas KAI Daop 5 Purwokerto, M. As’ad Habibuddin, menyatakan bahwa pemanfaatan energi matahari yang melimpah di wilayah tersebut memberikan dampak ganda, yakni pengurangan emisi karbon dan efisiensi operasional.
“KAI Daop 5 berkomitmen menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan. Dengan PLTS, kami tidak hanya mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan,” ujar As’ad dalam keterangan resmi, Senin (6/7).
Sistem PLTS yang digunakan adalah jenis on grid, yang terhubung langsung dengan jaringan listrik PLN tanpa baterai. Sistem ini dinilai efektif dan efisien untuk stasiun dengan akses listrik stabil.
Hasilnya, implementasi PLTS di keempat stasiun mampu memberikan efisiensi energi listrik hingga sekitar 20 persen, yang berdampak pada penghematan biaya operasional secara signifikan.
Berdasarkan kajian teknis, total kapasitas terpasang PLTS di wilayah Daop 5 Purwokerto mencapai 96,3 kWp. Dengan kapasitas tersebut, PLTS diperkirakan mampu menghasilkan 125.000 hingga 144.000 kWh listrik bersih per tahun.
Dari produksi listrik itu, potensi pengurangan emisi karbon mencapai 105 hingga 125 ton CO₂ per tahun, berdasarkan faktor emisi sistem ketenagalistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali) sebesar 0,84–0,87 ton CO₂ per MWh dari Kementerian ESDM.
As’ad menambahkan, pengembangan PLTS akan terus dilakukan secara bertahap seiring komitmen perusahaan dalam meningkatkan porsi energi baru terbarukan di seluruh lingkungan operasional KAI.
“Kami akan terus mendorong penggunaan EBT, agar operasional kereta api tidak hanya andal, tapi juga semakin ramah lingkungan. Semoga upaya ini memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” tutupnya.
Penulis : Alri Johan
Editor : Angga Saputra







