Santhi Pertiwi, M.Pd. (Dosen Univ MH Thamrin).
Piala Dunia selalu menghadirkan cerita yang menarik. Perhatian jutaan orang tertuju pada skor pertandingan, klasemen, dan peluang sebuah tim untuk melangkah ke babak berikutnya. Kemenangan dirayakan, kekalahan disesalkan, dan setiap gol menjadi bahan perbincangan. Namun, di balik skor yang terlihat di papan pertandingan, sesungguhnya terdapat proses panjang yang tidak selalu tampak di mata penonton.
Tidak ada tim yang tiba-tiba menjadi juara dunia. Prestasi yang terlihat selama 90 menit di lapangan merupakan hasil dari pembinaan yang berlangsung bertahun-tahun. Pemain muda dibina sejak usia dini, pelatih terus meningkatkan kompetensinya, kompetisi diselenggarakan secara berjenjang, dan organisasi olahraga membangun sistem yang berkelanjutan. Skor yang muncul pada hari pertandingan hanyalah ujung dari proses panjang tersebut.
Pelajaran yang sama tampaknya perlu kita gunakan dalam melihat dunia pendidikan, terutama ketika masyarakat sedang menaruh perhatian pada pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Berbagai diskusi bermunculan mengenai nilai yang diperoleh peserta didik, tingkat pencapaian akademik, hingga kemungkinan pemanfaatan hasil tes tersebut dalam berbagai kebijakan pendidikan.
Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan pengukuran. Dalam pendidikan, evaluasi memang diperlukan untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai. Sama seperti papan skor dalam sepak bola, hasil tes dapat memberikan informasi mengenai capaian yang berhasil diraih. Persoalannya muncul ketika perhatian kita terlalu terfokus pada hasil akhir, sementara proses yang menghasilkan hasil tersebut justru terabaikan.
TKA dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan akademik peserta didik pada titik tertentu. Namun, sebagaimana skor pertandingan, hasil TKA tidak dapat berdiri sendiri. Ia merupakan cerminan dari proses pembelajaran yang berlangsung jauh sebelumnya. Nilai yang diperoleh seorang peserta didik tidak lahir pada saat ia mengerjakan soal ujian. Nilai tersebut merupakan akumulasi dari pengalaman belajar yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Di balik setiap nilai terdapat banyak faktor yang memengaruhinya. Kualitas pembelajaran di kelas, kompetensi guru, budaya literasi, dukungan keluarga, lingkungan sekolah, hingga kesempatan belajar yang dimiliki setiap anak turut membentuk capaian tersebut. Karena itu, nilai yang tinggi tidak selalu mencerminkan proses yang ideal, sebagaimana nilai yang rendah tidak selalu menunjukkan rendahnya potensi peserta didik.
Dalam berbagai kajian pendidikan internasional, termasuk melalui Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan OECD, perhatian tidak hanya diberikan pada capaian siswa, tetapi juga pada faktor-faktor yang memengaruhi capaian tersebut. Negara-negara yang menunjukkan hasil pendidikan yang baik umumnya memiliki sistem yang kuat, budaya belajar yang positif, kualitas guru yang terus ditingkatkan, serta kebijakan yang konsisten dalam jangka panjang.
Pelajaran ini sejalan dengan apa yang dapat diamati dari negara-negara yang konsisten berprestasi dalam sepak bola. Mereka tidak hanya berfokus pada kemenangan dalam satu pertandingan. Mereka berinvestasi pada pembinaan usia dini, memperkuat organisasi, meningkatkan kualitas pelatih, serta membangun budaya yang mendukung prestasi. Mereka memahami bahwa kemenangan adalah konsekuensi dari proses yang dikelola dengan baik.
Pendidikan Indonesia menghadapi tantangan yang serupa. Kita tentu berharap hasil belajar peserta didik terus meningkat. Namun peningkatan tersebut tidak dapat dicapai hanya dengan memperbaiki sistem penilaian atau menambah instrumen evaluasi. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa proses pembelajaran di ruang kelas berlangsung secara bermakna, guru memperoleh dukungan yang memadai, dan peserta didik memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang sesuai potensinya.
Karena itu, diskusi mengenai TKA seharusnya tidak berhenti pada angka, peringkat, atau capaian semata. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana proses pembelajaran berlangsung sebelum peserta didik mengikuti tes tersebut. Apakah budaya literasi tumbuh di sekolah? Apakah pembelajaran mendorong kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah? Apakah guru memiliki ruang untuk terus berkembang? Dan apakah setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang berkualitas?
Dalam perspektif manajemen pendidikan, kualitas hasil sangat ditentukan oleh kualitas proses. Pengukuran memang penting, tetapi pengukuran bukanlah tujuan akhir. Nilai seharusnya menjadi alat untuk memahami kondisi pendidikan dan dasar untuk melakukan perbaikan, bukan sekadar angka yang dikejar.
Piala Dunia mengingatkan kita bahwa skor hanyalah bagian akhir dari sebuah perjalanan panjang. Demikian pula dalam pendidikan, nilai hanyalah salah satu indikator dari proses belajar yang jauh lebih kompleks. Oleh karena itu, di tengah berbagai diskusi mengenai hasil tes dan capaian akademik, mungkin sudah saatnya perhatian kita tidak hanya tertuju pada angka yang terlihat, tetapi juga pada proses yang membentuknya.
Sebab pada akhirnya, baik dalam sepak bola maupun pendidikan, keberhasilan tidak ditentukan oleh apa yang tampak di papan skor, melainkan oleh kualitas proses yang berlangsung jauh sebelum skor dan nilai itu muncul.(*)








