AJIBARANG – Rencana nonton bareng (nobar) film Pesta Babi di Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, terganjal penolakan berlapis. Penyelenggara mengaku terpaksa mengubah lokasi sebanyak enam kali sebelum akhirnya acara sukses digelar pada Senin malam (18/5/2026).
Nobar tersebut diinisiasi oleh kolektif Pentol Korek Ajibarang. Menurut perwakilan komunitas, Kafka, tujuan acara ini untuk mendorong masyarakat agar lebih kritis dan bijak dalam menanggapi isu atau persoalan tertentu.
“Dari saya sendiri, tujuan diadakannya nonton bareng film Pesta Babi agar kami selaku masyarakat belajar lebih bijak dalam menilai atau menanggapi sesuatu, entah isu ataupun persoalan tertentu,” ujar Kafka, Selasa (19/5/2026).
Ia menambahkan, dengan adanya nobar di Ajibarang, masyarakat bisa menilai menurut pendapat masing-masing setelah menonton secara langsung. “Dan yang pasti legal,” tegasnya.
Kafka mengakui bahwa penolakan terhadap acara ini cukup kuat. Panitia bahkan harus berganti tempat kurang lebih enam kali.
“Terkait penolakan tetap ada, bahkan kami harus mengubah rencana dan berganti tempat kurang lebih enam kali. Pihak yang menolak dan alasan penolakannya pun bermacam-macam,” ungkapnya.
Meski demikian, ia bersyariat karena selalu ada kemudahan. Panitia lantas berkoordinasi dengan koordinator tim Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang konsen terhadap demokrasi, Agusta Awali Amrullah, S.H.
“Beliau mempersilakan kediamannya dijadikan tempat untuk diselenggarakannya acara tersebut,” kata Kafka.
Meski mendapat penolakan, acara yang digelar malam itu tetap berlangsung ramai. Kafka menyebut masyarakat yang hadir cukup banyak dan beragam.
“Masyarakat yang hadir cukup ramai dan bermacam-macam kategori, dari anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut hadir. Bahkan yang menghadiri tidak hanya dari Desa Ajibarang, tapi juga dari luar desa bahkan luar kecamatan,” jelasnya.
“Desa dengan Generasi Kritis Sulit Dimanipulasi”
Agusta Awali Amrullah, S.H., turut memberikan apresiasi. Ia menekankan pentingnya keberanian generasi muda untuk bersikap kritis.
“Saya percaya, desa atau daerah yang dihuni generasi muda kritis akan lebih sulit dimanipulasi, lebih berani mengawasi kekuasaan, dan lebih peduli terhadap persoalan sosial di lingkungannya,” ujar Agusta.
Ia menegaskan bahwa sikap kritis bukanlah ancaman. “Sikap kritis bukan ancaman, melainkan tanda bahwa kesadaran masyarakat sedang hidup. Tentu kritik juga harus disampaikan dengan cara yang bertanggung jawab, terbuka terhadap diskusi, dan tidak anti terhadap perbedaan,” katanya.
Agusta mengucapkan terima kasih kepada seluruh teman muda Ajibarang yang tetap pantang menyerah hingga acara akhirnya terlaksana.
“Semoga keberanian kecil seperti ini terus tumbuh menjadi budaya diskusi yang sehat, sehingga Ajibarang tidak hanya dikenal sebagai daerah yang tenang, tetapi juga sebagai tempat lahirnya generasi muda yang sadar, berani, dan tidak mudah dibungkam,” pungkasnya.
Penulis : Angga Saputra








