PURWOKERTO – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan konstruksi ramah lingkungan. Melalui Program Studi Teknik Sipil, kampus ini menggelar Civil Carnival 10.0 yang berpusat pada Seminar Nasional dengan tajuk “Menjawab Tantangan Global Melalui Modernisasi Infrastruktur Ramah Lingkungan dan Green Building Berbasis SDGs 9”, Selasa (12/5/2026) kemarin.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Fakultas Teknik dan Sains UMP ini tidak hanya menjadi forum diskusi akademik, tetapi juga ajang unjuk gigi inovasi bagi mahasiswa teknik sipil dari berbagai daerah.
Pantauan di lokasi, acara yang berlangsung hingga Rabu (13/5) ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi dan sekolah menengah kejuruan di Indonesia. Antusiasme terlihat dari padatnya rangkaian kompetisi yang digelar, mulai dari lomba beton, lomba balsa (uji kekuatan struktur kayu), lomba AutoCAD, hingga lomba tender proyek.
Ketua Program Studi Teknik Sipil UMP, Assoc. Prof. Dr. Juanita, S.T., M.T., ACPE., menjelaskan bahwa kompetisi tersebut dirancang sebagai simulasi nyata dari dunia industri jasa konstruksi.
“Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi material, logika struktur, hingga kemampuan perancangan digital dan manajerial. Kami ingin mahasiswa mendapat pengalaman praktis yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” ungkapnya saat ditemui di Purwokerto, Rabu (13/5/2026).
Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Prof. Dr. Jebul Suroso, dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif tersebut. Menurutnya, tema yang diangkat sangat sejalan dengan arah pengembangan universitas.
“Kami bangga karena kegiatan ini diikuti lebih dari 100 delegasi dari berbagai daerah di Indonesia. Mahasiswa teknik sipil harus adaptif terhadap teknologi konstruksi modern dan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan,” ujar Prof. Jebul.
Pentingnya Infrastruktur Tangguh Bencana
Salah satu narasumber kunci, Prof. Ir. Muhamad Abduh, M.T., Ph.D., Guru Besar Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB), menyoroti kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Ia menekankan bahwa pembangunan infrastruktur hijau di Indonesia tidak cukup hanya ramah lingkungan, tetapi juga harus tangguh (resilien) terhadap bencana.
“Infrastruktur berkelanjutan itu harus resilien. Indonesia rentan gempa, banjir, dan longsor. Jangan hanya membangun yang terlihat modern, tapi pastikan mampu bertahan jangka panjang, aman bagi masyarakat, dan menjaga lingkungan,” tegas Prof. Abduh.
Ia menambahkan, konsep green building yang selaras dengan SDGs 9 harus mencakup efisiensi energi, penggunaan material ramah lingkungan, serta aspek keselamatan jangka panjang.
Melalui Civil Carnival 10.0, UMP berharap tercipta ruang kolaborasi akademik yang melahirkan gagasan dan inovasi nyata. Fokus utamanya adalah mendukung pembangunan infrastruktur modern di Indonesia yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga tangguh terhadap bencana dan selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan.
Penulis : Alri Johan
Editor : Angga Saputra








