CILACAP -Gerakan audio mandiri pesantren terus meluas. Kini giliran Pondok Pesantren Al Mukhtar, Adipala, Cilacap, yang menjadi lokasi pengembangan ekosistem audio pesantren melalui workshop basic audio sekaligus peresmian Sonus Mukhtar Academy, Jumat (8/5) sore.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 15.00 hingga 17.00 WIB ini mengusung tema “Mewujudkan Gerakan Audio Mandiri Pesantren”. Acara diikuti oleh santri pilihan tingkat SMP dan SMA di lingkungan Ponpes Al Mukhtar.
Sonus Mukhtar Academy resmi menjadi akademi audio pesantren kedua setelah sebelumnya hadir Dar Asshout Andalusia. Akademi ini diharapkan menjadi wadah pembelajaran dasar audio dan sound system bagi para santri.
Peresmian dilakukan secara simbolis dengan sesi foto bersama antara Idris Ziee (Founder & Concept Developer ABAP) dan Ustadz Maryono (Lurah Ponpes Al Mukhtar). Turut hadir Ardi (Ketua ABAP) serta Irvanul Khoir (Ketua KSSP Plat R) yang turut mendukung penuh jalannya acara.
Santri Tidak Kalah dengan Masyarakat Luar
Dalam sambutannya, Ustadz Maryono menegaskan bahwa santri memiliki potensi besar yang tidak kalah dengan masyarakat umum.
“Santri sejatinya memiliki banyak potensi dan pengalaman yang tidak kalah dengan masyarakat luar. Pesantren saat ini tidak hanya tempat belajar agama, tetapi juga ruang pengembangan keterampilan dan kemandirian,” ujarnya.
Ia mencontohkan berbagai bidang yang mulai berkembang di pesantren, seperti pertanian, peternakan, media, event organizer, hingga sound system.
Melawan Stigma Negatif dengan Gerakan Audio
Idris Ziee dalam pemaparannya menjelaskan bahwa lahirnya ABAP dan KSSP Nusantara berangkat dari keresahan terhadap stigma negatif yang kerap dialamatkan ke pesantren.
“Anggapan seperti ‘nyantri memang mau jadi apa?’ hingga stereotip feodalisme yang sering berkembang di masyarakat, ingin kami lawan melalui gerakan audio pesantren,” jelas Idris.
Ia menambahkan bahwa soundman pesantren tidak seharusnya dipandang sebelah mata. ABAP hadir bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan gerakan pendidikan kaderisasi santri di bidang sound system profesional. Sebagai bentuk keseriusan, Idris bahkan telah menyusun buku panduan audio ber-ISBN untuk membangun literasi audio pesantren.
Praktik Langsung dan Sesi Interaktif yang Meriah
Tak hanya teori, Idris langsung mempraktikkan materi dasar audio menggunakan papan tulis dan tampilan visual melalui layar LCD. Para peserta tampak antusias mengenal perangkat, alur sistem audio, hingga teknik dasar pengoperasian sound system.
Sesi tanya jawab yang berlangsung usai pematerian pun berjalan meriah. Para santri berlomba mengajukan pertanyaan. Idris Ziee pun memberikan hadiah uang tunai bagi peserta dengan pertanyaan dan jawaban terbaik, membuat suasana semakin hidup.
Di sela kegiatan, Idris Ziee sempat sowan ke ndalem pengasuh Pondok Pesantren Al Mukhtar, KH. Muhammad Taefur, S.Pd. Sang kiai menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya.
“Kami sangat bersyukur dengan adanya workshop ini. Semoga KSSP terus jaya dan mampu berkembang sampai ke pelosok-pelosok Nusantara,” ujar KH. Muhammad Taefur.
Melalui kegiatan ini, ABAP dan KSSP Nusantara berharap lahirnya akademi-akademi audio pesantren baru di berbagai daerah. Gerakan ini diharapkan mampu menciptakan pesantren yang mandiri dalam pengelolaan audio, melahirkan santri kompeten di bidang sound system, serta mendukung dakwah yang lebih tertata, profesional, dan bermartabat.
Penulis : Alri Johan
Editor : Angga Saputra






