Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Hidup ini, kalau boleh diperas sampai tinggal sarinya saja, bukanlah tentang rencana. Ia lebih mirip kejutan. Orang Banyumas menyebutnya dengan satu kata yang sederhana tapi menggetarkan: ijig-ijig.
Sebuah kata yang bunyinya seperti sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari langit tanpa aba-aba.
Ijig-ijig.
Lahir—ijig-ijig.
Mati—ijig-ijig.
Rezeki—ijig-ijig.
Apes—lebih sering lagi datang dengan ijig-ijig.
Dapat anugrah– ijig-ijig
Dapat musibah— ijig-ijig
Tidak ada yang benar-benar siap. Dan sejatinya biasa saja.
Kita ini sering merasa hidup harus bisa dikendalikan. Seolah-olah dunia adalah papan catur dan kita adalah pemain utamanya. Kita susun langkah, kita hitung risiko, kita bangun harapan. Tapi hidup diam-diam menertawakan itu semua.
Sebab pada akhirnya, yang paling sering terjadi justru bukan yang kita rencanakan—melainkan yang mak bedunduk.
Tiba-tiba.
Tanpa permisi.
Tanpa aba-aba.
Dan di situlah manusia diuji, bukan oleh peristiwa itu sendiri, melainkan oleh cara ia memandangnya.
Kegelisahan manusia modern, sesungguhnya, bukan karena hidup terlalu sulit. Tapi karena ia terlalu keras kepala ingin mengatur sesuatu yang memang bukan wilayahnya. Ia lupa satu hal sederhana: bahwa dirinya terbatas.
Tidak semua bisa dikontrol.
Tidak semua bisa diperbaiki.
Tidak semua harus sesuai keinginan.
Ketika kenyataan tidak sejalan dengan harapan, yang muncul bukan sekadar kecewa—tapi perlawanan batin. Pikiran memberontak. Hati menolak. Dan dari situlah lahir ketidaknyamanan yang pelan-pelan menggerogoti jiwa.
Padahal hidup tidak sedang salah. Justru yang keliru adalah cara kita memeluknya.
Orang tua dulu memberi satu jalan sunyi yang sering disalahpahami: nrimo.
Banyak yang mengira nrimo itu pasrah tanpa daya. Padahal nrimo adalah kecerdasan batin tingkat tinggi. Ia bukan menyerah, tapi menerima dengan sadar. Ia bukan lemah, tapi paham batas.
Nrimo adalah kemampuan berkata dalam hati: “Ya wis, iki pancen dalane.”
Dan dari nrimo, lahirlah satu keadaan yang lebih dalam: lerem.
Lerem bukan diam yang kosong. Ia adalah ketenangan yang sadar. Sebuah ruang batin yang tidak lagi reaktif terhadap ijig-ijig kehidupan.
Ketika lerem hadir, hidup tidak lagi terasa sebagai ancaman. Bahkan kejutan pun bisa dinikmati seperti alunan gamelan yang tak selalu bisa ditebak nadanya.
Ada paradoks yang sering luput kita sadari:
Bahwa kita ini, sesungguhnya, tidak penting. Tapi sekaligus sangat istimewa.
Tidak penting—karena dunia akan tetap berjalan tanpa kita. Matahari tetap terbit. Pasar tetap ramai. Anak-anak tetap lahir. Orang-orang tetap mati.
Tidak ada satu pun dari kita yang menjadi pusat semesta.
Namun kita juga istimewa—karena setiap hidup adalah satu-satunya. Tidak ada pengganti. Tidak ada duplikat. Tidak ada pengulangan. Setiap orang membawa catatan, peran, dan takdirnya sendiri.
Khas.
Unik.
Tak tergantikan.
Dan anehnya, justru dalam ketidaktergantikan itulah kita belajar bahwa kita tidak perlu menjadi siapa-siapa selain diri sendiri.
Ijig-ijig mengajarkan satu hal yang tidak bisa diajarkan oleh sekolah mana pun:
bahwa hidup adalah misteri yang harus dijalani, bukan dipecahkan. Kita sering ingin tahu terlalu banyak: kenapa ini terjadi, kenapa harus saya, kenapa sekarang, kenapa begini. Tapi hidup tidak selalu memberi jawaban. Kadang ia hanya memberi peristiwa.Dan setelah peristiwa itu lewat—entah itu tangis atau tawa—yang tersisa hanyalah sepi.vSepi yang penuh tanya. Sepi yang mengajak kita duduk diam, menata napas, dan bersiap menunggu ijig-ijig berikutnya.
Maka barangkali, kebijaksanaan hidup bukan terletak pada kemampuan menghindari kejutan. Tapi pada kemampuan menyambutnya.
Dengan hati yang tidak kaget berlebihan.
Dengan pikiran yang tidak panik.
Dengan jiwa yang tidak mudah runtuh.
Karena hidup ini sendiri adalah ijig-ijig terbesar.
Kita tiba-tiba ada.
Suatu saat nanti, kita juga akan tiba-tiba tiada.
Dan di antara dua kejutan itu, kita sibuk sekali seolah-olah semuanya bisa kita atur.
Mungkin sudah saatnya kita sedikit melunak.
Sedikit nrimo.
Sedikit lerem.
Sedikit mengurangi ambisi untuk menguasai dunia yang memang tidak pernah kita miliki.
Karena pada akhirnya, yang membuat hidup terasa berat bukanlah ijig-ijig itu sendiri—melainkan keengganan kita untuk menerimanya. Dan jika suatu hari nanti hidup kembali datang dengan mak bedunduknya—membawa kabar yang tidak kita pesan, menghadirkan peristiwa yang tidak kita minta—barangkali kita tidak perlu lagi bertanya:
“Kenapa aku?”
Cukup tersenyum tipis, lalu berbisik pelan:
“Oh… ijig-ijig maning.”
Ajibarang, 14 April 2026.
Tentang Penulis :
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia







