Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Tidak ada suara ledakan dalam kerusakan pendidikan. Tidak ada tanda bahaya yang menyala. Semuanya berlangsung tertib.Surat keputusan terbit tepat waktu. Pelantikan berjalan khidmat. Ucapan selamat beredar serempak. Negara tampak bekerja. Justru di situlah masalahnya.
Ketika Aturan Menjadi Hiasan
Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025 lahir dari satu kesadaran penting: sekolah tidak boleh dipimpin secara sembarangan. Kepala sekolah bukan jabatan administratif, melainkan kepemimpinan akademik yang menentukan arah belajar sebuah generasi.
Regulasi itu merancang sesuatu yang sederhana tetapi mendasar: seleksi berbasis kompetensi, evaluasi kinerja, masa tugas yang jelas, serta mekanisme pengangkatan dan pemberhentian yang terukur. Dengan kata lain, jabatan kepala sekolah seharusnya berdiri di atas meritokrasi. Namun regulasi hanya kuat sejauh ia dijalankan.
Dan di banyak tempat, aturan berubah fungsi: bukan sebagai pengarah keputusan, melainkan pembenar keputusan yang telah dibuat sebelumnya. Proses tetap ada. Substansi menghilang.
Kekuasaan yang Turun ke Daerah
Desentralisasi pendidikan memberi pemerintah daerah kewenangan besar. Secara teori, ini mempercepat respons terhadap kebutuhan lokal. Dalam praktik politik birokrasi, kewenangan itu juga menciptakan ruang baru: distribusi jabatan sebagai instrumen kekuasaan.
Di titik inilah relasi pusat dan daerah menjadi paradoks. Pusat merancang standar profesional. Daerah mengelola realitas kekuasaan. Ketika standar bertemu kepentingan lokal, yang sering kalah adalah prinsip. Pengangkatan kepala sekolah tidak lagi sepenuhnya berbicara tentang kapasitas memimpin pembelajaran. Ia mulai berbicara tentang stabilitas politik birokrasi daerah: siapa aman, siapa selaras, siapa tidak menimbulkan gangguan. Merit berubah menjadi variabel tambahan, bukan variabel utama.
Mutasi sebagai Bahasa yang Tidak Pernah Ditulis
Dalam dokumen resmi, mutasi disebut penyegaran organisasi. Dalam praktik, ia sering menjadi bahasa tanpa kata. Seseorang dipindahkan tanpa penjelasan evaluatif yang jelas. Yang lain tiba-tiba diangkat tanpa rekam jejak kepemimpinan yang memadai. Tidak ada pelanggaran administratif yang mudah dibuktikan. Tetapi semua orang memahami pesan yang disampaikan.
Birokrasi tidak selalu berbicara melalui perintah. Ia berbicara melalui contoh. Dan contoh paling efektif adalah nasib seseorang. Dari sana lahir disiplin baru: disiplin untuk tidak terlalu berbeda. Ketika Profesionalisme Menjadi Risiko Psikologi organisasi menunjukkan bahwa manusia menyesuaikan perilakunya terhadap sistem penghargaan. Jika kompetensi tidak menentukan keberlanjutan jabatan, maka kompetensi perlahan kehilangan nilai praktis. Yang tumbuh bukan ketidakmampuan. Yang tumbuh adalah kehati-hatian berlebihan.
Kepala sekolah belajar menjaga keseimbangan: cukup bekerja, tetapi tidak terlalu menonjol; cukup inovatif, tetapi tidak melampaui batas kenyamanan struktur. Inovasi berubah menjadi kosmetik. Keberanian berubah menjadi ancaman karier. Sekolah akhirnya dipimpin oleh logika bertahan, bukan logika berkembang.
Kleptokrasi yang Tidak Terlihat
Tidak ada uang yang berpindah tangan secara mencolok. Namun sesuatu tetap dicuri. Yang hilang adalah kesinambungan. Program pendidikan berhenti setiap pergantian jabatan. Budaya sekolah reset berulang. Guru menunggu arah baru sebelum bergerak.
Energi institusi habis untuk menyesuaikan diri, bukan memperbaiki mutu belajar. Ini bentuk kleptokrasi paling sunyi: pencurian masa depan melalui ketidakstabilan kepemimpinan.
Tidak melanggar hukum secara kasat mata. Tetapi merusak tujuan hukum itu sendiri.
Administrasi sebagai Perlindungan Moral
Birokrasi modern memiliki kemampuan unik: membuat keputusan tampak netral. Selama dokumen lengkap, keputusan terlihat sah. Padahal legalitas administratif tidak selalu identik dengan keadilan profesional. Di sinilah kritik menjadi sulit. Semua tampak sesuai prosedur, sementara dampak nyatanya terasa di ruang kelas yang tidak pernah masuk laporan.
Sekolah menjadi tempat implementasi keputusan yang tidak pernah benar-benar dijelaskan. Dan guru belajar satu pelajaran diam-diam: stabilitas lebih penting daripada kebenaran.
Sistem yang Menghasilkan Kepatuhan
Tidak perlu tekanan keras untuk menciptakan kepatuhan. Cukup ketidakpastian. Ketika jabatan dapat berubah tanpa parameter transparan, organisasi secara otomatis menghasilkan keseragaman perilaku. Orang memilih aman. Diam menjadi strategi rasional. Lama-kelamaan, sistem tidak lagi membutuhkan intervensi kekuasaan langsung. Individu akan mengatur dirinya sendiri agar tetap selaras. Kontrol paling efektif adalah kontrol yang tidak terlihat.
Pendidikan yang Kehilangan Teladan
Anak-anak tidak pernah membaca peraturan kementerian. Mereka membaca realitas orang dewasa. Ketika sekolah dipimpin oleh mekanisme non-merit, pesan tersembunyi ikut diajarkan:
bahwa kualitas bukan penentu utama, bahwa relasi lebih kuat dari kompetensi, bahwa integritas harus menyesuaikan situasi. Pendidikan tetap berlangsung. Tetapi nilai yang diwariskan berubah.
Antara Pusat yang Ideal dan Daerah yang Nyata
Negara sebenarnya tidak kekurangan regulasi. Yang kurang adalah keberanian menjaga jarak antara kewenangan dan kepentingan. Selama pusat hanya memproduksi aturan tanpa mekanisme pengawasan yang hidup, dan daerah menjalankan kewenangan tanpa transparansi substantif, meritokrasi akan selalu berada di posisi paling rapuh. Ia ada di atas kertas. Tidak selalu di lapangan.
Penutup:
Catatan yang Tidak Perlu Disimpulkan Kerusakan terbesar dalam pendidikan tidak terjadi ketika aturan dilanggar. Kerusakan terbesar terjadi ketika aturan dihormati secara formal tetapi diabaikan secara moral. Segalanya tetap berjalan. Sekolah tetap buka.
Upacara tetap berlangsung. Tidak ada yang tampak salah. Hanya satu hal yang perlahan menghilang: kepercayaan bahwa kualitas masih memiliki arti. Dan ketika para pendidik mulai kehilangan keyakinan itu, pendidikan tidak runtuh hari ini.
Ia hanya berhenti tumbuh. Diam-diam. Seperti pohon yang masih berdiri, tetapi akarnya pelan-pelan dicabut dari dalam tanah. Dan suatu hari nanti, ketika ia tumbang, kita mungkin masih bertanya: kapan sebenarnya kerusakan itu dimulai? Padahal jawabannya sederhana. Bukan saat aturan tidak ada. Melainkan saat semua orang memilih terlihat patuh, daripada sungguh-sungguh adil.
Ajibarang, 30 Maret 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia








