PURWOKERTO – Amsterdam
Perawatan paliatif kerap dipahami sebagai layanan medis khusus. Namun, dr. Raditya Bagas Wicaksono, dosen Bioetika Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), menghadirkan perspektif baru: paliatif berbasis keluarga dan kearifan lokal Indonesia.
Perspektif Baru dari Amsterdam
Dalam riset doktoralnya di University of Amsterdam (UoA), dr. Bagas menekankan pentingnya keluarga sebagai aktor utama dalam pengambilan keputusan medis.
“Budaya Indonesia menjunjung kebersamaan dan musyawarah. Nilai ini bisa menjadi fondasi layanan paliatif rumah yang lebih manusiawi,” jelasnya.
Riset Cepat, Apresiasi Tinggi
Disertasi berjudul Home Palliative Care in Indonesia: An Ethnographic Study of Family Involvement and Local Values ia selesaikan dalam 3 tahun 9 bulan—lebih cepat dari rata-rata studi doktoral di Belanda.
Sidang akhir 2025 mendapat pujian dari pembimbing dan penguji internasional lintas disiplin. Riset ini dinilai memberi kontribusi penting bagi layanan paliatif di negara berkembang.
Amanah LPDP untuk Indonesia
Sebagai penerima beasiswa LPDP, dr. Bagas berkomitmen mengembangkan program pelayanan paliatif rumah berbasis komunitas. Ia juga tengah menyusun buku panduan komunikasi sensitif budaya bagi pasien penyakit serius.
“Saya berjanji akan berkolaborasi dengan komunitas agar hasil riset ini memberi dampak nyata,” ujarnya.
Kebanggaan Unsoed
Dekan Fakultas Kedokteran Unsoed, Dr. dr. MM Rudi Prihatno, M.Kes., menyebut capaian ini bukti bahwa lulusan Unsoed mampu bersaing di tingkat global sekaligus tetap berakar pada persoalan bangsa.
“Prestasi ini menjadi kebanggaan, bukan hanya bagi dr. Bagas, tetapi juga bagi Unsoed,” katanya. (Angga Saputra)









