Rintik gerimis sempat turun menjelang pentas dagelan calung di Hetero Space, Minggu malam (15/2/2026). Namun cuaca tak menyurutkan langkah warga. Pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum berdatangan memenuhi area pertunjukan dalam rangkaian Banyumas Culture Festival.
Cerita dibuka sederhana: Suta pulang mencari rumput lalu menuju kandang kuda. Dari adegan itu, rangkaian dagelan satir penuh pesan pun mengalir. Penonton beberapa kali meledak dalam tawa saat dialog jenaka dilontarkan dengan logat Banyumasan yang khas.
Atmosfer komedi panggung ini membangkitkan nostalgia bagi generasi 90-an yang akrab dengan lenong bocah televisi, maupun generasi 2000-an dengan Opera Van Java. Di tengah arus hiburan digital, dagelan calung tetap menunjukkan karakter unik: guyonan lokal, logat ngapak, dan ritme dialog yang membuat penonton mudah terhubung.
Salah satu adegan mencuri perhatian adalah pertemuan Adipati Kutaliman dengan Suta. Guyonan ringan terasa dekat dengan keseharian, membuat tawa pecah tanpa terasa dipaksakan. Suasana makin riuh ketika sosok Ular Rangon muncul hendak memangsa putri Adipati. Adegan dramatik yang dikemas komedik itu sukses mengaduk emosi: tegang, lalu pecah oleh tawa.
“Ini bukan cuma hiburan, tapi ada pesan positif yang bisa kita ambil,” ujar Dian, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Seniman senior Tejo asal Susukan, Banjarnegara, menilai pentas ini memberi warna baru meski masih perlu penguatan tempo dan intonasi di awal adegan. Ia menyebut Sanggar Seni Samudra punya kans kuat untuk terus tumbuh mewarnai khazanah kesenian Banyumasan.
Tradisi Bertemu Kreasi Modern
Pentas berdurasi satu jam ini dimainkan delapan orang, mengangkat legenda berdirinya Baturraden—kisah cinta putri Adipati Kutaliman dengan seorang batur. Musik pengiring tak hanya calung tradisional, tapi juga berkolaborasi dengan musik modern.
“Ini yang pertama di Banyumas. Kita tetap ndagel, tapi ada benang merah ceritanya,” ungkap Tempolong.
Komedi dikemas kekinian: sentuhan stand-up hingga gaya opera, tanpa kehilangan ruh Banyumasan. Hasilnya, pertunjukan terasa segar, relevan, dan tetap membumi.
Di bawah gerimis yang sempat turun, dagelan calung “Asmara Suta” membuktikan kesenian tradisi Banyumas masih punya napas panjang. Ia bukan sekadar hiburan, melainkan ruang temu antara tawa, pesan moral, dan identitas lokal yang terus mencari bentuk baru di tengah zaman yang berubah.
Pemain & Tim Kreatif
– Yoga Tempolong – Adipati Kutaliman
– Widiyono Aming – Suta
– Kamsiah – Putri Adipati
– Setio Wibowo – Dalang/Sutradara
– Yudhiono (Bawor) & Titis Wahyudi – Prajurit
– Ucil – Prajurit
– Tuti Gunel – Istri Adipati
– Penulis naskah: Widiyono Aming.
Angga Saputra








