Empat hari pulang kampung lumayan mengasyikkan. Tidak banyak bertemu teman, hanya beberapa gelintir saja. Karena memang pulang bukan di musim libur, dan aku memilih pulang ke rumah masa kecil, di barat kota.
Hari pertama, sengaja tidak keluar kampung. Nyekar pusara anak, dan jalan kaki menyusuri lorong. Luar biasa. Semua sudah diaspal, dibeton, dikeramik, atau dipaving, tinggal sawah dan kebun saja yang belum. Nyaris semua halaman rumah sudah keras, tak menyisakan celah untuk air meresap ke tanah. Pembangunan wujud dendam kemiskinan, betapa bencinya melihat tanah becek. Sampai lupa air butuh jalan untuk kembali ke tanah.
Hari kedua, menemani anak. Kali ini pilihannya ke sebuah factory outlet di mall kebanggaan masyarakat Purwokerto, karena mall. satu-satunya. Sambil makan, melihat ke arah timur. Tampak Menara Teratai. Ah.. biasa saja. Lalu tampak pula apa itu namanya, besi lengkung penghias jembatan, besi horisontalnya sudah -atau mungkin memang sengaja dibuat- bergelombang. Merenung dan mencari sense of art, tapi tak menemukannya. Mungkin selera seniku yang aneh, tidak lagi ikut tren kekinian, yang instagramable. Hanya bermain panel dan lampu, keras dan kaku. Pikirku, jangan bermain besi kalau tidak bisa tegak, lurus, keras, seperti Belanda membangun stasiun kereta. Kalian hanya memberi celaka, karena spek teknis yang buat mainan.
Selesai makan, menemani anak membeli kebutuhan sekolah, keluar dari lobi mall tampak alun-alun dan kantor pemerintahan. Ada pedestarian, beberapa bangku taman, tentu jumlahnya jauh dari kebutuhan pengunjung. Ada air mancur -mungkin karena siang jadi airnya tak mancur-. Rumput alun-alun hijau, bagus. Cuma ada tulisan, “terima kasih untuk tidak menginjak rumput”. Public space yang kepingin dibuat indah tapi miskin keramahan kepada warga yang sekadar ingin ndeprok, berkumpul di alun-alun. Agak menunggu himbauan dari speaker yang menghalau pengunjung untuk tidak beraktifitas di rerumputan, tapi tak kunjung bunyi. Kalau bunyi, rencananya aku lihat, mulut siapa yang berani lancang kepada tuannya.
Hari ketiga, wisata hati. Curug Gomblang, Curug Bayan, terus ke timur ke arah Baturaden Adventure Forest, turun lewat Limpakuwus. Negeri ini makmur. Air dibiarkan mengalir, kalau saja dibuatkan turbin-turbin kecil, masyarakat tidak perlu membayar listrik. Tak usah diteruskan karena ini pikiran konyol. Indonesian Power masih butuh laba. Masyarakat lebih memilih membeli pipa besar dan kecil untuk mengalirkan air dari sumber terbaik ke rumah, tak peduli dengan aliran sungai dan irigasi di hilirnya. Seolah mereka yang di hulu yang paling berhak dan berkuasa. Arus sungai mengecil, tapi ketika musim hujan jadi semakin tidak terkendali karena limpasan.
Di hilir, air sungai sudah putih menguning. Karena limbah keluarga, limbah industri rumah tangga, dan limbah ternak ayam yang kandangnya tercecer, seperti tanpa kontrol otoritas formal. Subur di satu sisi, racun di sisi lain.
Sambil jalan pulang, aku hanya berfikir, inikah efek dari pembangunan. Selalu alam yang dikorbankan untuk kemakmuran manusia. Tetiba mata terantuk sebuah tugu, konon ini tugu Kudhi-Rujakpolo. Aku coba cari keduanya. Terpingkal dalam hati, mungkin karena hobi memancingku, tugu ini jadi lebih mirip Kumbul, pelampung yang sering kupakai memancing. Karya seni yang dipaksakan, dikerjakan dengan aplikasi teknik sipil. Rasa yang dikolaborasikan dengan keserakahan. Perutku melilit..
Ini hari keempat, aku memilih kembali ke tanah aku kem-Bali. Agak menyebalkan juga karena harus ke Kulonprogo. Bandara Soedirman di Purbalingga hanya beroperasi sesaat kemudian entah. Sekadar berbagi rasa sok tau, kalau saja pemerintah daerahnya serius membangun sebuah bandara, setidaknya dia harus mau berkorban di depan, membuka rute penerbangan perintis kontrak sewa dengan maskapai tertentu. Ini untuk penetrasi pasar di tiga tahun awal. Tapi ya sudahlah, tentu pemegang kebijakan lebih paham dengan bisnis penerbangan. Apalagi ketika berani membangun sebuah bandara.
Aku merenungi kampungku yang limbung, terseok, terhuyung karena jaman yang berlari sepuluh-seratus langkah di depannya. Ini bukan kemiskinan, tapi ketidakselarasan antara keyakinan dan akal..
Rangga Sujali










