BANYUMAS – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Lokawisata Baturraden mencatat pendapatan sebesar Rp6,8 miliar sepanjang tahun 2025. Meski mendekati target, capaian tersebut belum sepenuhnya memenuhi target pendapatan yang dipatok sebesar Rp7 miliar.
Kepala UPT Lokawisata Baturraden, Agus Riyanto, mengungkapkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026 mencapai 28.008 orang.
“Untuk libur Nataru, terhitung sejak 20 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, jumlah pengunjung tercatat sebanyak 28.008 orang,” ujar Agus, Selasa (6/1/2026) kepada awak media.
Secara kumulatif, jumlah kunjungan wisatawan ke Lokawisata Baturraden sepanjang 1 Januari hingga 31 Desember 2025 mencapai 277.008 orang, dengan total pendapatan sebesar Rp6.847.715.000.
“Target pendapatan tahun 2025 sebesar Rp7 miliar, realisasinya 97,82 persen,” jelasnya.
Menurut Agus, periode libur akhir tahun yang biasanya menjadi momentum puncak kunjungan wisata tidak berjalan optimal. Salah satu penyebab utamanya adalah faktor cuaca.
“Hampir sepekan terakhir hujan turun sejak siang hari. Kondisi cuaca ini sangat berpengaruh terhadap minat kunjungan wisatawan,” katanya.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, puncak kunjungan wisata saat libur Nataru mengalami penurunan. Pada tahun lalu, jumlah pengunjung harian bisa mencapai 4.000 orang, sedangkan pada libur akhir tahun ini hanya berkisar 3.000 orang.
Selain faktor cuaca, penurunan kunjungan juga dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah destinasi wisata baru di kawasan Baturraden dan sekitarnya.
“Saat ini ada sekitar 38 objek wisata di wilayah Baturraden dan sekitarnya. Lokawisata Baturraden bukan lagi satu-satunya tujuan utama,” ujar Agus.
Meski kawasan Baturraden secara umum tetap ramai, kondisi tersebut berdampak langsung pada jumlah kunjungan ke Lokawisata Baturraden.
Selama libur akhir tahun, pengelola juga telah menaikkan tarif tiket masuk menjadi Rp25 ribu per orang sejak 20 Desember 2025. Harga tersebut sudah termasuk akses ke berbagai fasilitas, seperti kolam renang, water boom, pemandian air panas, sepeda air, hingga Taman Sendang Mulya.
Namun, kenaikan tarif belum mampu menutup penurunan jumlah kunjungan. Pengelola juga mencatat adanya perubahan pola wisatawan, terutama berkurangnya kunjungan rombongan pelajar.
“Kami kehilangan pasar rombongan dari SD, SMP hingga perguruan tinggi yang biasanya datang dalam jumlah besar. Kondisi ini dipengaruhi oleh libur sekolah pada Juli 2025,” pungkasnya. (Angga Saputra)










