INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

DEKADENSI PENDIDIKAN KITA

KKN HUTAN KITA

Prof Yudhie Haryono PhD

Minggu, 29 Juni 2025

Prof Yudhie Haryono PhD
CEO Nusantara Centre

Kita bertanya-tanya, “kenapa makin banyak sarjana kita (produk lokal maupun asing) tidak serta merta membuat posisi Indonesia bermartabat di dunia?” Bahkan, dalam beberapa hal kita makin tak sejahtera dan sentosa. Di mana pokok soalnya dan kita harus bagaimana, ini yang mau kita diskusikan.

Menurut BPS, jumlah sarjana kita per Desember 2024 adalah 12.091.571 jiwa. Jumlah ini meningkat setiap tahunnya. Tentu ini jumlah yang besar walau belum signifikan dibanding jumlah seluruh penduduk. Apalagi jika dibandingkan dengan negara tetangga.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Padahal, konstitusi kita bicara tegas soal kewajiban pemerintah untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Satu perintah yang diterjemahkan dalam pasal 31 ayat (1)Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Lalu, ayat (4)Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk memenuhi hak pendidikan.

Ini menunjukkan bahwa konstitusi kita sangat pro-pendidikan. Semua soal pendidikan merupakan kewajiban negara sekaligus hak fundamental yang harus diakses oleh setiap warga negara tanpa memandang latar belakang, ekonomi, sosial, maupun geografisnya.

Namun, terdapat kesenjangan besar antara janji konstitusi dan realitas pendidikan di Indonesia. Banyak anak-anak dari keluarga kurang mampu yang masih kesulitan mengakses pendidikan berkualitas karena berbagai hambatan, seperti kurikulum yang anti Indonesia, SDM guru yang feodal, biaya besar tak terjangkau dan akses yang tidak maksimal.

Hal tersebut mengakibatkan projek pendidikan kita terutama di daerah terpencil masih menjadi problema besar karena kurangnya fasilitas pendidikan, SDM rendah dan minus dukungan teknologi; jurang perbedaan kualitas pendidikan di pedalaman dibandingkan dengan perkotaan yang makin lebar; alokasi anggaran pendidikan yang besar tetapi kurang efektif karena masalah birokrasi dan KKN; kurikulum yang sering berubah tanpa evaluasi mendalam, kritis dan adaptif.

Untuk mengatasi problemaa ini, pemerintah dan warga negara harus bekolaborasi untuk memastikan bahwa pendidikan di Indonesia adalah realisasi dari janji proklamasi guna mencetak patriot negara yang merdeka, mandiri, modern dan martabatif (4M). Inilah profil sarjana kita. Inilah produk dan cita-cita besar kita dalam berpendidikan dan berpengajaran.

Harus diakui bahwa negara kita, Indonesia yang kita warisi dan tinggali ini tidak seindah dan seperti yang diharapkan. Sayangnya, kita selalu ingin menggambarkan republik kita ini secara mutlak, adil, pasti, bersatu, rapi dan indah laksana sorga di bumi. Padahal das sollen tidak serta merta menjadi das sein.

Kita bisa menyebutnya sebagai republik paradoks dan negeri kontradiktif. Dari hipotesa ini kita menemukan beberapa fakta riil di lapangan: 1)Negeri kaya, tetapi banyak rakyat miskin; 2)Elite beragama, tetapi KKNnya mentradisi; 3Negara penuh rumah ibadah, tetapi banjir kemaksiatan; 4)Pemerintahan pancasila, tetapi membela oligarki hitam; 5)Konstitusi sempurna, tetapi banyak peraturannya mencekik warga negara.

Selanjutnya kita juga menemukan yang ke-6)Banyak warganegara pinter dan moralis, tetapi banyak pejabatnya maling dan pencopet; 7)Banyak polisi, jaksa dan hakim, tetapi penjahat makin banjir; 8)Yang jenius jadi oposisi, yang jahiliyah jadi pejabat; 9)Sarjana banyak, tetapi banyak pejabatnya tak berijasah.

Republik paradok ini pasti tidak mudah diatasi. Hanya lewat pendidikan Indonesialah, problema itu harus dipecahkan serta ditemukan obat plus solusinya. Dan, dalam berbagai kesempatan, kepala negara kita sudah sering sampaikan. Tentu agar Indonesia segera menjadi mercusuar dunia.

Presiden mengungkapkan bahwa tidak ada negara yang bisa mencapai kesejahteraan dan kemajuan tanpa pendidikan yang bermutu. Lalu, ia menegaskan bahwa kunci utama untuk membangun kemandirian nasional di berbagai sektor strategis adalah melalui pendidikan yang berkualitas dunia. Penegasan tersebut disampaikannya saat memimpin rapat terbatas bersama jajaran menteri Kabinet Merah Putih di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Senin, 23 Juni 2025.

Pesan dan perintahnya jelas. Pendidikan dan pengajaran itu kunci. Semoga agensi dan para mentrinya paham dan merealisasikan segera.(*)

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Juru Parkir Tak Beratribut dan Tanpa Karcis, Praktik Parkir Liar yang Masih Saja Belum Tertib

Selanjutnya

Polresta Banyumas Gelar Pemeriksaan Mata Gratis Sambut Hari Bhayangkara Ke-79

Eric Erlangga: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1447H

TERBARU

Kita Ramai Bicara, Sedikit Membaca 

TANDA PETIK ITU

Kamis, 12 Maret 2026

Mahasiswa PBI UMP Ikuti Student Mobility di Malaysia

Mahasiswa PBI UMP Ikuti Student Mobility di Malaysia

Kamis, 12 Maret 2026

LPHKHT Muhammadiyah dan Sentra Halal UMP Audit Halal RPU di Banyumas

LPHKHT Muhammadiyah dan Sentra Halal UMP Audit Halal RPU di Banyumas

Kamis, 12 Maret 2026

POPULER BULAN INI

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Minggu, 22 Februari 2026

Rp3,3 Miliar Ditolak, PT AKAS Gugat Tender Parkir GOR Satria

Rp3,3 Miliar Ditolak, PT AKAS Gugat Tender Parkir GOR Satria

Senin, 23 Februari 2026

SMPN 10 Purwokerto Minta Ganti Dapur MBG, FMP2M Soroti Menu Monoton dan Dugaan Selisih Anggaran

SMPN 10 Purwokerto Minta Ganti Dapur MBG, FMP2M Soroti Menu Monoton dan Dugaan Selisih Anggaran

Selasa, 3 Maret 2026

Selanjutnya
Polresta Banyumas Gelar Pemeriksaan Mata Gratis Sambut Hari Bhayangkara Ke-79

Polresta Banyumas Gelar Pemeriksaan Mata Gratis Sambut Hari Bhayangkara Ke-79

PN Banyumas Tolak Dakwaan, Kades Suro Dibebaskan

PN Banyumas Tolak Dakwaan, Kades Suro Dibebaskan

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com