Prof Yudhie Haryono PhD
Penulis Buku Nusantara Studies
Selamat tahun baru. Kami di lembaga Persaudaraan Matahari mengawali tahun 2024 ini dengan membahas genealogi konglomerat di Asia via karya Joe Studwell. Tema ini penting karena dua hal. Pertama, bagaimana terciptanya komunitas epistemik mereka dalam kisah republik Indonesia. Kedua, bagaimana mereka terlibat dalam tensi politik negara dan apa akibatnya.
Ya. Orang kaya itu banyak. Tetapi kaya, berpengaruh dan berkuasa itu berbeda dan sedikit. Karena riset pada mereka itulah, Joe ini keren. Sebab, ia mampu menulis beragam sisi kehidupan orang kaya (konglomerat); kaya berkuasa (godfathers/mafia); berkuasa berjejaring (oligarkis) yang kebanyakan berdarah China serta asal-muasal kekayaannya dengan sangat rinci dan detil. Kita seperti membaca cerpen yang menghibur dan informatif.
Kita tahu, istilah konglomerat yang menjadi konglomerasi digunakan untuk menggambarkan situasi satu perusahaan atau kelompok entitas yang memiliki berbagai jenis bisnis atau usaha yang berbeda, lalu semuanya dikelola dan dikendalikan oleh entitas yang sama. Di kita, konglomerat memang tidak selalu konglomerasi, lalu jadi mafia, lalu jadi oligark.
Riset dan hasil kajian Joe keren karena ia jurnalis yang pernah tinggal di Hong Kong dan Beijing selama sepuluh tahun. Tentu, waktu yang cukup untuk menulis beberapa buku tentang China (bestseller): Unlocking China: a Key to Investment Regions; Multinationals in China: Winners and Losers; dan Operating in China: a Survivor’s Manual. Pada 2002, karyanya yang dahsyat, The China Dream: the Quest for the Greatest Untapped Marketon Earth, dll.
Buku-buku dan karyanya juga forum-forumnya kemudian merangsang munculnya kembali perbincangan ihwal hakikat pasar China, konglomerat China, diaspora China, mental dan karakter China dan keajaiban ekopol China mutakhir plus konglomerasi (oligarki, godfathers, genk) dll.
Joe Studwell menyatakan bahwa mengungkap jejak konglomerasi yang tumbuh dan menjadi epistemik godfathers di Asia, sama sekali bukan sesuatu yang misterius. Kita tidak perlu membawa analisa budaya, genetika, atau hal rumit agar memahaminya. Sebab, kinerja mereka sederhana: sogok dan sikat.
So, jejak 70 tahun godfathers di kita selalu merupakan patronase peng-peng (elite politik memberikan kepada elite ekonomi konsesi monopoli-oligopoli pasar). Mereka selalu bukan lahir dari ekonomi natural yang panjang, dan bukan pula dari proses naik kelas: dari low class ke middle class dan berujung ke ruling class.
Di buku berjudul Asian Godfathers, Joe melukiskan tradisi paternalisme, kekuatan lelaki, superioritas dan aura mistis para cukong Asia saat membangun kerajaan bisnisnya. Bukunya menyajikan banyak informasi tentang proyek bisnis para godfather, jaringannya juga kehidupan seks mereka. Mungkin, bab seks ini membuatnya menjadi buku laris.
Ya. Dalam studi genealogis konglomerasi di kita, sebenarnya para godfather hanyalah parasit. Mereka memperoleh monopoli akses yang menguntungkan melalui KKN beserta kroni-kroni politiknya. Kita bisa menyebutnya dengan “kapitalisme rentier” yang menyuburkan praktik ekonomi untuk memperoleh keuntungan besar tanpa memberikan kontribusi kepada negara dan rakyatnya.
Dus, secara keseluruhan mereka besar karena melayani kepentingan ekopol para elitenya. Mereka sesungguhnya babu pada awalnya sehingga mendapatkan modal ekopol personal yang besar dari hubungan tersebut. Akibatnya, mereka tidak banyak memberikan kemajuan ekonomi secara keseluruhan pada negara.
Jika merujuk pada buku Case & Fair (2008), yang mengelompokkan struktur pasar menjadi empat jenis, yaitu; pasar persaingan sempurna, pasar monopoli, pasar persaingan monopolistik, dan pasar oligopoli, maka para konglomerat kita hanya berputar-putar pada pasar monopoli dan oligopoli, serta anti pasar persaingan sempurna. Begitu dominannta mereka, kini pasar politikpun dimonopoli mereka. Kuasa monopoli makin sempurna setelah konstitusi asli diganti.
Singkatnya, dalam konteks negara Indonesia, godfathers dan oligark ini tidak punya rancang bangun pada pelembagaan politik nasional apalagi institusionalisasi yang kuat. Akibatnya, mereka beberapa kali mengalami kehancuran dan pengusiran (diaspora). Anehnya, hal ini sering berulang walau mereka tahu dari sejarah.







