Prof. Yudhie Haryono PhD
Presidium Forum Negarawan
Ia menyebut dirinya “panglima tipsani” (tipu sana tipu sini). Di kaosnya ditulis, “aku menipu maka aku ada.” Maksudnya ia mengada dan ada dengan pekerjaan maha mulia: menipu siapa saja termasuk diri dan istrinya. Tapi sesungguhnya para kawan dan handaitolan memanggilnya “bapak pengkhianat reformasi.”
Pagi tempe sore keledai, itulah prinsip hidupnya. Ia menyempal dari kaidah umum warganegara: korupsi adalah agama kami. Sebab kaidahnya adalah kkn tiap tempat dan waktu. Tanpa jeda. Apalagi pertobatan agung.
Di negeri ini, kalian tidak akan pernah tahu dan tak mau tahu betapa banyak ilmuwan mencintai kebenaran dan ketulusan. Mereka melukis dengan dahsyat negerinya. Mereka mempuisikan dengan banyak kekaguman. Mereka melagukan dengan milyaran lagu cinta hingga kita tak tahu lagi harus membayangkan negerinya seperti apa lagi
karena bagi mereka, indonesia itu sempurna.
Tapi sepuluh tahun ini kalian meninggalkan mereka kedinginan dan kesakitan. Kalian memilih penipu dan bersekutu dengannya menitipkan kesakitan yang abadi bagi semua warganya. Lalu, para penipu dan maling itu duduk manis ngopi di samudra istana.
Kalian membiarkan aku menjadi batu di sudut meja, yang hanya mampu menangisi kerinduan yang tak terucapkan dengan kalimat terang. Kalian jahat. Seperti Tuhan yang kirim ujian tak sudah-sudah.
Memang sih. Ruang revolusi itu selalu ada. Tidak pernah berpindah waktu dan tempat. Namun, kita lebih sering berada di waktu dan tempat lain, habiskan kebingungan untuk kesedihan yang harusnya sudah habis ditelan zaman terkutuk.
Ya. Bertrilyun detik aku hibahkan waktuku untuk merumuskan nusantara studies. Bermilyar menit aku wakafkan kejeniusanku untuk menuliskan teorama psikohermenetika. Berjuta jam aku hadiahkan tulisan, riset dan buku-buku tentang mental kolonial dan ekopol pancasila. Tetapi yang kuterima balasan keacuhan pembaca dan kecongkakan warganegara Indonesia serta kebencian elitenya.
Kasih, kini kuberikan jiwa ragaku buatmu. Tetapi kamu tuli, buta dan budek juga. Maka, kepariaan ini harus diakhiri. Merdeka atau mati. Menang, juara atau bayi kembali.(*)






