BANYUMAS – Mencuat wacana kemungkinan penggeseran lokasi monumen pesawat dan tank yang berada di Alun-alun Banyumas. Sebab dinilai mengaburkan sejarah dan filosofi kota tradisional jawa.
Wacana tersebut muncul dalam rapat koordinasi pendahuluan penyusunan masterplan Kota Lama Banyumas yang digelar secara teleconference.
Melibatkan OPD, akademisi, budayawan, komunitas, tim kajian cagar budaya, lengger Rianto dan lainnya.
“Revolusi Banyumas bukan berarti menghilangkan atau meniadakan yang sudah ada. Pesawat dan tank tetap diakomodasi,” terang Ketua Tim Kajian Cagar Budaya Kabupaten Banyumas Sidem Tetuko, Kamis (26/8).
Kemungkinan digesernya pesawat dan tank sebagai konsekuensi mengembalikan filosofi alun-alun. Yakni sebagaimana keberadaannya dulu dalam tatanan Banyumas.
Oleh karena itu, dalam pendahuluan penyusunan masterplan Kota Lama Banyumas dipaparkan kawasan sakral. Bahwa telah terjadi pengaburan nilai-nilai tradisi suci. Sehingga hilang nuansa sejarahnya.
Kondisi riil Alun-alun Banyumas saat ini sudah seperti lapangan biasa. Ditambah keberadaan pedagang kaki lima yang cenderung mendominasi.
Hari, selaku Ketua Lempengparimas menyambut baik babak baru Kota Lama Banyumas. Sebab sudah dinantikan sejak dulu.
“Akhirnya, kita sampai pada masterplan Kota Lama Banyumas yang ditunggu-tunggu. Seyogyanya, Alun-alun Banyumas difungsikan sebagaimana mestinya,” kata Hari dalam streaming di komplek Kantor Kecamatan Banyumas.
Wacana penggeseran monumen pesawat dan tank dinilai dapat memecah keramaian Alun-alun Banyumas yang selama ini terjadi. Sebelum pandemi, terutama malam Minggu, alun-alun ramai sekali. (fij)






