PURWOKERTO – Panggung seni seakan direnggut pandemi. Rasanya ini berlaku untuk semua pentas seni yang ada. Setahun setengah sudah panggungnya ‘diambil alih’.
Salah satu seniman, Sriyono (65) yang juga sebagai ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Banyumas tak menampik soal dampak pandemi pada panggung seni.
“Dari curhatan teman-teman seniman dalang, pengrawit, sinden, bahkan juga yang menyewakan soundsistem, memang menjerit,” kata dia.
Tak sedikit dari mereka yang banting setir karena harus menyukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Banyak yang memang sebelumnya benar-benar hanya terjun pada dunia seni ini. Sehingga, ketika seperti sekarang saat sama sekali tidak ada panggung pentas, maka sangat terasa sekali.
“Banyak teman seniman yang adol wayang, juga sebagian perangkat gamelan. Itu saya rasakan sekali dan saya tahu,” tuturnya.
Ada upaya untuk menghidupkan kembali gairah seni ini dengan cara live streaming. Namun menurutnya, itu juga tak pasti sebulan sekali.
“Kalau dulu, untuk dalang Banyumas, terutama yang sudah dapat tempat di hati masyarakat. Bisa dikatakan sering. Ada beberapa pengrawit lebih dari 20 kali dalam sebulan. Seniman dalang ada yang 15 kali ada yang 20 kali,” tuturnya.
Kini, lanjut dia, nasib seniman Banyumas cukup memprihatinkan. Ada juga yang alih profesi, seperti menjadi pedagang. Ada pula yang jadi pedagang keliling.
“Ada juga ikut kerja di bangunan, ikut bantu-bantu. Adanya itu ya mau tidak mau ya harus mau. Cukup memprihatinkan. Tapi kita tidak sendiri. Sambat begitu juga saya dengar dari seniman se-nusantara,” tuturnya.
Sejak pandemi ini, sama sekali tak ada pentas. Ia katakan, pernah ada orang yang hendak menyelenggarakan wayangan, namun dibubarkan. Sejak itu tidak ada lagi.
“Kalau ada kegiatan begitu, saya biasanya dapat tembusan. Ada pemberitahuan. Namun sejauh ini, tidak ada. Blas sama sekali. Tidak ada pagelaran. Karena resiko,” tuturnya.
Ia berharap, kepada Pemerintah Daerah, BUMN dan BUMD agar ada semacam kegiatan seni meskipun diselenggarakan secara streamig.
“Dengan streaming. Kan tidak berkerumun. Bisa diatur prokesnya. Kegiatan ini untuk menyambung hidup. Apalagi ini PPKM diperpanjang lagi. Maka semakin memprihatinkan. Saya tidak menutup mata, Pemda juga pusing dalam menangani covid,” tandasnya.
Wakil Bupati Banyumas Drs Sadewo Tri Lastiono yang juga ketua Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas mengatakan keputusan pusat Banyumas masih masuk level 4. Namun menurutnya, kalau secara data maksimal ada pada level 3. Yang semestinya bisa untuk dilonggarkan.
“Untuk seniman ini sebelum saya kena covid, saya sudah diskusi dengan forkompinda. Jadi mau diwadahi di Gedung Sutedja,” katanya.
Nantinya, pentas akan menggunakan streaming. Ada batasan orang dan dengan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. “Namun saat pembahasan, saya kena covid. Besok akan coba lagi dibahas,” tuturnya.
Namun, lanjut dia, memang dalam situasi ini, seniman dituntut untuk kreatif dalam menyikapi kondisi pandemi.
Sementara itu, Kepala Dinporabudpar Banyumas, Asis Kusumandani mengatakan kalau untuk Gedung Sutedja untuk prokes sangat siap.
“Memang sedang direncanakan itu hanya pengambilan gambar. Atau video. Setidaknya ada kegiatan. Yang jelas Sutedja penunjang prokes siap. Tempat luas. Sirkulasi udara memungkinan,” tandasnya. (mhd)






