PURWOKERTO – Adanya kenaikan indeks harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran, seperti kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,07 persen.
Kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,05 persen. Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumahtangga sebesar 0,16 persen.
Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,24 persen. Kelompok kesehatan sebesar 0,10 persen.
Kelompok transportasi sebesar 0,20 persen. Kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,05 persen. Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,02 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,02 persen. Dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,31 persen.
“Membuat Kota Purwokerto alami inflasi sebesar 0,09 persen pada bulan Juli, disebabkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,48 pada Juni 2021 menjadi 105,58 pada Juli,” kata Darmadi, Kasi Statistik dan Distribusi BPS Purwokerto kepada Radarbanyumas.co.id, Senin (2/8).
Sedangkan kelompok pendidikan menjadi
satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi yaitu sebesar 0,42 persen.
Darmadi melanjutkan, penyebab utama inflasi dikarenakan adanya kenaikan harga cabai rawit shampo, bawang merah, bimbingan belajar, mobil, cabai merah, jeruk, sawi putih atau pecay atau petsai, rokok kretek filter, baja ringan, labu siam atau jipang, kopi bubuk, kangkung, sawi hijau, nangka muda, rokok putih, kontrak rumah, dan alpukat.
Dimana adanya PPKM Darurat hingga PPKM level 4 yang memberikan dampak terhadap naiknya harga tersebut.
“Kalau dampak langsung sepertinya terhadap transportasi, komoditas yang harus didatangkan dari luar daerah misalnya cabe rawit yan menunjukkan kenaikan harga tertinggi di penghitungan inflasi bukan juli ini,” jelasnya.
Sementara itu, dari 6 Kota yang diamati perkembangan harganya di Jawa Tengah, Darmadi menerangkan, terdapat 5 kota mengalami inflasi dan 1 kota mengalami deflasi.
“Inflasi tertinggi terjadi di Kota Surakarta sebesar 0,23 persen, kota Purwokerto kedua sebesar 0,09 persen, Kota Tegal sebesar 0,08 persen, Kota Cilacap sebesar 0,06 dan terendah terjadi di Kota Semarang sebesar 0,05 persen. Lalu Kota Kudus menjadi satu-satunya kota yang mengalami deflasi sebesar 0,10 persen,” pungkasnya. (win)






