BANYUMAS — Sebanyak 50 ribu orang di Jawa Tengah diestimasi terjangkit HIV. Angka tersebut menjadi perhatian serius dalam Pertemuan Daerah Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah Tahun 2026 yang berlangsung di Casa De Lani Resort, Baturraden, 22-23 September 2026.
Data yang disampaikan dalam forum tersebut menunjukkan penanggulangan HIV-AIDS membutuhkan penanganan berkelanjutan dan melibatkan berbagai sektor. Tidak hanya soal deteksi dini dan akses pengobatan, tetapi juga persoalan pasien putus berobat, layanan lintas wilayah, stigma sosial, hingga pendampingan bagi kelompok yang membutuhkan.
Pasien Putus Berobat Jadi Tantangan Utama
Sekretaris KPA Kabupaten Banyumas H. Suwondo menyampaikan, dari estimasi 50 ribu orang terjangkit HIV di Jawa Tengah, sejumlah persoalan masih menjadi tantangan. Salah satunya adalah pasien yang putus berobat.
“Tidak dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan semata. Diperlukan forum komunikasi regional untuk memecahkan sekat-sekat sektoral demi merumuskan strategi penanganan yang inklusif, humanis, dan tepat sasaran menuju Ending AIDS 2030,” jelas Suwondo.
Menurutnya, pertemuan daerah ini menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan menyusun strategi bersama. Forum juga menjadi wadah menyepakati strategi penanganan pasien putus berobat dan kasus lintas wilayah, memperkuat jejaring layanan HIV antarkabupaten/kota maupun dengan daerah di luar Jawa Tengah, meningkatkan deteksi dini dan perluasan akses pengobatan, serta memperkuat pendampingan sosial melalui pekerja sosial dan komunitas.
HIV Tidak Mengenal Batas Wilayah Administrasi
Wakil Bupati Banyumas Dwi Asih Lintarti yang membuka pertemuan tersebut menegaskan, dengan estimasi 50 ribu orang terjangkit HIV, koordinasi lintas wilayah menjadi sangat penting.
“Apalagi HIV tidak mengenal batas wilayah administrasi. Koordinasi antar kabupaten dan antar kota menjadi sangat penting. Saya berharap melalui forum ini jejaring KPA se-Jawa Tengah semakin kuat,” katanya.
Lintarti menyampaikan apresiasi kepada seluruh KPA kabupaten/kota se-Jawa Tengah yang terus menjaga semangat, koordinasi, dan komitmen dalam upaya penanggulangan HIV-AIDS.
“Pekerjaan kita masih panjang. Tantangannya bukan hanya bagaimana melakukan deteksi dini dan memastikan akses pengobatan, tetapi juga pasien yang putus berobat, koordinasi lintas wilayah, pendampingan, serta masih adanya stigma dan diskriminasi di tengah masyarakat,” ujarnya.
Stigma dan Diskriminasi Masih Jadi Hambatan
Dengan jumlah estimasi yang mencapai 50 ribu orang, Lintarti menekankan penanggulangan HIV-AIDS tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan, rumah sakit, maupun puskesmas. Pemerintah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, komunitas, keluarga, hingga masyarakat secara luas.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mencegah penularan, meningkatkan kesadaran masyarakat, mendorong deteksi dini, memastikan keberlanjutan pengobatan, sekaligus mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV.
“Upaya tersebut diperlukan agar orang dengan HIV tidak hanya mendapatkan layanan kesehatan yang baik, tetapi juga tetap menjalani kehidupan secara produktif serta diperlakukan secara manusiawi dan bermanfaat,” tambahnya.
Lintas Sektor dan Lintas Daerah
Pertemuan Daerah KPA Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah Tahun 2026 diikuti perwakilan KPA kabupaten/kota di Jawa Tengah serta sejumlah KPA dari luar Jawa Tengah. Peserta melibatkan unsur pemerintah daerah, organisasi perangkat daerah terkait, dan fasilitas pelayanan kesehatan yang memberikan layanan HIV.
Rangkaian kegiatan meliputi pembukaan, talkshow, serta forum diskusi yang melibatkan Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Sentra Satria, dan unsur KPA. Melalui forum tersebut, peserta diharapkan dapat memperkuat koordinasi serta merumuskan langkah tindak lanjut dalam penanggulangan HIV-AIDS di Jawa Tengah.
Dengan estimasi 50 ribu orang terjangkit HIV di Jawa Tengah, Ending AIDS 2030 menjadi target yang menuntut kerja bersama lintas sektor, lintas wilayah, dan lintas komunitas.
Pewarta : Yoga Cokro
Editor : Angga Saputra







