PURWOKERTO – Wakil Bupati Banyumas Dwi Asih Lintarti bersama Kepala OJK Purwokerto Haramain Billady membuka Training of Trainers (ToT) Penyuluh Agama Islam se Jawa Tengah dan DIY di Aula Kantor OJK Purwokerto, Rabu (18/2/2026). Kegiatan ini menjadi momentum peluncuran Gerak Syariah 2026, program masif peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah di wilayah Jateng dan DIY.
Haramain mengungkapkan fakta mengejutkan dari hasil survei terkini. Meskipun perbankan syariah nasional menunjukkan pertumbuhan positif dengan masuknya sejumlah bank syariah dalam 10 besar bank nasional, tingkat literasi keuangan syariah masyarakat baru mencapai 45 persen. Angka ini jauh tertinggal dari literasi keuangan konvensional yang sudah menyentuh 60 persen.
“Yang lebih memprihatinkan, indeks inklusi atau tingkat penggunaan produk keuangan syariah masih belasan persen. Padahal inklusi keuangan umum sudah mencapai 80 persen,” ungkap Haramain di hadapan puluhan penyuluh agama.
Kesenjangan ini menjadi perhatian serius OJK. Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan syariah disebut sebagai celah maraknya kasus penipuan dan praktik scam. Untuk itu, OJK menggandeng penyuluh agama sebagai ujung tombak edukasi di masyarakat.
“OJK tidak bisa bergerak sendirian. Kami butuh bantuan bapak dan ibu sebagai tokoh yang bertemu langsung dengan masyarakat untuk mendorong pertumbuhan keuangan syariah sekaligus meminimalisir korban penipuan,” tegasnya.
Wakil Bupati Banyumas Lintarti menyambut baik kolaborasi strategis ini. Menurutnya, pesatnya perkembangan layanan keuangan digital ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi memudahkan akses, namun di sisi lain menjerat masyarakat dalam pinjaman ilegal dan edukasi keuangan yang menyesatkan.
“Penyuluh agama memiliki peran sentral sebagai sosok yang dipercaya masyarakat. Pesan-pesan yang disampaikan memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku ekonomi warga, hingga ke pelosok desa,” ujar Lintarti.
Dalam kesempatan itu, orang nomor dua di Banyumas ini meminta para penyuluh untuk menyampaikan materi keuangan syariah dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya edukasi pengelolaan keuangan keluarga agar warga terhindar dari gaya hidup konsumtif.
“Literasi keuangan harus menjadi fondasi kekuatan ekonomi keluarga. Dengan berjalan bersama antara pemda, OJK, dan penyuluh, kita bangun ketahanan ekonomi masyarakat dari tingkat paling bawah,” pungkasnya.
Sepanjang 2025, OJK mencatat telah melaksanakan sekitar 115 kegiatan edukasi. Gerak Syariah 2026 akan semakin massif dengan melibatkan para penyuluh agama dan berbagai komunitas.
Program ini akan dimeriahkan sejumlah lomba, mulai dari lomba kultum keuangan syariah, lomba reels Instagram, lomba seni hadroh, hingga pemilihan penyuluh agama terbaik. (Redaksi)







